///5 perilaku pemimpin yang merusak tim kerja

5 perilaku pemimpin yang merusak tim kerja

Contoh yang terdengar familier ini menunjukkan betapa banyaknya pemimpin perusahaan yang sebenarnya tidak mengerti bagaimana menjadi pemimpin yang efektif, dan hanya berperan sebagai “penyuruh” yang sekadar memberikan perintah kepada bawahannya. Apa saja kebiasaan buruk yang patut kita singkirkan jika kita ingin menjadi pemimpin yang efektif bagi tim kerja kita?

 

1. Tidak memiliki perencanaan kerja yang jelas

Kesalahan yang banyak dilakukan seorang pemimpin adalah tidak memiliki rencana kerja yang terperinci yang bisa dipahami oleh para anak buahnya. Di banyak perusahaan, para manajer dan supervisor bekerja tanpa adanya perencanaan kerja yang terperinci yang mampu menjawab what, why, when, who, where dan how dalam setiap kebutuhan/permasalahan/strategi. Biasanya, pemimpin hanya memberikan target atau sasaran kerja, tanpa diimbangi dengan penjelasan bagaimana cara mencapainya. Syukurlah, kadang para manager bersikap proaktif dan kreatif, sehingga mencari cara atau strategi untuk mencapai apa yang diinginkan sang pemimpin. Tetapi sayangnya, tidak semua manajer memiliki kemampuan seperti itu. Situasi ini akan semakin tidak kondusif apabila para pemimpin perusahaan memiliki sikap tidak peduli dan beranggapan bahwa yang terpenting adalah tugas itu selesai sesuai dengan target waktu dan hasil yang ia inginkan, tanpa mau melibatkan diri dalam mengarahkan caranya.

 

2. Arogan dan tidak mau menerima masukan orang lain

Alkisah, seorang pebisnis menceritakan susah-payahnya membangun bisnis. Cerita yang mengharukan sekaligus heroik pun dibagikannya, tentang ketika dia harus tidur di kolong jembatan saat tiba di ibukota di usia remaja, tentang menikah tanpa uang sepeser pun, tentang tinggal di rumah kontrakan kecil, dan berbagai perjuangan hebat lainnya. Sambil mengamati cara kerja orang sukses, mencontoh, dan memodifikasi sendiri produknya, perlahan-lahan dia pun berjaya. Tiga pabrik besar ada di genggamannya kini. Namun, sayang sekali, ketika perusahaannya ditempa badai masalah internal, pribadi yang telah banyak makan asam-garam ini ternyata arogan. Dia otoriter dan anti terhadap kritik. “Kalau saya bisa, kalian juga harus bisa,” katanya dengan sombong. Dia pun menolak ide-ide baru, mengelola perusahaan dengan serampangan, hingga akhirnya yang tersisa di dalam tim kerjanya hanyalah kelompok para “penjilat” yang tidak berani melawan dan tidak memiliki pilihan lain di luar perusahaan itu.

 

Dari situ, kita belajar banyak untuk berhati-hati. Kesuksesan jangan pernah membuat kita arogan dan terlalu berpusat pada diri sendiri, sehingga tidak mau lagi mendengarkan orang lain. Seorang CEO dari perusahaan Fortune 100 mengatakan: “Sukses bisa membuat kita jadi arogan. Saat kita arogan, kita berhenti mendengarkan. Ketika kita berhenti mendengarkan, kita berhenti berubah. Dan di dunia yang terus berubah dengan begitu cepat seperti sekarang, kalau kita berhenti berubah, kita akan gagal.”

 

3. Tidak konsisten dalam menjalankan kebijakan

Seorang pemimpin perlu mewaspadai sikap yang tidak konsisten dalam menjalankan kebijakan. Pertimbangan pribadi seringkali membuat pemimpin terdorong untuk membuat peraturan atau penyesuaian terhadap peraturan yang sebelumnya telah berlaku, sehingga seluruh tim kerja terdampak dalam bentuk perubahan-perubahan mendadak yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Contoh-contohnya adalah aturan denda bagi karyawan yang tiba terlambat di kantor, yang didiskon saat karyawan yang terlambat adalah mereka yang memiliki hubungan dekat dengan pemimpin; atau larangan penggunaan kendaraan dinas di akhir pekan, yang tidak berlaku untuk karyawan yang merupakan kerabat sang pemimpin. Surat kabar bahkan pernah memberitakan tentang kasus bunuh diri seorang karyawan di AS setelah membunuh sembilan orang rekan kerjanya, yang sakit hati karena perlakuan manajernya yang diskriminatif dan tidak konsisten terhadap kebijakan kantor. Akibat inkonsistensi pemimpin, timbullah petaka di dalam tim kerja. Kadang, petaka ini begitu tragis karena tentu telah muncul sikap tidak suka, apatis dan tidak respek kepada pemimpin.

 

4. Tidak tegas

Cukup banyak kita mendapati pemimpin di perusahaan yang memiliki karakteristik labil, ragu-ragu, serta tidak tegas. Hal ini terjadi karena si pemimpin tidak mampu menganalisis situasi dan mengambil keputusan secara cermat, serta tidak dapat membaca kemungkinan-kemungkinan hasil akhirnya. Sangat disayangkan jika seorang pemimpin tidak memiliki sikap tegas, terutama dalam memutuskan atau bertindak, karena karyawan akan dihadapkan pada ketidakjelasan, yang bahkan bisa mengarah pada pembiaran masalah. Tentu saja ini bukan kenyataan yang harus dimaklumi dan diterima begitu saja.

 

Jika Anda tidak dapat bersikap tegas, Anda tidak cocok untuk menjadi seorang pemimpin. Pada dasarnya, seorang pemimpin harus memiliki otoritas atas kata-katanya. Dalam bisnis, merasa tertekan terutama ketika pengambilan keputusan memang tidak bisa dihindari, mengingat bahwa Anda tidak dapat mengambil risiko yang tidak perlu untuk bisnis Anda. Namun, itu bukanlah alasan untuk ragu-ragu pada hal-hal yang harus Anda lakukan untuk bisnis Anda. Latih diri Anda bersikap tegas sebagai pemimpin, mulai dari keputusan-keputusan kecil yang minim risiko hingga keputusan-keputusan besar yang melibatkan risiko besar pula, seiring dengan pertumbuhan tanggung jawab kepemimpinan Anda.

 

5. “Membantai” produktivitas dan semangat kerja tim

Pada umumnya, karyawan tidak suka dengan pemimpin yang sering “membunuh” produktivitas dan semangat kerja mereka melalui meeting. Apa yang dimaksud dengan meeting yang demikian? Tak lain adalah meeting yang bercirikan:

1. sering diadakan mendadak, sehingga karyawan tidak sempat mengatur jadwal kerja dengan efektif,

2. tanpa notulen, sehingga membahas ulang masalah yang pernah dibahas namun terlupakan (dan membuang-buang waktu karyawan sehingga mereka harus kerja lembur),

3. agenda rapat yang tidak jelas dan melebar ke luar topik pembahasan awal,

4. membahas masalah satu orang/bagian tertentu, sedangkan yang lain terpaksa ikut mendengarkan walau tanpa relevansi,

5. berjalan tanpa memperhatikan waktu dan tidak memiliki batas waktu,

6. penuh berisi “tembakan” kritik yang memalukan dari pemimpin kepada karyawan, di hadapan seluruh peserta rapat.

 

Lima kebiasaan pemimpin yang diulas ini adalah bahan refleksi diri kita sebagai pemimpin. Karyawan kita adalah orang-orang yang menolong kita mencapai tujuan bersama perusahaan. Mereka perlu dipimpin secara efektif dan benar. Perilaku seorang pemimpin yang merusak tim sudah pasti akan merugikan dirinya dan juga perusahaan. Mari segera perbaiki diri dari kelima kebiasaan di atas, agar kita bertumbuh menjadi pemimpin yang efektif, bukan menjadi pemimpin yang merusak tim kerja.

2019-10-17T14:09:39+07:00