//5 TANDA HATI YANG TAHAN UJI

5 TANDA HATI YANG TAHAN UJI

• Hati yang tahu akan bahaya dan kesempatan.
Contohnya ketika kita mendapat kesempatan, berkat, prestasi, kemurahan, keberhasilan, apakah kita juga bisa bersyukur, tetap rendah hati dan tetap waspada, tidak takabur, tidak senang berlebihan?

Hati yang waspada lawannya adalah hati yang dingin, beku, cuek, tak acuh, tidak mau
tahu, sembrono. Tidak mau belajar kehidupan.
Bagaimana hati kita sekarang? Mari kita nilai dengan jujur di hadapan Tuhan.

2. Hati yang Terkendali

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” (Amsal 16:32)

Ciri-ciri hati yang terkendali adalah:
• Hati yang terkontrol, tidak emosional.
Seringkali kita tidak pernah bisa menguasai diri ketika dalam keadaan emosional. Contohnya: Kita sering reaktif, kurang berpikir panjang, tidak memikirkan dampak, dikuasai oleh waktu, berpikir tidak logis.

Hati yang terkendali adalah kemampuan untuk mengontrol emosi dengan rasional. Jika kita tidak tahan dengan emosi kita, sebaiknya kita mencurahkan isi hati kita kepada orang yang bisa kita percayai.

• Hati yang berfungsi benar adalah hati yang mengakomodasi perasaan yang bermanfaat dan membangun. Jikalau kita membiasakan diri untuk berespon benar, ketika situasi tidak benar, ketika orang lain tidak benar, maka kita akan mendapatkan perasaan kemenangan yang sangat luar biasa.

Lawan dari hati yang terkendali adalah hati yang emosional, sensitif tidak terkendali, dan moody. Jikalau hati yang memegang kendali, maka kita tidak akan mampu menguasai diri kita.

Apakah kita mau mengendalikan emosi kita sekarang? Ayo, jangan tunda! Segera lalkukan sekarang, dengan minta pertolongan Tuhan, kita kuasai hati kita

3. Hati yang Berempati

“dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” (Efesus 5:2)

Ciri-ciri hati yang berempati adalah:

• Hati yang beratensi dan bersimpati adalah sebuah pengorbanan ketika kita mau berusaha untuk mulai memperhatikan dan memahami perasaan orang lain. Perlu sekali mengambil waktu beberapa detik saja untuk melihat mimik wajah, bahasa tubuh atau intonasi suara orang yang kita temui, dan kita coba menanyakan apa yang terjadi dengan mereka, itulah tanda hati yang beratensi dan bersimpati.

Hati yang mendorong untuk peduli, untuk bertindak bagi sesama, dan tidak menahan pertolongan bagi mereka yang membutuhkan. Sekecil apapun bentuk kepedulian kita jikalau didasari oleh ketulusan, maka akan menjadi dampak yang besar bagi yang menerimanya.

• Hati yang berbelas kasih adalah hati yang memiliki kepekaan akan kebutuhan orang lain. Ketika orang lain acuh, kita mampu mengenali kebutuhan orang lain. Tindakan yang nyata yang didasari belas kasihan akan menghasilkan mujizat yang tidak pernah kita pikirkan. Di kitab injil sebelum Yesus membuat mujizat, selalu hatiNya digerakan oleh belas kasihan. Jadi belas kasihan adalah dasar utama untuk terjadinya sebuah mujizat.

Lawan dari hati yang berempati adalah: Hati yang cuek, hati yang tega, hati yang keras, hati yang tidak peduli.
Bagaimana dengan hati kita sekarang? Marilah kita tidak mengeraskan hati dan mulai ambil peduli terhadap keluarga kita dan orang-orang disekeliling kita.

 

4. Hati yang Bersyukur

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (2 Tesalonika 5:18)

Ciri-ciri hati yang bersyukur adalah:

Hati yang memiliki ruang gagal luas. Kebiasaan orang adalah memberi hitungan 3x untuk bisa gagal. Kita sering berkata “Kamu sudah 2x gagal, jangan sampai yang ke-3”. Manusia menetapkan hanya 3x orang lain bisa gagal, itu adalah ukuran hati yang sempit. Mari kita belajar untuk menerima kegagalan orang lain lebih dari 3x. Itulah hati yang bersyukur.

• Hati yang memahami penderitaan sebagai pembentukan karakter. Respon alamiah kita ketika mengalami penderitaan adalah menolak dan melawan atau menghindar. Tetapi jika sampai saat ini kita diijinkan untuk menderita bukan untuk kesalahan, percayalah bahwa penderitaan itu berguna untuk membangun mental dan karakter kita agar seperti Kristus. Itulah hati yang bersyukur.

Hati yang mampu menimbang kebawah dan bukan keatas. Sering kali kita malah membandingkan dengan orang yang bernasib lebih baik dari kita sehingga kita sulit untuk bisa bersyukur. Yang terjadi adalah kita iri hati. Tetapi jika kita mau melihat kebawah, dan membandingkan dengan yang lebih buruk, maka kita akan lebih mudah untuk bersyukur.

Lawan hati yang bersyukur adalah hati yang iri, cemburu, menuntut, membenarkan diri, menyalahkan orang lain, mengkritik, tidak perrnah puas, menggerutu terus menerus, panas hati, kepahitan.

Apakah kita mengalami situasi hati yang buruk seperti ini? Mari kita bertobat dan belajar bersyukur. Bersyukur adalah kehendak Tuhan, dan ketika kita bersyukur, Allah akan menolong kita.

5. Hati yang Lembut dan Tegas

“Ketulusan (lembut) dan kejujuran (tegas) kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau.” (Mazmur 25:21)

Ciri-ciri hati yang lembut dan tegas adalah:

• Hati yang bertoleransi tanpa kompromi.
Contohnya: Kita bisa berada di tengah-tengah orang merokok, tapi kita tidak ikut merokok. Tuhan Yesus banyak memberikan contoh berkumpul dengan orang-orang yang berperilaku jahat dan Yesus menjadi berkat di tengah-tengah mereka. Kelembutan dan ketegasan adalah hal yang antagonis, tapi jika disatukan akan menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa, yang mampu memberkati orang-orang sekeliling kita.

• Hati yang bijak dalam memilih adalah hasil dari hati yang lembut dan tegas.
Jika kita bingung dan ragu-ragu, maka pada saat itulah kita membutuhkan kejujuran dan ketegasan di dalam hati nurani kita. Karena kita seringkali bingung karena tidak tegas dan ragu, karena kita tidak tulus.

Hati yang berespon benar adalah hati yang seperti Kristus yang dipuji oleh Allah, karena bukan merasakan benar atau salah, tetapi selalu ingin berespon benar seperti Kristus. Kita tidak mampu mengubah situasi atau orang lain, tapi kita mampu mengubah respon kita, itulah hati yang berespon benar.

Lawan hati yang lebut dan tegas adalah hati yang lemah, kompromistis, sulit menolak, tidak tegas, terlalu perfeksionis, hati yang ikut-ikutan.

Bagaimana dengan hati kita sekarang? Mari kita minta kepada Tuhan agar melembutkan hati kita, sambil memegang kebenaran dan kuat.

Kesimpulan: Hati tahan uji adalah hati yang dipuji oleh Tuhan. Tuhan saat ini sedang mencari hati orang pilihan-Nya untuk dijadikan alat transformasi. Garam dan terang bagi sekelilingnya. (Transformasi Hati adalah Transformasi Kehidupan)

2019-09-25T07:03:50+07:00