01/01/19

Selasa, 1/1/2019

  • Bacaan: Kejadian 1-3; Matius 1-3
  • Bacalah pasal-pasal ini di dalam hadirat Kristus; mintalah tuntunan Roh Kudus agar kita dapat mengerti gambar besar dari isi pasal-pasal yang dibaca.

 

Pendalaman PL: Kejadian 1:26-28; 3:15,21

  1. Sesuai dengan rupa dan gambar siapakah Allah menciptakan manusia? Apakah tujuan Allah menciptakan manusia? Mengapa bumi perlu ditaklukkan? Bagaimanakah caranya agar manusia dapat menaklukkan bumi? (Kej. 1:26-28)
  2. Hal apakah yang akan terjadi antara ular dan keturunan Hawa setelah manusia jatuh ke dalam dosa? (Kej. 3:15)
  3. Apa yang Tuhan berikan kepada manusia setelah mereka jatuh ke dalam dosa? (Kej. 3:21)

 

Renungan PL:

Allah menciptakan manusia serupa dan segambar dengan Dia. Salah satu artinya ialah bahwa manusia memiliki kemampuan moral seperti Allah, yang adalah kasih dan benar. Manusia diciptakan dengan potensi membangun hubungan kasih dalam kebenaran. Manusia mampu mempraktikan gaya hidup “kita” (komunitas) yang sempurna, seperti yang dihidupi oleh ketiga pribadi Allah Tritunggal.

 

Tujuan utama Allah menciptakan manusia menurut rupa dan gambar Allah adalah agar manusia berkuasa dan menaklukkan bumi. Siapa sebenarnya yang ditaklukkan? Tentu sebelum dunia dijadikan, dalam kemahatahuan-Nya, Allah mengetahui bahwa salah satu penghulu malaikat akan memberontak dan jatuh. Ia menjadi Iblis. Iblis itulah yang menghadirkan kerajaan gelap yang menguasai dan merusak bumi. Karena kerajaan kegelapan berkuasa di bumi, Allah memberikan mandat kepada manusia untuk menaklukkan kerajaan kegelapan serta menghadirkan dan memperluas Kerajaan Allah di bumi. Manusia akan berkuasa dan akan mampu untuk menaklukkan bumi jika mereka hidup dalam gaya hidup Sang Pencipta, yaitu gaya hidup saling mengasihi dan gaya hidup yang benar.

 

Bahkan, bukan hanya manusia akan menaklukkan kerajaan gelap, tetapi manusia juga akan membawa “wilayah” Kerajaan Allah diperlebar sampai memenuhi seluruh bumi. Kedua hal ini memang perlu dilaksanakan berdasarkan amanat/mandat Allah. Bagaimanakah caranya? Satu-satunya cara adalah melalui mandat ilahi, yang prosesnya adalah beranak cucu, bertambah banyak, memenuhi bumi, dan menaklukkan bumi. Memang, pada perkembangannya manusia jatuh ke dalam dosa dan kehilangan rupa dan gambar Allah. Akibatnya, manusia juga kehilangan amanat (mandat) ilahi yang semula itu.

 

Sebagai solusinya, Allah menyatakan rencana penyelamatan-Nya, agar manusia bisa dipulihkan kembali kepada rupa dan gambar Allah. Setelah itulah, manusia bisa kembali melaksanakan amanat (mandat) ilahi yang semula itu. Sejak Kejadian 3:15 dan 21, Allah menyatakan bahwa ular (Iblis) akan meremukkan tumit keturunan perempuan dan melalui keturunan perempuan itulah akan lahir Juru Selamat yang akan meremukkan kepala ular (Iblis) itu di kayu salib. Juru Selamat ini akan mendatangkan keselamatan besar kepada seluruh manusia di bumi melalui korban darah-Nya di salib. Melalui penebusan di kayu salib inilah, Yesus menjadi binatang (Anak Domba); oleh kematian-Nya, ketelanjangan manusia yang berdosa ditutupi kembali.

 

Pendalaman PB: Matius 1:18-25

  1. Hal apakah yang terjadi pada Yusuf setelah ia berpikir untuk menceraikan Maria? (ay. 18-20)
  2. Hal-hal apakah yang dikatakan oleh malaikat Tuhan tentang anak yang ada di dalam kandungan Maria? Peneguhan apakah yang dikatakan malaikat tentang anak tersebut sebagai anak yang telah dijanjikan sebelumnya? (ay. 20-23)
  3. Apa yang dilakukan Yusuf setelah mengetahui kehendak Allah itu?

 

Renungan PB:

Inilah penggenapan Kejadian 3:15, 21, yakni dari keturunan perempuan telah lahir seorang Juru Selamat dunia. Sewaktu Yusuf mencurigai Maria dan menganggap anak yang ada dalam kandungannya itu adalah hasil percabulan yang dilakukan Maria, malaikat Tuhan menyatakan diri dalam mimpi kepada Yusuf. Malaikat Tuhan menyakinkan Yusuf dengan mengutip nubuatan kitab Yesaya (Yes. 7:14), bahwa anak di dalam kandungan Maria itu adalah Juru Selamat yang telah dinubuatkan ratusan tahun yang lalu. Nama Juru Selamat, yaitu Anak Domba yang dijanjikan dalam kitab Kejadian itu, adalah “Yesus” (yang berarti “Yehovah yang menyelamatkan”) atau “Imanuel” (yang berarti “Allah beserta kita”). Tanpa diteguhkan oleh nubuatan dalam Alkitab, Yusuf tidak mungkin diyakinkan oleh mimpi itu. Ketika Yusuf mengetahui kehendak Tuhan, ia menaati Firman dan tidak menceraikan Maria, tunangannya. Tuhan menuntut ketaatan Yusuf demi terwujudnya janji-Nya yang besar bagi seluruh bumi.

2019-10-12T10:06:48+07:00