///10 Kiat Efektif untuk Bekerja Sama dengan Atasan

10 Kiat Efektif untuk Bekerja Sama dengan Atasan

Ada berbagai alasan orang tidak menyukai dan tidak bisa bekerja sama dengan atasannya, misalnya, atasannya cuek, atasan tidak bersikap adil, atasannya otoriter, dsb. Sering kali, alasan-alasan semacam ini membuat banyak orang menjadi tidak termotivasi dalam bekerja.

Dalam Perjanjian Lama, contoh yang serupa dialami oleh Daud. Daud diperlakukan tidak adil oleh atasannya, yaitu Saul. Menariknya, Daud memperoleh beberapa kali kesempatan untuk membalas kejahatan Saul dan dengan mudah dia dapat membunuh Saul, tetapi dia memilih untuk tetap menghormati atasannya. Bagi Daud, Saul tetaplah atasannya dan atasan adalah pemimpin yang Tuhan tetapkan atas dirinya. Selain itu, kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan atau dendam. Kejahatan hanya bisa dikalahkan oleh kebenaran, kebaikan, kelembutan dan kasih! “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu,” (Mat. 5:44).

Dalam Perjanjian Baru, Petrus mengajarkan juga untuk memiliki rasa hormat kepada atasan, “Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis,” (1 Ptr. 2:18).

Bagi pekerja yang memiliki atasan, yang bisa kita sebut bawahan, ini berarti, tunduklah dan hormatilah atasanmu; bukan hanya atasan yang baik dan lemah lembut, tetapi juga atasan yang tidak adil, semaunya, bahkan kejam sekalipun. Berurusan dengan atasan-atasan yang demikian memang sangatlah tidak menyenangkan, tetapi daripada emosi Anda jengkel, kesal, dan Anda jadi kesulitan bekerja sama dengan sang atasan, sebenarnya ad acara-cara untuk Anda mengubah pola pikiran dan tindakan Anda sehingga Anda bisa bekerja sama lebih efektif dan berinteraksi dengan lebih bersahabat dengan atasan, tanpa rasa terpaksa. Mari kita simak satu per satu.

1. Amati mood atasan dan sesuaikan diri Anda
Bila dia sedang emosional dan berada dalam situasi tertekan, jangan terlalu banyak berkomunikasi dulu, apalagi untuk hal-hal yang sifatnya kurang serius. Jika perlu, jangan protes atau mengeluh dan jangan mengusulkan ide apa pun dalam situasi seperti ini, apalagi merengek-rengek minta naik gaji. Intinya, gunakan empati dan jangan menambah beban atasan.

2. Bantu kelola waktu dan prioritas atasan
Setiap pagi, ingatkan atasan tentang berbagai hal penting tentang tugas-tugas hari itu, termasuk usulkan jam berapa sebaiknya rapat atau harus bertemu dengan siapa dan untuk urusan apa. Dengan demikian, Anda menolong atasan mengelola waktunya, sekaligus menolong diri Anda sendiri menyelaraskan berbagai prioritas pada hari tersebut.

3. Tawarkan bantuan
Ketika Anda melihat atasan kelimpungan dengan berbagai beban tugas, tawarkan diri untuk membantu dia dengan tugas-tugas yang Anda sangat pahami/kuasai. Hal ini akan menciptakan penilaian positif dari atasan kepada Anda.

4. Tepati janji Anda
Jika Anda telah menyepakati deadline tertentu untuk menyelesaikan tugas dari atasan, berusahalah semaksimal mungkin untuk menepati janji Anda itu. Bila Anda menemui kesulitan yang membuat janji itu mungkin akan gagal, bertindaklah secara cepat untuk menemukan solusinya. Jika Anda tidak mendapatkan solusinya, secepatnya informasikan kesulitan yang tak terkendali ini pada atasan. Namun, sebelum mencari solusi pengganti dan/atau memberitahukan kegagalan Anda untuk menepati janji kepada atasan, pastikan bahwa ini adalah tingkat kesulitan yang tinggi dan tidak dapat diprediksi sebelumnya.

5. Posisikan diri Anda sebagai problem solver
Hindari bolak-balik datang kepada atasan untuk mengabarkan setiap kesulitan Anda. Ingat, atasan adalah atasan dalam pekerjaan, bukan pengasuh Anda. Dalam seluruh pekerjaan Anda, Andalah yang harus menjadi problem solver, bukan atasan Anda. Setiap kali Anda menjumpai kesulitan, berusahalah untuk mengatasinya sendiri dulu. Bila Anda mengalami kebuntuan, carilah bantuan dari rekan kerja atau seseorang lain yang lebih berpengalaman. Kalau hal ini tetap tidak berhasil dan saat Anda membutuhkan keputusan atasan, barulah diskusikan masalahnya dengan atasan. Sebagai catatan, Anda perlu berdiskusi dengan membawa data, penjelasan masalah, dan ide solusi yang jelas, bukan asal bertanya dan meminta dicekoki atau didikte oleh atasan.

6. Berikan waktu Anda tanpa bersikap hitung-hitungan
Jika Anda tahu atasan akan datang jam 17.30, tinggallah dulu sebentar dan barulah pulang sejenak setelahnya. Siapa tahu sang atasan membutuhkan bantuan tiba-tiba dari Anda di saat-saat Anda memberikan waktu lebih itu. Memberikan waktu tanpa hitung-hitungan sebenarnya adalah investasi poin positif tentang diri Anda sebagai pekerja, sehingga atasan melihat kualitas Anda yang bisa diandalkan.

7. Jangan lupakan status Anda
Mungkin Anda bingung, kadang-kadang sang atasan bisa tertawa terbahak-bahak, bersenda gurau dan terlihat sangat akrab, tetapi dalam hitungan menit dia bisa berubah menjadi tegas, marah-marah, atau bahkan menegur Anda dengan keras. Anda tidak perlu sakit hati atau bingung, karena atasan Anda pun manusia. Yang penting untuk Anda ingat adalah bahwa dia tetap atasan Anda, dan Anda adalah bawahannya. Dengan menyadari dan mengingat status ini, Anda tetap menjaga perilaku sebagai bawahan dan menghormati dia sebagai atasan yang berwenang. Jangan bertindak melewati garis wewenang, atau “ngelunjak”.

8. Belajarlah dari atasan
Jangan lupa, karena atasan Anda juga manusia, dia pun punya banyak kelemahan dan kekurangan. Jangan berfokus pada kekurangan dan kelemahan atasan, tetapi berfokuslah justru pada kekuatan dan kelebihannya, supaya Anda selalu bisa belajar darinya. Selain menguntungkan, hal ini juga akan mengurangi tingkat stres Anda.

9. Jangan berfokus pada atasan, tetapi pada prestasi Anda sendiri
Banyak orang menjadi patah semangat dan malas bekerja karena ulah atasan. Akibatnya, mereka gagal berprestasi. Orang-orang seperti ini biasanya punya prinsip, “Untuk apa saya bekerja keras dan berprestasi, toh atasan saya menyebalkan!” Padahal sebenarnya, sikap atau perilaku atasan dan kualitas kerja Anda adalah dua hal yang tidak perlu saling menentukan. Fokus dan urusan Anda haruslah bekerja dengan berprestasi, belajar berbagai keterampilan untuk masa depan Anda, dan terus melatih sikap kerja yang positif. Bila Anda memiliki fokus seperti ini, dalam jangka panjang daya saing Anda di pasar kerja akan semakin tinggi.

10. Jaga kredibilitas Anda di hadapan semua orang
Jaga kredibilitas Anda bukan hanya di hadapan atasan, tetapi juga di hadapan semua orang. Jika Anda mampu menjaga sikap, selalu jujur, selalu tepat janji, selalu bersikap positif, selalu berintegritas, memiliki disiplin diri yang kuat, dan lain-lain, bukan hanya atasan Anda yang melihat, tetapi semua orang di lingkungan kerja juga akan merasakannya. Dengan demikian, sebenarnya Anda sedang mengasah kualitas sebagai karyawan teladan, terlepas dari sikap atau perilaku atasan Anda. Alhasil, Anda akan tetap menjaga hubungan kerja yang positif dengan atasan.

Jadilah pekerja yang cerdas; jangan mudah terpancing dengan hal-hal negatif, dan kembangkan pola hubungan kerja sama yang positif dan efektif dengan atasan. Selamat mempraktikkan!

2019-10-11T11:12:15+07:00