///Being A Creditable Citizen (menjadi warga yang terpuji

Being A Creditable Citizen (menjadi warga yang terpuji

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” – Yeremia 29:7

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah menjadi warga negara yang baik? Di masa sekarang ini, banyak sekali ucapan negatif kita dengar (atau kita keluarkan sendiri) tentang pemerintah kita; berbagai hujatan dan makian dengan dalih memberikan kritik atau mengingatkan demi reformasi dan pembangunan. Kritik dan masukan yang sehat tentu baik, tetapi ada baiknya pula kita mulai mengevaluasi diri masing-masing sebagai warga masyarakat dan bangsa Indonesia: sejauh mana kita berperan dalam mewujudkan cita-cita bangsa menuju masyarakat adil dan makmur. Perkembangan dan kemajuan bangsa kita membutuhkan peran serta seluruh masyarakat dalam mewujudkannya, termasuk diri kita masing-masing.

Kewarganegaraan sebenarnya dapat kita pandang sebagai suatu bentuk loyalitas keanggotaan, tanggung jawab institusi, kontribusi terhadap komunitas, kepatuhan pada hukum atau peraturan, dan sikap patriotisme kepada bangsa dan negara. Hal terbaik yang dapat dilakukan dalam hal kewarganegaraan adalah dengan kita menjadi warga negara atau warga kota yang baik sehingga menjadi teladan. Ini pada akhirnya akan berdampak positif secara meluas. Kualitas karakter unggul yang ditanamkan dan dikembangkan dalam diri pribadi anggota masyarakat secara simultan dengan pembenahan pada sistem pemerintahan akan mampu untuk segera mewujudkan kemajuan dan transformasi bagi bangsa kita.

Lalu, untuk mewujudkan tujuan yang besar dan indah ini, apa yang dapat kita lakukan secara praktis? Mulailah dengan menjadi warga masyarakat dan warga negara yang berperilaku baik, dengan menghindari sikap-sikap yang kurang terpuji. Apa saja sikap yang kurang terpuji itu? Contohnya banyak sekali; seperti mengabaikan peraturan, baik itu undang-undang, peraturan pemerintah, aturan lalu lintas, dan banyak lagi lainnya; bersikap masa bodoh terhadap kebersihan lingkungan dan membuang sampah sembarangan; kehilangan jiwa patriotik dan conta bangsa serta mengabaikan nilai-nilai budaya dan etika masyarakat; kurang sungguh-sungguh dalam menggunakan hak pilih demokrasi atau bahkan sengaja mengabaikan hak demokrasinya; enggan bersosialisasi dalam lingkungan/komunitas dan cenderung bergaya ekslusif berdasarkan sukuisme/rasialisme, status sosial, pendidikan, agama, dll.

Selanjutnya, mulailah lakukan perilaku yang baik, yang pada akhirnya menciptakan teladan baik dan menjadikan kita sosok warga masyarakat dan warga negara yang terpuji. Apa artinya?

 

Mengusahakan kesejahteraan kota/negara tempat kita tinggal dan hidup

Yeremia menulis ayat ini ini secara khusus (Yer. 29:7) ketika bangsa Israel sedang berada dalam pembuangan di Babel (ay. 4). Secara manusiawi, wajar jika kita berpikir untuk apa menyejahterakan kota dan negara musuh yang menawan kita. Apalagi, dalam ayat 10 disebutkan bahwa bangsa Israel baru akan diperhatikan oleh Tuhan dan dikembalikan ke Yerusalem 70 tahun berikutnya. Namun, ternyata pemikiran Tuhan berbeda. Daripada hidup sengsara sambil berpikir terus untuk kembali pulang, orang Israel saat itu diperintahkan Tuhan untuk “dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang!” (ay. 5-6). Dengan kata lain, generasi bangsa Israel saat itu mau tidak mau harus tinggal di Babel! Tuhan mengarahkan bangsa-Nya untuk menjalani kehidupan di Babel sebaik-baiknya – sekalipun dalam masa penjajahan dan menjalani pembuangan. Mereka diminta untuk mengusahakan kesejahteraan kota Babel dan mendoakannya! Alasan Tuhan jelas, yaitu jika kota Babel sejahtera, maka mereka sebagai penduduk di situ juga akan sejahtera.

Cara berpikir ini merupakan cara berpikir bangsa pilihan Allah; kesejahteraan bukanlah semata kesejahteraan diri kita sendiri atau keluarga atau kelompok sendiri saja. Allah mengajarkan kita untuk melihat konteks yang lebih besar: kota dan negara! Dengan demikian, kita akan menjalani kehidupan kita dalam keluarga, pekerjaan, dan gereja dengan selalu berpikir apakah yang kita kerjakan akan membawa dampak yang baik, sedikitnya bagi lingkungan terdekat secara langsung. Kita juga tidak akan bertindak jahat atau merugikan lingkungan karena tahu persis hal tersebut akan mengurangi kesejahteraan lingkungan kita. Jika semua orang Kristen di Indonesia menghayati cara pandang Tuhan ini dan dapat menjadi teladan bagi warga lainnya, tentu dampaknya meluas bagi kesejahteraan kota dan negara kita. Hasilnya, kita sebagai bagian dari kota dan negara kita akan sejahtera juga. Sekali lagi: “usahakan dan doakan kesejahteraan kotamu, karena kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”!

 

 Berdoa untuk kota dan negara dari hati yang peduli

Kepedulian kita terhadap kota dan negara harus kita mulai dari hati. Hati yang peduli melahirkan suatu panggilan untuk berdoa, demi terjadinya terobosan rohani dan terobosa jasmani. Kita harus berdoa kepada Tuhan, memohon ampun kepada Allah bagi penduduk kota kita dan negara kita. Di masa lalu mungkin pernah terjadi kekerasan, kerusuhan, penjarahan atau hal-hal buruk lainnya yang menyebabkan trauma dan ketakutan bagi sebagian dari kita; dan ini membutuhkan pengampunan dan pemulihan. Berdoalah pula supaya terjadi perdamaian dan pemulihan antar kelompok yang ada sehingga terbangun kerukunan antar penduduk. Berdoalah bagi mereka yang kekurangan dan yang lemah, yang mengalami masalah-masalah sosial yang menonjol. Doakan juga tempat-tempat yang secara khusus kecelakaan dan kriminalitas sering terjadi. Kita perlu berdoa juga untuk gereja-gereja supaya mengalami pertumbuhan dan agar pengaruh baiknya dapat dirasakan oleh komunitas masyarakat di sekitarnya. Berdoalah juga bagi pemerintahan dari tingkat teratas sampai tingkat paling bawah, aparat keamanan dan hakim, supaya mereka melakukan tugas dengan integritas dan keadilan dan mampu melaksanakan kebenaran. Ini semua akan membawa kita sendiri juga menjadi pribadi warga yang patut diteladani dan terpuji (a creditable citizen), dan hal ini perlu terus kita tumbuh-kembangkan.

 

Bagaimana mengembangkan sikap terpuji sebagai warga masyarakat?

  1. Jadilah warga yang peduli, berkontribusi, dan mematuhi hukum dan peraturan.
  2. Jadilah partisipan yang aktif dalam keluarga dan lingkungan masyarakat.
  3. Beranikan diri menyatakan sikap dan integritas terhadap masalah keadilan sosial dan hak-hak asasi manusia.
  4. Gunakan hak dan kewajiban sebagai warga yang baik dalam aspirasi politik dan pengembangan kota dan bangsa.
  5. Latihlah dan kembangkan karakter keteladanan, patriotisme, tanggung jawab, loyalitas dan kepedulian.

 

Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa.” – Amsal 14:34

2019-09-27T10:42:29+00:00