///11 Kiat Bersikap Tepat kepada Atasan

11 Kiat Bersikap Tepat kepada Atasan

Artikel ini ditulis untuk menolong kita bersikap dengan tepat kepada pemimpin kita, jadi kiat-kiat yang dibahas akan berfokus pada sikap kita kepada pemimpin. Kali ini kita tidak sedang membahas sikap si pemimpin sendiri, bagaimanapun sikapnya itu. Penting untuk kita sadari, bahwa bukan suatu kebetulan apabila kita mendapatkan pemimpin yang baik, penuh perhatian dan bijaksana. Tetapi, bukan suatu kebetulan pula apabila Tuhan ijinkan kita mendapatkan pemimpin yang tampaknya tidak peduli, cuek, judes, pemarah, pengritik dan mau tahu beres saja. Intinya siapapun pemimpin kita, Tuhan minta sikap yang tepat dari diri kita, yaitu kita belajar untuk menghormati dan menghargainya.

Bagaimana cara-cara kita bersikap tepat dalam memperlakukan pemimpin? Berikut adalah 10 kiat praktis yang bisa kita lakukan:
1. Berikan yang terbaik
Berusahalah untuk selalu memberikan apa yang diharapkan oleh pemimpin dan perusahaan, bahkan lebih daripada itu. Bila kita dapat memberikan apa yang menjadi harapan perusahaan, berarti kita mampu memenuhi tujuan dan sasaran yang ingin dicapai oleh pemimpin. Dalam hal ini, semuanya tergantung dari kita. Kita bisa ikut menentukan apakah ingin agar pemimpin bersikap baik atau tidak, berdasarkan hasil kerja kita.

2. Tawarkan bantuan ketika pemimpin memerlukannya
Ingat, setinggi apapun jabatan pemimpin, ia pun kadang bisa stressed, mendapat tekanan dari atasannya yang lain, atau justru kehabisan ide. Jika kita melihat pemimpin sedang bingung atau punya masalah dalam pekerjaan, tak ada salahnya menawarkan bantuan kepadanya. Tapi pastikan kita tahu bisa membantu menyelesaikannya. Dan kuncinya adalah, kita harus tahu kapan harus menawarkan bantuan. Jika tidak terlalu darurat, biarkan pemimpin mengatasi masalahnya sendiri. Terlalu sering membantu pemimpin justru akan membuat kita tampak berusaha mencari muka untuk mendapatkan jabatan tertentu. Namun di saat yang tepat, jika masalah tersebut bisa kita bantu pecahkan, maka pemimpin akan mengapresiasi kita sebagai karyawan.

3. Pelajari gaya kerja yang diinginkan oleh pemimpin
Salah satu kesulitan dalam membangun hubungan baik, terlebih kepada pemimpin, adalah memahami gaya komunikasi mereka. Pelajari gaya dan metode kerja yang diinginkannya, sehingga tidak terjadi pemahaman yang berbeda atau miskomunikasi. Selanjutnya, bekerjalah sesuai dengan gaya atau metode yang ia inginkan. Kita boleh menggunakan gaya kerja kita, asalkan kita mengkomunikasikan kepada pemimpin terlebih dahulu dengan penjelasan mengapa gaya kerja kita itu akan lebih efektif dan bermanfaat bagi perusahaan.

4. Berkomunikasi dengan cepat dan jujur
Pemimpin kita memerlukan kejujuran walaupun mungkin jawaban jujur bukan merupakan jawaban yang menyenangkan. Kita harus menginformasikan segera jika ada sesuatu buruk yang terjadi, walaupun ini berisiko mendatangkan teguran atau kemarahan pemimpin. Dengan kita melakukan hal seperti ini, pemimpin akan lebih menghargai ketimbang kita menyembunyikan hal-hal buruk dari dirinya, karena setiap hal buruk yang lambat/tidak diinformasikan akan berkembang menjadi semakin buruk. Selalu berikan fakta sejelas-jelasnya. Jangan dikurangi atau dilebih-lebihkan. Hal ini juga berlaku bila pemimpin bertanya tentang keadaan Anda di kantor, atau apakah Anda merasa nyaman setelah sekian lama bekerja di bawah arahannya.

5. Jangan lebay mengumbar janji
Hindari berjanji manis kepada pemimpin jika kita tidak terlalu yakin apakah sanggup untuk mengerjakan tugasnya. Ini berlaku untuk jenis/bentuk pekerjaannya dan tenggat waktu/deadline pekerjaan itu. Banyak bekerja sedikit bicara adalah konsep yang baik untuk menjalin hubungan baik dengan atasan. Beri kejutan pada pemimpin dengan menunjukkan hasil yang memuaskan tanpa harus mengumbar janji manis sebelumnya. Ini jauh lebih baik daripada janji manis itu tidak berhasil kita tepati, apalagi jika kegagalan ini terjadi berulang-ulang.

6. Menjadi problem solver (pemecah masalah)
Ketika kita menghadapi kesulitan atau masalah, tentu pertama-tama kita perlu berusaha mencari jalan keluarnya. Jika kita tidak dapat mengatasi masalah yang dihadapi dan masalah menjadi lebih serius, beritahu pemimpin sesegera mungkin (lihat kembali poin no. 4). Tawarkan jalan keluar dan tanyakan kepadanya apa yang sebaiknya dan seharusnya dilakukan. Jangan biarkan pemimpin mendengar dan mengetahui permasalahan yang kita hadapi dari orang lain. Jadilah bagian dari jalan keluar, bukan bagian dari masalah itu.

7. Tahu diri
Jangan lupa untuk tetap menempatkan diri sesuai peran dalam pekerjaan. Jangan mencampuradukkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi. Seberapapun dekatnya hubungan kita dan pemimpin, tetaplah bersikap wajar dan tahu batasan-batasannya. Bila kebetulan pemimpin adalah tipe yang akrab dan supel, kita tetap harus tahu batas kapan adalah saat yang tepat untuk bersantai/becanda, serta kapan harus tarik diri. Intinya, jangan sampai terjebak menjadi kurang ajar.

8. Kendalikan emosi
Ada kalanya kita akan menghadapi situasi di mana kita perlu melakukan konfrontasi kepada pemimpin. Ini bisa terjadi kapanpun dan di manapun, namun perlu kita sikapi dengan bijaksana, pertikaian mana yang harus diselesaikan dan mana pula yang perlu dihindari. Apapun alasannya, perlu kita ingat senantiasa bahwa ini adalah urusan profesional, bukan personal. Marah-marah, kesal, jengkel, muka “monyong” atau menggosipkan pemimpin tidak akan menghasilkan jalan keluar, namun justru memperlihatkan kepada pemimpin bahwa kita tidak dapat mengendalikan emosi. Hal ini tidak berarti harus duduk diam bila ada hal yang membuat kita marah, tetapi belajarlah mengkomunikasikan kemarahan Anda dengan cara yang baik dan tepat. Jangan menghadap pemimpin ketika napas kita “naik-turun” dan kepala sedang “mengepul”. Sampaikan keberatan kita dengan kata-kata yang baik/sopan namun tepat pada permasalahan, pada saat kemarahan atau emosi sudah reda.

9. Bersikap proaktif
Jadilah karyawan yang proaktif. Ambil inisiatif untuk bertanya apakah ada pekerjaan lain yang bisa kita bantu tangani (jika memang kita mampu mengerjakannya). Jika kita dipercaya untuk memegang tanggung jawab yang lebih besar ini, berusahalah untuk menyelesaikannya dengan benar dan tepat waktu. Sangat mungkin, inisiatif ini mendatangkan penilaian baik, promosi naik jabatan dan masa depan karir yang lebih cerah.

10. Miliki jam kerja yang lebih panjang daripada jam kerja pemimpin
Hadir sebelum pemimpin datang di kantor menunjukkan bahwa kita adalah orang yang siap menerima tugas dan tanggung jawab. Hal ini pun bisa dibarengi dengan pulang kemudian setelah pemimpin meninggalkan kantor. Ini memang bukan kewajiban, namun jika dilakukan dengan tepat (memang untuk bekerja dengan baik, bukan senantiasa lembur karena tidak bisa mengelola waktu kerja atau karena sekedar menunggu pemimpin pulang lebih dulu) dampaknya akan besar. Ingat, untuk membangun sebuah hubungan kerja yang baik dan produktif, kita perlu menyediakan diri dan waktu bagi pemimpin.

11. Senantiasa belajar bertumbuh dalam hal karakter
Kalaupun kita memiliki pemimpin yang menyebalkan, ini artinya Tuhan mengijinkan kita untuk latihan penguasaan diri, latihan mental, latihan berpikiran positif dan latihan 100% bersandar pada Tuhan. Jangan pernah mengharapkan “mujizat” dari Tuhan bahwa pemimpin jatuh sakit dan tidak masuk kerja supaya kita tidak usah bertemu dengannya selama satu atau dua hari. Jangan menghindari “sekolah kehidupan” ini. Dalam segala hal yang terjadi dalam hubungan kerja dengan pemimpin, temukan pembelajaran karakter yang Tuhan berikan dan berubahlah dalam bidang itu. Tetap anggaplah situasi seperti ini sebagai sarana Tuhan mendidik kita agar supaya lebih tangguh dan berkarakter, maka kita akan senantiasa bertumbuh.

Barang siapa menabur hal yang benar dan baik, maka ia akan menuai sesuatu yang benar dan baik pula, yang jauh lebih besar di kemudian hari. Mari kita menabur hal yang baik dengan bersikap secara tepat kepada pemimpin kita, sesuai Firman Tuhan!

“Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu…” (1 Tes. 5:12)

“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya.” (Ibr. 13:17a)

2019-10-17T16:58:29+07:00