00 – Go And Tell

Lalu apa yang selanjutnya Yesus lakukan? Di sini kita melihat bahwa Yesus menolong perempuan ini untuk membereskan masalahnya dengan berkata, “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini,” (ayat 16). Yesus tidak bertele-tele, tetapi Ia langsung pada akar masalahnya, sehingga perempuan ini mengaku dosa secara jujur, “Aku tidak mempunyai suami,” (ayat 17a). Yesus tidak menuduh perempuan ini sebagai pendusta, tetapi Ia hanya berkata kepadanya, “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar,” (ayat 17b-18). Luar biasa cara Yesus membangkitkan harapan di dalam diri perempuan ini dengan memuji dia bahwa “Engkau berkata benar.” Kita yang melayani orang-orang yang membutuhkan pemulihan dapat menggunakan cara pelayanan yang digunakan oleh Yesus ini, yaitu memberikan harapan dan semangat, bukan menghakimi hal-hal yang negatif. Apa dampaknya? Perempuan ini mengakui Yesus dengan berkata, “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah,”(ayat 19-20). Inilah pewahyuan luar biasa bagi segala generasi untuk mengenal Allah, ketika Yesus berkata, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran,”(ayat 21-24). Perempuan ini membuat hati Yesus tergerak untuk membuka tabir bagi segala generasi yang akan datang untuk bagaimana mereka dapat menyembah Allah di dalam roh dan kebenaran.

Apa yang terjadi selanjutnya? Perempuan ini mulai mengakui kebutuhan pribadinya akan Juru Selamat yang akan datang dengan berkata, “Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami,” (ayat 25). Respon Yesus atas pengakuan yang luar biasa dari perempuan Samaria ini adalah, “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau,” (ayat 26). Pernyataan Yesus bahwa Ia adalah Mesias merupakan kedua kalinya setelah Ia menyatakan hal yang sama kepada Petrus dalam Matius 16:16-19). Mari kita lihat respon berikutnya yang luar biasa dari perempuan ini, “Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota,” (ayat 28). Perempuan ini tidak perlu waktu dan persiapan yang lama untuk menjadi pemberita kebenaran. Sebab, kebenaran telah memerdekakan dirinya sehingga ia kembali ke kota. Hati perempuan ini membara karena sukacita yang ia temukan dalam percakapan dengan Mesias Yahudi itu, maka ia membagikan apa yang sedang meluap-luap di hatinya itu. Tanpa harus belajar ilmu teologia yang rumit, perempuan ini pergi ke kota dan berkata pada orang-orang yang di situ, “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?”(ayat 29).

PERGI DAN CERITAKAN. Itulah yang dilakukan oleh perempuan Samaria yang tidak tercantum namanya dalam kisah ini. Dengan segera Yohanes melukiskan hasil luar biasa yang dicapai oleh perempuan Samaria ini, “Maka mereka pun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus,” (ayat 30). Orang banyak dari kota, baik laki-laki dan perempuan serta anak-anak yang datang kepada Yesus karena pemberitaan perempuan ini. Orang banyak dari orang dari kota yang datang kepada Yesus pun menemukan apa yang telah mereka, yaitu keselamatan yang kekal. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya,” (ayat 34). Dikatakan selanjutnya, “Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi, ‘Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat,'”(ayat 39).

Kita tidak perlu berdebat tentang siapa yang memenangkan orang-orang itu, karena Roh Kuduslah yang membuat hati orang-orang yang mendengar kesaksian kita untuk dapat bertobat. Lihat, bagaimana Yohanes menulis pernyataan orang-orang di kota itu, “…mereka berkata kepada perempuan itu, ‘Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia,’” (ayat 42). Ini berarti, bukanlah tugas kita untuk memaksa seseorang bertobat, tetapi Allahlah yang membuat hati mereka yang mendengar kesaksian kita untuk bertobat. Lalu apa tugas kita? Tugas kita adalah pergi dan ceritakan. Ingat, Yesus telah memberikan janji yang sama kepada kita, “Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita,”(ayat 35-36).

Pergi dan ceritakan, hari ini juga.

2014-05-30T06:32:47+07:00