///10 Kesalahan yang Menggagalkan Pengembangan SDM

10 Kesalahan yang Menggagalkan Pengembangan SDM

“Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan sampai tidak berbuah.” – Titus 3:14

 

Firman Tuhan mengajarkan bahwa bahwa pekerjaan yang baik adalah hasil dari proses pembelajaran. Ini berarti perlu ada pelatihan yang terus-menerus, yang memiliki tujuan yang jelas, relevan, dan bermanfaat. Tanpa pelatihan seperti ini, tidak ada pembelajaran yang terjadi. Kita yang berada pada posisi kepemimpinan dalam pekerjaan atau bisnis sudah seharusnya memberikan dan memfasilitasi pelatihan ini bagi para pekerja yang kita pimpin. Dengan demikian, setiap pekerja dapat memenuhi keperluan hidupnya serta berbuah-buah dalam kontribusi positif bagi diri sendiri, perusahaan, dan masyarakat.

Program pengembangan sumber daya manusia (SDM) adalah salah satu investasi penting yang harus dilakukan oleh setiap perusahaan atau bisnis. Program ini dilakukan salah satunya terutama melalui berbagai pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi, kinerja, dan motivasi pekerja, yang pada akhirnya diharapkan akan berdampak positif bagi kinerja bisnis atau secara individual pada penilaian menurut KPI (Key Performance Indicators). Sayangnya, tidak semua program pelatihan SDM dapat memberikan hasil yang optimal; banyak yang jadi terkesan mubazir karena hasilnya tidak sebanding dengan usaha yang diperlukan untuk pelaksanaannya. Secara umum, berikut adalah tanda-tanda program pelatihan SDM tidak efektif:

  1. tidak ada perubahan perilaku atau kinerja pekerja setelah mengikuti pelatihan, yang berarti pelatihan tidak memberikan dampak yang signifikan bagi peningkatan kompetensi dan motivasi pekerja;
  2. tidak ada evaluasi atau pengukuran hasil pelatihan yang dilakukan secara sistematis dan objektif, yang berarti perusahaan/bisnis tidak memiliki kriteria atau indikator jelas untuk menilai efektivitas dan efisiensi pelatihan;
  3. tidak ada dukungan atau penguatan dari manajemen dan rekan kerja bagi pekerja yang mengikuti pelatihan, yang berarti pelatihan tidak dianggap bagian dari proses dan sistem organisasi yang lebih luas, tetapi hanya sebagai kegiatan yang terpisah dan terisolasi;
  4. tidak ada keterlibatan atau partisipasi aktif dari pekerja dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelatihan, yang berarti pelatihan tidak sesuai dengan kebutuhan, harapan, dan karakteristik pekerja, sehingga kurang menarik dan bermanfaat bagi mereka;
  5. tidak ada variasi atau inovasi dalam metode atau materi pelatihan yang digunakan, yang berarti pelatihan tidak dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, pasar, dan lingkungan bisnis, sehingga kurang relevan dan menantang bagi pekerja.

Lalu, bagaimana cara memastikan bahwa program pelatihan SDM yang kita lakukan dalam perusahaan/bisnis kita tepat dan berdampak? Ada beberapa kriteria umum yang perlu kita temukan pada program pelatihan SDM kita, yaitu:

  • topik/materi pelatihan sesuai dengan strategi bisnis dan tujuan perusahaan/bisnis;
  • topik/materi pelatihan ditentukan berdasarkan analisis yang mendalam terhadap kebutuhan SDM;
  • pelatihan memiliki tujuan yang jelas dan spesifik serta dapat diukur dan dievaluasi;
  • ada keseimbangan antara biaya dan manfaat pelatihan;
  • pelatihan melibatkan partisipasi aktif dari semua tingkat pekerja;
  • pelatihan termasuk memberikan dukungan dan penguatan bagi peserta program;
  • pelatihan menggunakan metode pengembangan SDM yang efektif, misalnya skill training, mentoring, coaching, rotasi pekerjaan, simulasi, e-learning, dan sebagainya.

 

Di sisi lain, program pengembangan SDM yang dilakukan melalui berbagai pelatihan yang tepat pasti berdampak positif bagi perusahaan/bisnis, yaitu antara lain:

  • peningkatan produktivitas dan kualitas kerja pekerja, yang akan berkontribusi terhadap pencapaian target perusahaan/bisnis atau kinerja individu;
  • peningkatan motivasi dan kepuasan kerja pekerja, yang akan menghasilkan penurunan tingkat turnover dan peningkatan loyalitas pekerja;
  • peningkatan keterampilan teknis dan non-teknis pekerja, sehingga mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan dan perubahan yang terus berkembang di dunia kerja/bisnis;
  • peningkatan daya inovasi dan kreativitas pekerja, yang akan menjadi nilai tambah bagi perusahaan/bisnis dan berdampak baik bagi pelanggan;
  • peningkatan citra dan reputasi perusahaan/bisnis, yang akan menarik bakat-bakat terbaik dan meningkatkan kepercayaan pelanggan.

 

Untuk melakukan evaluasi yang lebih mendalam dan menyeluruh, amati apakah perusahaan/bisnis Anda tanpa disadari melakukan sepuluh kesalahan berikut ini dalam program pelatihan SDM dan terapkan solusinya, karena kesalahan-kesalahan ini menyebabkan pelatihan SDM tidak efektif.

  1. Pelatihan SDM kurang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Solusinya: Rancang setiap pelatihan berdasarkan pada analisis kebutuhan pekerja dan tujuannya ditetapkan dalam kaitan dengan strategi bisnis dan tujuan perusahaan/bisnis.

 

  1. Perusahaan/bisnis berusaha menyelesaikan semua permasalahan melalui pelatihan SDM. Sebenarnya, pelatihan SDM tidak selalu menjadi solusi terbaik untuk memperbaiki masalah kinerja atau masalah-masalah lainnya. Solusinya: Gunakan perangkat analisis kinerja untuk menentukan apakah pelatihan diperlukan atau tidak, dan jika tidak, apa alternatif lain yang lebih efektif dan efisien dalam menyelesaikan masalah yang ada.

 

  1. Perusahaan/bisnis kurang melakukan sosialisasi tujuan pelatihan kepada para pesertanya. Program pelatihan SDM harus memiliki tujuan yang jelas dan spesifik yang dapat diukur dan dievaluasi, dan para peserta perlu menyadari tujuan pelatihan ini. Bahkan, seluruh pekerja perlu sepakat untuk berfokus pada tujuan yang hendak dicapai.
    Solusinya: Rumuskan tujuan pelatihan dengan jelas, yang mencakup berbagai tingkatan tujuan, termasuk reaksi perubahan yang diharapkan, pembelajaran yang perlu dikuasai, perubahan perilaku kerja dan hasil pelatihan yang berdampak pada bisnis. Sosialisasikan berbagai tujuan ini sejak sebelum hari-H pelatihan kepada seluruh peserta maupun masing-masing pimpinan mereka.

 

  1. Perusahaan/bisnis tidak cermat mempertimbangkan biaya vs. manfaat setiap program pelatihan. Solusinya: Program pelatihan harus mempertimbangkan keseimbangan biaya dan manfaat agar dapat maksimal memberikan nilai tambah bagi organisasi.
    Solusinya: Lakukan estimasi biaya pelatihan yang perlu dikeluarkan dan manfaat yang akan didapatkan dari pelatihan itu secara cermat. Sebelum membuat keputusan melaksanakan program pelatihan, perusahaan/bisnis perlu menganalisis sampai pada tahap membandingkan berbagai alternatif pelatihan serta melakukan evaluasi hasil serta dampak pelatihan yang sudah dilakukan.

 

  1. Perusahaan/bisnis hanya menganggap pelatihan sebagai suatu aktivitas atau program. Ini adalah cara pandang keliru yang paling banyak terjadi dalam perusahaan/bisnis. Pelatihan seharusnya menjadi bagian dari proses peningkatan kinerja, bukan sekadar aktivitas, atau program, yang menghasilkan kesibukan belaka. Pelatihan seharusnya dianggap proses untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pekerja, bukan juga hanya selingan atau hiburan.
    Solusinya: Lakukan “brainstorming” kepada seluruh pemimpin di dalam perusahaan/bisnis untuk menyadarkan mereka bahwa pelatihan adalah bagian dari tanggung jawab kepemimpinan untuk meningkatkan kinerja seluruh pekerja. Karena itu, pemimpin perusahaan/bisnis harus serius dan bertanggung jawab untuk menjalankan program pelatihan sebagai bagian dari proses kerja mereka.

 

  1. Perusahaan/bisnis salah memilih pelatih atau bentuk pelatihan. Banyak perusahaan/bisnis asal memilih pelatih dengan kriteria “asal lucu dan seru” atau “yang paling populer”. Ini kriteria yang salah; pemilihan pelatih yang tepat akan sangat menolong perusahaan/bisnis untuk mengubah cara pikir para peserta pelatihan. Program pelatihan harus difasilitasi oleh pelatih yang kompeten, profesional, berpengalaman, dan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta pelatihan.
    Solusinya: Lakukan seleksi para pelatih secara objektif dengan kriteria yang tepat. Yang terpenting, temukan apakah pelatih itu memiliki pengalaman praktik yang luas yang berkaitan dengan topik/materi pelatihan, lalu apakah pelatih itu memiliki kemampuan dan teknik melatih yang kreatif dan efektif.

 

  1. Pelatihan hanya berfokus pada pelatihan “hard-skills” atau keterampilan teknis saja. Keterampilan teknis seseorang akan berkontribusi secara positif pada perusahaan, tetapi hanya jika orang tersebut memiliki pola pikir dan sikap diri yang baik. Karena itu, pelatihan SDM harus seimbang antara melatih keterampilan teknis dan melatih topik-topik penting lainnya seperti pola pikir positif, sikap dan perilaku produktif, kebiasaan produktif, keterampilan berpikir kritis, keterampilan komunikasi, keterampilan bekerja sama, dan kepemimpinan.
    Solusinya: Lakukan konsultasi dengan pelatih profesional untuk mendeteksi berbagai persoalan yang timbul di dalam perusahaan, lalu tentukan program pelatihan yang tepat untuk menjawab kebutuhan yang ada. Pelatih profesional akan memberikan Anda berbagai masukan berharga tentang berbagai program pelatihan non-teknis yang akan membangun etos kerja yang produktif.

 

  1. Pelatih tidak menggunakan bahasa atau penyampaian materi yang mudah dipahami oleh peserta pelatihan. Program pelatihan SDM adalah untuk menjawab kebutuhan pekerja dan meningkatkan kualitas kerja mereka, maka harus memaksimalkan potensi penangkapannya oleh peserta. Karena itu, pelatihan harus selalu menggunakan bahasa serta cara penyampaian materi yang sesuai dengan latar belakang, tingkat pendidikan, dan pemahaman peserta pelatihan.

Solusinya: Lakukan survei kebutuhan dan ekspektasi peserta pelatihan sebelum pelatihan, lalu pastikan bahwa kebutuhan dan ekspektasi itu terdukung oleh penggunaan bahasa dan penyampaian materi pelatihan yang sederhana, jelas, dan relevan.

 

  1. Program pelatihan tidak diselenggarakan pada momen yang tepat. Pelatihan harus dilakukan pada waktu, tempat, dan durasi yang tepat, serta sesuai dengan kondisi dan situasi perusahaan/bisnis. Sering kali, pelatihan dilakukan pada momen yang tidak tepat, misalnya di tengah puncak musim kesibukan perusahaan/bisnis, atau pada malam hari setelah hari kerja usai dan pekerja kehabisan energi karena kelelahan, atau bahkan pada akhir pekan yang semestinya dapat digunakan pekerja untuk melakukan berbagai aktivitas pribadi atau keluarga.
    Solusinya: Lakukan analisis waktu, konteks, dan risiko sebelum mengadakan pelatihan, lalu sesuaikan jadwal, lokasi, serta durasi pelatihan dengan ketersediaan dan kenyamanan peserta pelatihan, demi memaksimalkan manfaat pelatihan bagi mereka.

 

  1. Prasarana dan infrastruktur penyelenggaraan program pelatihan terlalu terbatas. Program pelatihan harus mempertimbangkan prasarana dan infrastruktur yang memadai dan mendukung proses pembelajaran. Jika semua ini terlalu terbatas, pelatihan tidak bisa diselenggarakan dengan efektif sehingga tujuannya tidak tercapai.
    Solusinya: Sediakan fasilitas, peralatan, dan sumber daya yang memadai untuk setiap pelatihan, baik secara kuantitas maupun kualitas, termasuk manfaatkan teknologi penunjangnya.

 

Nah, siapkah Anda mempraktikkan hal-hal yang kita bahas ini dalam program pelatihan SDM di perusahaan/bisnis yang Anda pimpin? Mari kita praktikkan, dan selamat membawa orang-orang yang kita pimpin untuk berbuah.

2024-01-31T11:52:20+07:00