“Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi Tuhan; sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman.” Amsal 16:5
Akar masalah hidup manusia yang sering kali tidak disadari adalah kesombongan. Orang sering tidak sadar bahwa dirinya sombong. Bahkan, kalau ada orang yang merasa bahwa dirinya tidak sombong itu pun merupakan suatu kesombongan.
Kesombongan berasal dari kata dasar “sombong” (bahasa Inggris: pride; bahasa Latin: superbia), yang artinya angkuh, takabur, arogan, congkak, tinggi hati, jumawa, dan besar kepala. Kesombongan bisa diartikan sebagai suatu keyakinan pada diri sendiri yang berlebihan dan cenderung tidak menyadari dan menghargai anugerah Allah dalam hidupnya.
Mari kita terlebih dahulu melakukan deteksi dini apakah kita masing-masing pun sombong, dengan menjawab empat pertanyaan sederhana berikut ini:
- Apakah saya merasa diri penting?
Merasa diri penting ditunjukkan dengan sikap-sikap seperti merasa layak diperhatikan, layak dihormati, layak didahulukan, layak untuk dilayani, dan layak untuk dihargai. Ketika kita tidak mendapatkan perhatian, penghormatan, pelayanan, penghargaan sebagaimana yang seharusnya menurut kita dan kita harapkan, kita menjadi tersinggung dan marah karena merasa dianggap tidak penting.
- Apakah saya merasa diri mampu?
Merasa diri mampu berkaitan dengan kemampuan diri dalam banyak aspek, seperti kemampuan secara ekonomi, intelektual, kemampuan mengatur orang lain karena memiliki posisi penting dalam pekerjaan, dan kemampuan-kemampuan lainnya. Dengan kemampuan yang dimiliki, kita merasa bahwa semua orang atau semua hal bisa diatur sesuai keingina kita.
- Apakah saya meremehkan atau merendahkan orang lain?
Ketika kita mulai memandang sebelah mata terhadap orang lain, beranggapan orang lain tidak berhak mendapatkan penghargaan lebih daripada kita, menilai orang lain tidak layak menerima penghormatan dan orang lain layak direndahkan, ini semua berarti kita meninggikan diri dan meremehkan orang lain. Kita lupa bahwa kita telah ditebus dengan harga yang sama yaitu darah Yesus.
- Apakah saya merasa tidak butuh Tuhan?
Kesombongan pada tingkat ini berarti kita merasa bahwa semua pencapaian kita adalah karena kemampuan diri sendiri, terlepas dari pemberian atau tanpa pertolongan Tuhan. Di titik inilah kita merasa tidak butuh Tuhan dalam hidupnya, lalu kita lupa bahwa sumber hidup kita adalah Tuhan.
Tanpa sengaja dan tanpa kita sadari, mungkin saja kita memiliki ciri-ciri salah satu atau semua hal yang ditanyakan ini, dan itu berarti kita sombong. Syukurlah, masih ada kesempatan untuk memperbaikinya, dengan mengingat kembali bahwa hanya mengenal Tuhanlah yang membawa kita sampai pada kondisi kita saat ini. “Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN,” kata Yeremia 9:23-24 (TB).
1 Korintus 13:4 pun tegas memberikat obat penawar bagi kesombongan kita, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.”
Solusi mengatasi kesombongan adalah kasih, karena kasih itu tidak sombong. Seorang yang penuh kasih tidak mungkin penuh kesombongan. Kasih berfokus pada Tuhan dan sesama, sedangkan kesombongan berfokus pada diri sendiri. Kasih dan sombong tidak pernah berjodoh, karena orientasi keduanya berbeda. Itulah sebabnya orang yang sombong tidak mungkin mengasihi, karena keduanya saling berlawanan. Untuk lepas dari jerat kesombongan, mari kita amati dan kembangkan ciri-ciri kasih berikut:
- Mudah berterima kasih
Orang yang mudah berterima kasih adalah orang yang memiliki rasa syukur yang besar untuk apa pun yang diterimanya. Berterimakasih adalah sebuah bentuk kerendahan hati bahwa semua yang diterima berasal dari Tuhan, dan Tuhan memakai siapa saja untuk menjadi alat-Nya.
- Mudah meminta maaf
Bukan perkara mudah untuk meminta maaf kepada orang lain, walaupun sadar bahwa sudah melakukan sebuah kesalahan, apalagi meminta maaf kepada orang yang kita anggap lebih rendah atau lebih muda dari kita. Orang yang mudah meminta maaf jelas adalah orang yang tidak sombong.
- Mudah diajar dan menerima masukan
Orang yang mudah diajar dan menerima masukan adalah orang yang selalu berpikir bahwa dirinya selalu ingin bertumbuh dan lebih baik. Ini adalah salah satu ciri terkuat yang tampak pada orang-orang yang tidak sombong.
- Mudah mendengarkan
Untuk memiliki telinga yang mudah mendengarkan dibutuhkan kerelaan hati dan kerendahan hati untuk menjadi “tempat penampungan sampah”, yaitu keluh kesah dan pergumulan orang lain. Orang yang demikian memiliki kerelaan karena kasih untuk melayani orang lain, dan jelas bukan orang yang sombong.
“Tinggi hati mendahului kehancuran tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.”
Amsal 18:12