//21/09/12 – Hati yang teguh

21/09/12 – Hati yang teguh

Jumat, 21/09/2012

HATI YANG TEGUH

Bacaan Firman :
Bacalah Daniel 3:1-30 dengan hati yang berdoa untuk menerima pencerahan dari Allah dalam saat teduh hari ini

Pertanyaan Renungan
1. Apa perintah Nebukadnezar ketika patung emas ditahbiskan? Apa akibatnya bila tidak patuh? (ayat 4-7). Bagaimana respon Sadrakh, Mesakh dan Abednego? (ayat 16-18).
2. Apa dampak dari keteguhan hati ketiga orang Yahudi ini? (ayat 28-30).

Raja Nebukadnezar dari Babel membuat patung emas yang tingginya enam puluh hasta (kira-kira 27 meter) dan lebarnya 6 hasta (kira-kira 2,7 meter). Ukuran 1 hasta = 45 cm menurut ukuran sekarang ini. Patung ini didirikan di dataran Dura di wilayah Babel. Raja memerintahkan kepada seluruh pejabat: para wakil raja, penguasa, bupati, penasihat negara, bendahara, hakim, ahli hukum dan semua kepala daerah untuk menghadiri pentahbisan patung itu. Perintah Nebukadnezar adalah semua orang yang hadir harus sujud menyembah kepada patung itu ketika tanda dibunyikan. Di antara yang hadir terdapat Sadrakh, Mesakh dan Abednego, karena Nebukadnezar menyerahkan sebagian pemerintahan wilayah di Babel kepada mereka. Namun mereka tidak mematuhi perintah raja Nebukadnezar untuk menyembah patung emas itu. Akibatnya, mereka diikat dan dimasukan ke dalam perapian yang menyala-nyala, bahkan tujuh kali lebih panas dari biasanya. Tidak mudah bagi mereka untuk menghadapi situasi yang terjepit seperti itu. Pilihan mereka antara mati atau hidup, tetapi mereka tetap memiliki hati yang teguh dengan berkata, “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu,”(ayat 16-18). Itulah buah dari keteguhan hati yang luar biasa. Bagaimana dengan kita, seandainya kita diperhadapkan dengan situasi seperti itu? Bisakah kita membuat keputusan yang hebat seperti ketiga orang ini? Mungkin kita belum sampai diperhadapkan dengan pilihan antara hidup atau mati, tetapi pilihan antara hidup benar atau hidup tidak benar, antara kompromi atas dosa atau tidak. Jika mereka bisa memiliki keteguhan hati untuk mempertahankan iman mereka, mengapa kita tidak bisa? Ingatlah bahwa Allah memperhitungkan keteguhan hati kita seperti mereka juga.

Praktek
Bagaimana sikap hati kita selama ini? Apakah kita mempunyai sikap hati seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang tidak tergoyahkan walaupun nyawa menjadi taruhannya? Apakah kita masih kompromi dengan dosa-dosa? Setelah membaca renungan ini, adakah sisi kehidupan Anda hari ini yang ditegur? Buatlah komitmen untuk hidup benar.

2019-09-26T22:25:29+00:00