//11/01/17 – Ketidak setiaan pada perjanjian

11/01/17 – Ketidak setiaan pada perjanjian

Rabu, 11/01/2017

KETIDAKSETIAAN PADA PERJANJIAN

 

M1 – Membaca Firman di Hadirat Kristus

Matius 5:31-32

 

M2 – Merenungkan Firman di Hadirat Kristus

1. Firman apakah yang disampaikan kepada orang-orang Yahudi tentang perceraian? (ay. 31)

2. Apakah yang dikatakan oleh Yesus tentang perceraian dan pernikahan ulang? (ay. 32)

3. Jadi, bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap perjanjian pernikahan?

 

PENGAJARAN:

Di zaman Yesus ada berbagai pendapat tentang boleh tidaknya perceraian dan alasan-alasan untuk perceraian itu. Ada pendapat yang mengatakan bahwa perceraiandiperbolehkan dengan alasan apa saja (paling liberal), tetapi ada pula yang berpendapat bahwa perceraian tidak diperbolehkan kecuali karena perzinahan (bahasa Yunani: moichao). Nah, apa pendapat Yesus sendiri tentang perceraian? Dalam Matius 19:3-9, kita dapat melihat bahwa Yesus bukan penganut pendapat yang pertama maupun yang kedua.

Yesus menganut standar seperti SEJAK SEMULA. Ia berkata bahwa apa yang dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Mengapa? Karena pernikahan adalah SEBUAH PERJANJIAN (COVENANT). Covenant adalah perjanjian sehidup semati tanpa syarat. Hanya kematianlah yang menceraikannya.Lalu, mengapa pada ayat 32 terdapat anak kalimat “KECUALI KARENA ZINAH”? Apakah Yesus mengizinkan adanya perceraian “KARENA ALASAN PERZINAHAN?” Disini terjadi salah pengertian apabila kita tidak mengerti konteks PERNIKAHAN orang Yahudi.

Ingat, kitab Matius ditulis dalam konteks untuk pendengar utamayaitu kalangan orang Yahudi. Dalam budaya pernikahan orang Yahudi, seorang yang sudah BERTUNANGAN dengan tunangannya,mereka sudah disebut sebagai suami-istri,meski belum boleh berhubungan seks (contoh: Yusuf dan Maria yang bertunangan disebut SUAMI-ISTRI, Mat. 1:18-19). Jika “suami-istri” yang terikat pertunangan ini menyeleweng,mereka dianggap melakukan DOSA PERCABULAN (bahasa Yunani: PORNEA), bukan DOSA PERZINAHAN (bahasa Yunani: MOICHAO). Kedua kata ini, “pornea” dan “moichao”, diterjemahkan menjadi “zinah” dalam Alkitab bahasa Indonesia. Inilah yang mengaburkan perbedaan maknanya.

Menurut budaya orang Yahudi, bila sesesorang yang telah bertunangan melakukan penyelewengan, ia berbuat dosa PERCABULAN (bahasa Yunani: PORNEA), dan si tunangan boleh menceraikan dia dari ikatan pertunangan itu (Mat. 1:18-19). Jadi, yang dimaksud oleh Yesus adalah bahwa pernikahan yang adalah PERJANJIAN/ COVENANT tidak boleh diceraikan oleh manusia dengan alasan apapun.Yang boleh dicceraikan adalah ikatan pertunangan sebelum pernikahan, yang salah satu pasangan tunangan melakukan PERCABULAN (PORNEA).

Itulah sebabnya, pada ayat-ayat paralel yang ditulis oleh Markus dan Lukas, tidak ada kata-kata “KECUALI KARENA ZINAH” (Mrk. 10:11-12; Luk. 16:18). Mengapa? Karena pendengar utama kedua Injil itu bukanlah orang Yahudi, yang tidak memiliki budaya sebutan “suami-istri” bagi pasangan tunangan yang belum menikah. Kesimpulan Yesus sangat tegas sekali bahwa, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena PERCABULAN (PORNEA dalamkasus PERTUNANGAN), ia menjadikan isterinya BERZINAH (MOICHAO); dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat ZINAH (MOICHAO),”(Mat. 5:32? TB?).

 

M3 – Mendengar dan melakukan firman Kristus

M4 – Membagikan firman Kristus

2019-10-17T12:25:43+07:00