09/02/19

Sabtu, 9/2/2019

  • Bacaan: Bilangan 1-3; Roma 1-3
  • Bacalah pasal-pasal ini di dalam hadirat Kristus; mintalah tuntunan Roh Kudus agar kita dapat mengerti gambar besar dari isi pasal-pasal yang dibaca.

Pendalaman PL: Bilangan 1:44-54

1.         Siapakah yang harus dihitung dan dicatat oleh Harun dan Musa? Berapakah jumlah (bilangan) seluruh bangsa Israel? (Bil.1:44-46)

2.         Jika suku-suku Israel berkemah di sekeliling kemah kesaksian (Tabernakel/kemah suci), bagaimanakah pengaturan tempat berkemah dan tugas utama suku Lewi (suku Musa/Harun)? (Bil. 1:47-54)

Renungan PL:

Kitab Bilangan diberi judul sesuai dengan tujuan penulisannya, yakni menghitung jumlah ke-12 suku Israel (termasuk suku Lewi), dan mengatur formasi kemah serta tugas-tugas setiap suku dalam perjalanan menuju ke tanah perjanjian. Setiap pria yang berumur di atas 20 tahun dan sanggup berperang harus bertugas menjadi prajurit (mengemban “tugas kerajaan”); Musa dan Harun bertugas sebagai imam besar dan nabi; sedangkan suku Lewi bertugas sebagai imam-imam yang mengurusi kemah kesaksian (tabernakel/kemah suci).

Awalnya, sebelum peristiwa penyembahan berhala, Allah ingin agar seluruh bangsa Israel menjadi kerajaan imam(Kel. 19:5-6).Artinya, menjadi bangsa yang semua rakyatnya menjadi “prajurit”, imam, dan “nabi” (Kel. 19:5-6; Bil. 11:29). Inilah ketiga urapan yang disediakan Tuhan kepada umat-Nya. Namun, setelah bangsa Israel jatuh ke dalam penyembahan berhala, mereka mengalami degradasi (penurunan mutu) dari imamat rajani menjadi imamat suku Lewi.

Bangsa Israel jasmani telah gagal. Karena itu, Allah membentuk Israel baru (gereja/manusia baru) yang akan menerima ketiga urapan tersebut: urapan imam, nabi dan raja.Gereja seharusnya adalah umat Israel yang baru (manusia baru) yang semua anggotanya adalah imam, nabi dan raja. Walau bangsa Israel telah jatuh ke dalam imamat Lewi, dari pola imamat tiga urapan ini kita dapat mempelajari kesepuluh perintah, hukum seremonial, dan hukum sipil Israel sebagai bayang-bayang Perjanjian Baru, dengan Kristus sendiri sebagai kenyataan wujudnya.

2019-10-12T10:00:55+07:00