//4 Cara Jitu untuk Kehilangan Jodoh yang dari Tuhan

4 Cara Jitu untuk Kehilangan Jodoh yang dari Tuhan

* Cara ke 02 : “Utamakan penampilan seseorang lebih daripada apapun !”
Komunitas para pencari jodoh atau petualang-petualang cinta adalah faktor yang paling menentukan seseorang sehingga memiliki cara pandang seperti di atas. Memang pengaruh media hiburan dan film punya andil tapi tidak sebesar pengaruh dari pergaulan komunitas ini.

Mengapa cara ini bisa membuat kita kehilangan Jodoh kita yang sebenarnya ?
Yohanes 7:24 “Jangan menghakimi menurut apa yang tampak, tetapi hakimilah yang adil.”

Maksudnya bahwa yang tampil di permukaan tidak memberikan gambaran mengenai keadaan seluruhnya. Yang ditampilkan hanya permukaan laut yang tenang padahal di bawahnya terdapat arus dalam yang kuat.

Bertemu dengan jodoh dan akhirnya menikah bukanlah sekedar hal jasmani semata, tapi lebih penting lagi, karena masalah pernikahan dan jodoh adalah “hal yang rohani”.

Dalam Maleakhi 2:15 menyatakan bahwa Allahlah yang menghendaki jika seseorang bertemu dengan jodohnya yang diakhiri dalam sebuah pernikahan. Ini menunjukkan bahwa masalah rohani dari seseorang lebih penting daripada masalah jasmani untuk memastikan ia adalah jodoh dari Tuhan atau bukan.

Pertama yang perlu diingat adalah tidak mungkin Allah akan pertemukan kita dengan jodoh dari seseorang yang belum menerima Yesus sebagai Tuhan di hidupnya, karena bukankah firman Tuhan menegaskan bahwa Terang dan gelap tidak mungkin bersatu (2 Kor 6:14). Jadi sekalipun secara penampilan “masuk dalam kriteria” tapi belum Lahir Baru, maka sudah dapat dipastikan saat ini ia bukanlah Jodoh dari Tuhan.

Tapi bukankah, dengan saya berpacaran dengan dia, saya bisa membawa dirinya menerima Yesus sebagai Tuhan ? Jangan tertipu oleh iblis. Tuhan akan mempertemukan kita dengan jodoh kita untuk membangun hubungan sahabat yang lebih dalam hanya dengan orang yang telah Lahir Baru.

Jika seandainya benar, Tuhan ternyata menyediakan jodoh dari orang yang belum percaya; biarkan saja ia tetap berada dalam prosesnya Tuhan untuk mengenal keselamatan dan mengalami proses Kelahiran Baru dengan caranya Allah dan bukan dengan caranya kita. Kesampingkan dahulu kerinduan untuk ber-jodoh dengan dia, tunggu sampai Tuhan yang memberitahu kapan waktunya untuk dipertemukan sebagai jodoh.

 

* Cara ke 03 : “Iman-i bahwa Tuhan menetapkan orang yang menimbulkan simpatik adalah Jodoh yang dari Tuhan”
Kepercayaan bahwa Tuhan akan bekerja seperti apa yang kita kehendaki merupakan modal utama untuk menumbuhkan sikap hati seperti ini.

Mengapa cara ini bisa membuat kita kehilangan Jodoh kita yang sebenarnya ?
Karena “iman” yang digunakan dalam hal ini bukanlah iman yang sebenarnya. Ibrani 11:1 menyatakan bahwa “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

“Bukankah itu artinya saya boleh ber-iman dengan sesuatu yang saya harapkan ?”
Oh…tunggu sebentar ada ayat kedua yang akan memperjelas maksud Ibrani 11 ini, yaitu Yakobus 4:3 “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu”

Jadi iman sejati tidak timbul dari pengharapan karena nafsu keinginan (“nge-bet” dapat jodoh) tapi dari firman Tuhan yang adalah KehendakNYA. Justru kalau kita berusaha “Iman-i “ seseorang menjadi jodoh kita, menurut Yakobus 4:3, kita tidak akan menerima apa-apa.

* Cara ke 04 : “Jangan biarkan si-doi lepas dari cengkeraman”
Pepatah “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino” (bahasa Jawa artinya “Cinta tumbuh karena terbiasa” ) menjadi prinsip yang mendasari “semangat ‘45” ini dalam mendapatkan jodoh yang dari Tuhan.
Mengapa cara ini bisa membuat kita kehilangan Jodoh kita yang sebenarnya ?

Sekalipun dikemas dengan segala istilah dan bumbu-bumbu rohani, didoakan, di-iman-i, di-puasakan tetap saja pengertiannya adalah memaksakan Allah pada kehendak kita.

Pemuda atau pemudi yang “berjuang” dalam PeDeKaTe dengan filosofi ini memang seringkali terlihat berhasil “jadi-an” bahkan masuk dalam pernikahan. Tapi tidak sedikit bahkan terhitung banyak yang mengalami keraguan saat menjalani pernikahan. “Apakah betul suami/isteri saya adalah jodoh yang dari Tuhan ? “.

Mengapa demikian ? Karena usaha yang gencar untuk mencengkeram sang pujaan hati sampai ia bertekuk lutut cenderung akan membuahkan kesepakatan untuk menikah karena faktor sungkan, tidak enak hati, kasihan dan unsur coba-coba. Padahal, siapakah yang sebenarnya lebih mengenal diri kita dan seluruh kebutuhannya ? Diri kita sendiri atau Yang Menciptakan diri kita ?

Seorang penyanyi rohani ’80 an Sheila Walsh menyanyikan sebuah lagu berjudul “Lord You Know me Better Than I Know Myself “ mungkin bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Trus…kalau cara jitu supaya tidak kehilangan Jodoh yang dari Tuhan, bagaimana?
Firman Tuhan dalam Yesaya 40:31 memberikan kuncinya, sebagai berikut: “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”
“Menanti-nantikan TUHAN” adalah kuncinya. Bagaimana praktisnya ? Nantikan dalam edisi BUILD bulan Juli 2013
(hy bersumber dari buku “Pria Idaman” Jo Lynne Pool, Metanoia 1998)

2019-09-25T11:27:40+07:00