05/01/19

Sabtu, 5/1/2019

  • Bacaan: Kejadian 13-15; Matius 13-15
  • Bacalah pasal-pasal ini di dalam hadirat Kristus; mintalah tuntunan Roh Kudus agar kita dapat mengerti gambar besar dari isi pasal-pasal yang dibaca.

 

Pendalaman PL: Kejadian 15:1-21

  1. Hal apakah yang dilakukan Tuhan terhadap Abram dan dialog apakah yang terjadi antara Allah dan Abram? (ay. 1-4)
  2. Apa yang dilakukan Tuhan untuk meyakinkan Abram? (ay. 5-6)
  3. Perjanjian apakah yang dibuat Tuhan dengan Abram? Apakah yang diperintahkan kepada Abram untuk dilakukan sebagai tindakan iman dalam perjanjian dengan Allah? (ay. 7; 18-21; 8-17)

 

Renungan PL:

Abram telah menantikan janji Tuhan selama bertahun-tahun, dan ia pun ragu karena tak kunjung mempunyai anak. tetapi ketika Abram berdialog dengan Tuhan, datanglah Firman Tuhan kepadanya bahwa ia pasti akan mempunyai anak yang akan menjadi ahli warisnya. Cara Tuhan meyakinkan Abram adalah dengan menyuruh Abram untuk melihat dan menghitung bintang-bintang di langit. Tuhan meminta ia untuk menggunakan imajinasinya saat melihat, menghitung dan membayangkan banyaknya bintang-bintang yang di langit itu. Maka percayalah Abram akan janji Tuhan dan hal itu diperhitungkan padanya sebagai kebenaran.

 

Abram bertanya dalam dialog berikutnya, bagaimana ia yakin bahwa Tuhan akan memberikan dia tanah perjanjian seperti yang dijanjikan Tuhan waktu Tuhan memanggilnya keluar dari Ur Kasdim. Setelah itu, Tuhan menyuruh Abram untuk melakukan tindakan iman dalam perjanjian. Perjanjian yang diinisasi Allah dengan Abram itu harus diteguhkan dengan menyembelih binatang (lembu betina, kambing betina, domba jantan, burung tekukur, dan anak burung merpati). Korban lembu, kambing, dan domba dipotong menjadi dua bagian yang menggambarkan dua pihak yang mengadakan perjanjian, yaitu Allah dan Abram. Selain itu, korban-korban yang dipotong dua itu juga sekaligus menggambarkan Kristus Anak Domba yang menjadi mediator di dalam perjanjian yang dibuat Allah dengan manusia.

 

Pendalaman PB: Matius 13:18-23

  1. Apakah arti perumpamaan benih yang jatuh di pinggir jalan? ( 18-19)
  2. Apakah arti perumpamaan benih yang jatuh di tanah berbatu? ( 20-21)
  3. Apakah arti perumpamaan benih yang jatuh di tengah-tengah semak duri? ( 22)
  4. Apakah arti perumpamaan benih yang jatuh di tanah yang baik? ( 23)

 

Renungan PB:

Tanah pinggir jalan (tanah di antara jalan dan ladang) menggambarkan orang yang hatinya tidak berfokus; ia mendua hati, sehingga ketika benih (Firman Kerajaan) ditaburkan di atasnya, benih itu dimakan oleh burung atau diinjak. Orang yang mendua hati tidak mungkin mengerti Firman Kerajaan dan menghasilkan buah.

 

Tanah yang berbatu menggambarkan orang yang mendengar Firman Kerajaan satu-dua kali dan menerima Firman Kerajaan dengan bersukacita, tetapi karena hanya ditaruh di memori sadar (di memori jangka pendek, hanya diingat sebentar saja lalu dilupakan), dan bukan di memori bawah sadar (di memori jangka panjang, dilakukan sebagai gaya hidup yang senantiasa diingat), mereka menjadi murtad ketika menghadapi aniaya.

 

Tanah yang bersemak duri menggambarkan orang yang hatinya telah banyak dikotori oleh pikiran-pikiran salah/jahat dan luka masa lalu yang tertanam dan menghalangi seseorang untuk berbuah/berbuah matang. Akibatnya, segala kebenaran yang diterima tidak menghasilkan buah kemenangan yang matang dan menetap.

 

Tanah yang baik menggambarkan orang yang hatinya siap dan murni menyambut Firman Tuhan. Orang seperti ini menerima Firman sampai Firman itu tertanam kuat di dalam hatinya, menghidupi kebenaran Firman itu dan menghasilkan buah 30 kali, 60 kali, dan 100 kali lipat.

2019-10-12T10:05:58+07:00