03/01/19

Kamis, 3/1/2019

 

  • Bacaan: Kejadian 7-9; Matius 7-9
  • Bacalah pasal-pasal ini di dalam hadirat Kristus; mintalah tuntunan Roh Kudus agar kita dapat mengerti gambar besar dari isi pasal-pasal yang dibaca.

 

Pendalaman PL: Kejadian 9:1-16

  1. Hal-hal apakah yang difirmankan Tuhan kepada Nuh tentang:
  2. tugas Nuh dan anak-anaknya (ay. 1, 7),
  3. hubungan Nuh dengan alam (ay. 2),
  4. makanan manusia (ay. 3-4),
  5. penumpahan darah (ay. 5-6)?
  6. Perjanjian apakah yang diadakan Tuhan dengan Nuh dan keturunannya, yaitu segala makhluk yang ada di bumi? Apakah tanda perjanjian yang dibuat Allah tersebut? (ay. 8-17)

 

Renungan PL:

Setelah air bah surut dan Nuh turun dari bahtera, Tuhan kembali mengingatkan kepada Nuh tentang maksud Allah yang semula yaitu agar manusia menghadirkan Kerajaan Allah. Manusia tetap harus memperluas Kerajaan Allah dengan beranak cucu dan bertambah banyak. Tujuan dari Maksud Allah yang semula itu adalah manusia menaklukkan kerajaan kegelapan.

 

Sebelumnya, manusia adalah pemakan tumbuh-tumbuhan, tetapi pada saat itu Tuhan mengizinkan manusia untuk memakan daging, kecuali darah dan binatang yang darahnya tertahan. Mengapa darah dilarang untuk dimakan? Karena di dalam darah ada nyawa dari makhluk hidup. Ini juga berarti barangsiapa yang menumpahkan darah sesamanya, kepada mereka akan terjadi hukum tabur tuai sebagai hukum keadilan Tuhan. Selain itu, siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya juga akan ditumpahkan oleh yang lain. Mengapa hukum keadilan ini berlaku? Alah adil dan Dia mengasihi manusia yang diciptakan-Nya menurut rupa dan gambar-Nya sendiri. Nyawa manusia begitu berharga sehingga jika seseorang menghilangkan nyawa orang lain, dia harus menanggung akibatnya, yaitu nyawanya diambil oleh orang lain.

 

Setelah air bah surut, Tuhan mengadakan perjanjian dengan Nuh dan keturunannya serta dengan seluruh makhluk hidup, bahwa Allah tidak akan pernah lagi membinasakan segala makhluk hidup dengan air bah. Sebagai tanda perjanjian itu, Allah menciptakan pelangi di langit.

 

Pendalaman PB: Matius 7:12-13; 24-27

  1. Apakah isi seluruh seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi? ( 12)
  2. Berkaitan dengan seluruh hukum itu, apa yang dikatakan Yesus tentang jalan yang menuju kepada kehidupan dan kebinasaan? ( 13-14)
  3. Seperti apakah Yesus mengumpamakan orang yang mendengar dan melakukan perkataan-perkataan-Nya? Seperti apa Yesus mengumpamakan orang yang mendengar, tetapi tidak melakukan perkataan-Nya? ( 24-27)

 

Renungan PB:

Sebagian orang mengira bahwa Yesus “mengutip” perkataan Buddha dalam Matius 7:12 dan ini sebenarnya adalah Golden Rule (Peraturan Emas) dari Buddha. Padahal jika kita melihatnya lebih teliti, Golden Rule dari Yesus berbeda dengan Golden Rule dari Buddha. Buddha berkata, ”Segala sesuatu yang engkau tidak ingin orang lain lakukan padamu, janganlah lakukan itu pada orang lain.” Golden Rule dari Yesus, yang adalah isi seluruh hukum Taurat dan para nabi, berbunyi, “Segala sesuatu yang engkau ingin orang lain lakukan padamu, lakukanlah itu kepada orang lain.” Golden Rule Buddha bersifat pasif, sedangkan Golden Rule Yesus bersifat proaktif. Golden Rule Buddha tidak mencakup Golden Rule Yesus, tetapi Golden Rule Yesus lebih menyeluruh dan mencakup Golden Rule Buddha.

 

Lalu, bagaimana caranya mempraktikkan Golden Rule ini? Ayat berikutnya menjelaskan bahwa memang hal itu tidak mudah karena kita harus menyangkal diri dan memikul salib setiap hari. Jalan menuju kehidupan ternyata seperti memasuki pintu yang sesak dan dan jalan

yang sempit. Ini bukanlah menjelaskan tentang “syarat” atau “harga” untuk memperoleh hidup kekal (keselamatan); ini menjelaskan atau menggambarkan tentang proses perjalanan dalam Kerajaan Allah setelah menerima hidup kekal. Kehidupan setelah memasuki Kerajaan Allah merupakan suatu kehidupan yang menaati isi (inti) dari hukum Taurat dan para Nabi (Hukum Terutama = Mengasihi Allah dan sesama). Hal itu memerlukan pengorbanan untuk menyangkal diri dan memikul salib. Proses ini menyakitkan bagi daging kita, yang memiliki keinginan diri yang selalu berlawanan dengan kasih. Contohnya, banyak orang berkata pasangannya/pemimpinnya/orang lain tidak mengertinya diri mereka, maka mereka tidak berbahagia karena tidak dimengerti. Yang sebenarnya perlu dilakukan sebagai praktik Golden Rule dari Yesus adalah kita proaktif mengerti pasangan/pemimpin/orang lain itu dan berbahagia melakukannya tanpa mengharapkan balasan. Inilah wujud kita mengasihi orang lain dengan kasih yang satu arah tanpa mengharapkan balasan (kasih Agape, tanpa ekspektasi). Kasih adalah melakukan apa yang saya ingin orang lain lakukan kepada saya secara proaktif tanpa mengharapkan balasan yang sama. Inilah jalan sempit dan pintu sesak yang harus dilalui oleh kita yang telah menjadi pengikut Kristus.

 

Jika kita terus-menerus mendengar perkataan Kristus (hukum Taurat dan para nabi), perjalanan yang sulit itu akan mampu kita lakukan dengan kasih karunia yang timbul oleh iman karena mendengar Firman Tuhan. Itulah hidup yang tidak terguncangkan karena dibangun di atas batu karang.

2019-10-12T10:06:32+07:00