//24/02/17 – Komunitas Agape yang saling menyembuhkan

24/02/17 – Komunitas Agape yang saling menyembuhkan

Jumat, 24/02/2017

KOMUNITAS AGAPE YANG SALING MENYEMBUHKAN


M1 – Membaca Firman di Hadirat Kristus

Lukas 6:37-42

 

M2 – Merenungkan Firman di Hadirat Kristus

1. Perbuatan apakah yang dilarang oleh Tuhan dan perbuatan apa yang diperintahkan oleh Tuhan untuk dilakukan di dalam sebuah komunitas? Prinsip apakah yang harus kita praktikkan dalam membangun hubungan dalam komunitas? (ay. 37-38)

2. Perumpamaan apakah yang Yesus berikan tentang kepemimpinan dan pemuridan? (ay. 39-40)

3. Bagaimanakah caranya agar kita dapat mengeluarkan selumbar dari mata saudara kita? (ay. 41-42)

 

PENGAJARAN:

Sikap saling menghakimi dan saling menghukum adalah sikap yang paling merusak di dalam komunitas Kerajaan Allah. Seharusnya, di dalam komunitas Kerajaan Allah, kita bisa berlomba-lomba untuk saling memberi pengampunan. Bila kita saling menghakimi dan saling menghukum, kita akan saling melukai dan saling menghancurkan. Mengapa? Sebab tidak ada seorang pun yang mampu menghakimi dan menghukum dengan adil seperti Tuhan. Jika kita mencoba menghakimi dan menghukum seperti Tuhan, kita pasti gagal dan akibatnya komunitas kita akan berakhir dengan luka-luka parah. Hal itu seperti pisau operasi. Pisau operasi itu hanya akan efektif untuk menyembuhkan dan memulihkan orang sakit bila ia digunakan oleh dokter ahli bedah. Nah, jika pisau operasi digunakan oleh seorang pemarah yang belum pulih tentu akan sangat melukai orang.

Demikian pula dengan penghakiman dan penghukuman adalah hak dan tugas Tuhan, bukan hak dan tugas kita. Jangan coba-coba mengambil hak dan tugas Tuhan, kita pasti akan kewalahan dan stres. Jika seseorang mencoba mengambil selumbar di mata saudaranyatetapi mempunyai balok yang menutupi matanya, ia tidak mungkin mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaranya. Sebaliknya, ia dapat melukai mata saudaranya karena tidak melihat dengan jelas. Apakah balok itu? Jelas, balok adalah sikap menghakimi. Dosa menghakimi itu bagi Tuhan dianggap balok yang lebih besar dari dosa yang dihakimi yang digambarkan sebagai selumbar. Mengapa? Karena menghakimi adalah mengambil hak dan tugas Tuhan. Itu adalah dosa besar. Karena itu apabila kita ingin dipakai untuk mengeluarkan selumbar di mata orang lain, kita harus terlebih dahulu mengeluarkan balok dari mata kita. Dengan demikian, kita dapat melihat dengan jelas dan dapat menolong saudara kita untuk mengeluarkan selumbarnya. Lalu, apa itu selumbar? Selumbar adalah dosa, kelemahan, kebiasaan buruk seseorang yang bisa dirasakan dan sangat menyakitkan, tetapi orang yang mempunyainya tidak tahu di mana adanya dan ia sendiri tidak dapat mengeluarkannya. Ingat, pada zaman dahulu tidak ada cermin yang bening, sehingga orang yang kelilipan (kemasukan) selumbar (serbuk gergaji) tidak dapat melihat atau mengeluarkanya sendiri. Orang yang kelilipan selumbar memerlukan orang lain untuk mengeluarkan selumbar itu. Jadi, marilah kita menjadi kompak yang tidak saling menghakimi dan menghukum, tetapi menjadi komunitas agape yang saling mendengar dengan empati, sehingga semua selumbar di antara kita dapat dikeluarkan. Dengan saling mengasihi, kita pasti menjadi komunitas yang saling menyembuhkan.

2019-10-17T12:17:03+07:00