///10 Prinsip Alkitab yang Merupakan Kekuatan untuk Mengumpulkan Harta (bag. 2)

10 Prinsip Alkitab yang Merupakan Kekuatan untuk Mengumpulkan Harta (bag. 2)

Dalam bagian pertama dari artikel bersambung ini pada edisi sebelumnya, kita telah melihat bahwa Tuhan ingin kita semua hidup dalam kemenangan, termasuk mengalami keberhasilan finansial. Yang dimaksud kemenangan di sini bukanlah kesuksesan menumpuk harta untuk diri atau keluarga dan keturunan sendiri, atau kekayaan berlimpah yang membuat kita disanjung-sanjung oleh dunia, melainkan kemampuan untuk mencukupi diri sendiri serta memberkati sesama secara keuangan. Dalam bagian kedua ini, kita akan melanjutkan pembahasan dengan prinsip keenam hingga kesepuluh yang perlu diperhatikan dan dijalankan sebagai kekuatan kita untuk mengumpulkan harta.

 

  1. Prinsip setia dalam perkara kecil

Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” – Matius 25:21

Agar kita berhasil dalam bidang apa pun, entah kita berstatus pengusaha, karyawan, atau pekerja profesional, Tuhan ingin kita setia sejak dalam perkara-perkara kecil. Apa itu perkara kecil? Perkara kecil contohnya adalah kejujuran, janji, komitmen, batas waktu, kesepakatan dan kepercayaan, ketepatan data, uang dalam nominal kecil, kualitas pekerjaan atau hasil produk/jasa, dan hal-hal lain yang kita hadapi dalam keseharian usaha/kerja kita. Ini berarti kita menepati janji, menjaga kepercayaan pemimpin dan klien/pelanggan, tertib dalam pencatatan data, jujur dalam penggunaan uang, disiplin dan efisien dalam mengelola waktu kerja, rajin melakukan promosi dan membangun branding, dan sebagainya. Kesetiaan dalam perkara-perkara kecil akan membawa kita pada perkara-perkara yang lebih besar.

Melalui proses kesetiaan, kepercayaan dan kapasitas yang kita pegang menjadi bertumbuh, sehingga pada akhirnya menghasilkan harta yang lebih besar. Ingat, harta material bukanlah tujuan akhir kita atau sasaran inti kita; harta material Tuhan berikan sebagai bagian dari berkat kecukupan yang menjadi buah pasti dari kesetiaan kita. Berkat Tuhan itu sendiri wujudnya bermacam-macam pula selain harta material: kepercayaan orang lain, jejaring profesional yang meluas/menguat, reputasi yang positif, dan banyak lagi lainnya. Tetaplah setia dalam setiap hal kecil yang Tuhan percayakan, maka Tuhan akan memercayakan hal-hal yang lebih besar kepada kita.

 

  1. Prinsip perencanaan

 Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?” – Lukas 14:28

Banyak orang dan perusahaan tidak memiliki perencanaan yang matang dan komprehensif dalam menjalankan usaha. Kadang, rencana yang ada hanya sekadarnya, terlalu sempit/samar, serta tidak mengantisipasi berbagai risiko. Padahal, rencana adalah wadah untuk keberhasilan di masa depan. Firman Tuhan menyatakannya. Orang yang ingin berhasil di masa depan perlu berpikir jauh dan besar, dan dengan demikian perlu memiliki perencanaan yang matang, komprehensif, dan terintegrasi. Bagi para pekerja profesional atau orang-orang secara pribadi, ini berarti rencana profesional/karier pribadi; bagi perusahaan atau bisnis, ini berarti rencana usaha/bisnis. Gunakan kriteria SMART (specific, measurable, achievable, relevant, time-bound — referensi penjelasan dalam bahasa Indonesia tersedia dari berbagai sumber di internet, misalnya: https://www.akseleran.co.id/blog/smart-goals/). Makin baik perencanaan yang dibuat, makin aman pula risiko masa depan tertangani, sehingga makin kuat pula kemampuan si perencana untuk membangun keberhasilan. Jangan menjadi orang yang malas membuat perencanaan, malas berpikir dan cenderung reaktif, kurang preventif atau antisipasi. Prinsip perencanaan sudah jelas tertulis di dalam Firman Tuhan.

 

  1. Prinsip kredibilitas

Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik daripada perak dan emas.” – Amsal 22:1

Kredibilitas pribadi dan profesional adalah modal berharga yang nilainya berlaku seumur hidup kita. Bagaimana cara menjaganya? Segala hal yang kita lakukan sehari-hari, apalagi dalam konteks kerja/usaha, itulah cara-cara untuk menjaga kredibilitas. Ukurannya pun mudah: seberapa jauh orang percaya kepada kita; seberapa besar rasa hormat orang kepada kita; seberapa yakin orang merekomendasikan diri/usaha kita kepada orang lain lagi; seberapa taguh orang lain mendukung keputusan dan arahan kita sebagai pemimpin; semuanya ini adalah ukuran kredibilitas kita.

Dari sisi diri kita sendiri, sebenarnya banyak sekali hal sederhana yang setiap saat dapat kita lakukan untuk membangun dan menjaga kredibilitas. Jika kita ingin karyawan datang tepat waktu, apakah kita juga hadir tepat waktu? Saat kita menginstruksikan karyawan untuk bekerja keras dan bersikap jujur, apakah kita sudah menjadi contoh baik untuk mereka? Sudahkah kita menjalin dan merawat hubungan baik dengan para klien/pelanggan? Apakah kita biasa menepati janji kepada pemimpin, rekan, maupun tim kerja? Relakah kita berkorban dalam hal waktu, tenaga, bahkan materi, demi nama baik pribadi atau perusahaan? Semua ini terangkum dalam prinsip klasik yang tak lekang oleh waktu: kredibilitas.

 

  1. Prinsip bangkit kembali

Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun dia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” – Amsal 24:16

Nasihat di kitab Amsal ini merupakan panduan yang sangat jelas untuk memandang sebuah kegagalan dengan cara Tuhan. Kegagalan atau kejatuhan memang bisa saja terjadi pada siapa saja, tetapi orang benar (orang yang mengandalkan Tuhan) saat jatuh atau gagal bangkit kembali. Tentu, ini bukan berarti kita sok kuat, melainkan kita menggandalkan kasih karunia Kristus, yang menguatkan kita di dalam segala perkara (Fil. 4:13). Belajarlah untuk mengadopsi cara pandang ini. Saat mengalami kegagalan, sadarilah bahwa kekuatan Tuhan tersedia untuk memampukan kita bangkit serta berjuang lagi. Memilih untuk terus-menerus terpuruk saat gagal tidak akan membawa kita meraih kesuksesan, termasuk dalam hal usaha mengumpulkan harta. Semua orang yang sukses mengumpulkan harta pasti pernah, bahkan berulang kali gagal; kemudian terus-menerus bangkit kembali. Di dalam kasih karunia Kristus, kegagalan justru merupakan peluang untuk kita mengalami pemulihan, kekuatan baru, serta kreativitas baru, menuju keberhasilan.

 

  1. Prinsip Amanat Agung

Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.” – Amsal 3:9-10

Jauh sebelum Salomo menjadi raja Israel menggantikan Daud, ayahnya, Tuhan sudah memiliki rencana bahwa Salomo akan dipakai-Nya untuk membangun bait Allah. Tuhan ingin bait Allah yang akan dibangun itu adalah yang terbaik; maka, Dia membutuhkan seseorang yang bisa menjadi rekan-Nya, yang akan dititipinya banyak harta untuk pembangunan bait Allah itu. Tentu saja, orang yang tepat adalah orang yang memiliki hati yang lebih mencintai Tuhan dibandingkan mencintai harta; sehingga kelak saat Tuhan memberinya banyak harta, orang itu mampu menangkap isi hati Tuhan dan cakap mengelola harta itu untuk pembangunan bait Allah, sehingga rencana Tuhan tergenapi.

Di dalam kehidupan kita saat ini, harta pun tetap merupakan alat Tuhan untuk penggenapan rencana-Nya. Apa itu rencana Tuhan? Pada intinya, seluruh rencana Tuhan bagi manusia saat hidup di bumi adalah Amanat Agung: agar Kerajaan Allah berkuasa dan meluas di mana-mana serta sebanyak-banyaknya manusia menjadi murid Kristus. Seperti Salomo sebaik-baiknya memakai dan mengelola harta dari Tuhan untuk membangun rumah Tuhan, demikianlah pula kita seharusnya dengan harta yang Tuhan percayakan kepada kita.

Salomo tidak segan-segan memberikan yang terbaik melalui hartanya, demi penggenapan rencana Tuhan. Inilah prinsip Amanat Agung, yang terlihat dari prioritas kita saat menyikapi harta. Apakah kita menghemat berlebihan saat memberi kepada sesama atau berkontribusi bagi pekerjaan Tuhan? Apakah kita sering lalai membayarkan persepuluhan karena merasa sayang untuk mengurangi harta kita? Tuhan harus menjadi yang nomor satu di atas harta kekayaan, harus lebih dicintai, lebih dikejar, lebih diutamakan daripada harta kekayaan. Seberapa pun harta kekayaan material yang Tuhan percayakan kepada kita, kita harus sadar bahwa semuanya itu adalah anugerah sekaligus titipan, yang tidak boleh menjadi tujuan hidup atau kecintaan hati kita. Bagi umat Tuhan, harta dunia, apa pun bentuknya, adalah alat Tuhan untuk memperluas kerajaan-Nya.

 

 Kesimpulan

Makin kita mengejar uang sebagai tujuan dan prioritas utama, makin kecil pula sesungguhnya kekuatan kita untuk mengumpulkan harta. Kita akan makin merasa bahwa jerih lelah kita kurang berhasil, banyak kebocoran keuangan, dan kehilangan berbagai faktor pendukung. Sebaliknya, makin kita mengejar Kristus dan Kerajaan Allah sebagai yang terutama, termasuk dalam hal usaha untuk memperoleh harta material, kita akan mengalami bahwa hidup kita makin berlimpah-limpah dalam kecukupan dan ucapan syukur, bahkan dalam berbagai perbuatan baik kepada sesama.

Alkitab berulang kali memperingatkan kita agar menghindari sikap serakah dan cinta uang. Sebagai Bapa yang baik, Allah ingin memberkati kita secara material; tetapi Dia tidak ingin kita menimbun harta atau menghambur-hamburkannya. Allah justru ingin, melalui harta itu, kita menjadi makin mencintai Dia dan membawa orang-orang lain untuk mengenal dan mencintai Dia pula. Lakukan kesepuluh prinsip ini di dalam kehidupan Anda, dan nikmati perjalanan mengumpulkan harta yang Allah anugerahkan sebagai bagian Anda, termasuk dalam hal memberkati orang lain.

2022-02-25T13:08:40+07:00