///6 tips untuk Anda lakukan di lingkungan kerja

6 tips untuk Anda lakukan di lingkungan kerja

Sebelum hal yang berbahaya ini terjadi, Anda dan saya sangat perlu segera mengelola kekecewaan dengan cara-cara yang benar. Bagaimana cara yang bijak untuk melakukannya?

 

1. Tetap berfokus untuk melakukan yang terbaik (Kol. 3:23)

Anda harus ingat, fokus Anda dalam bekerja adalah untuk Tuhan. Anda membangun karir, membangun masa depan dan membangun sukses Anda, semuanya untuk Tuhan (Kol. 3:23). Jangan izinkan berbagai kekecewaan membunuh masa depan yang akan Anda persembahkan untuk Tuhan ini. Tetaplah fokus untuk bekerja dengan baik, selalu melakukan yang terbaik dan terus memaksimalkan potensi diri. Kendalikan pikiran Anda, misalnya dengan mengatakan, “Fokus saya adalah masa depan saya. Saya tidak izinkan kekecewaan ini membunuh semangat kerja saya, dan saya akan tetap melakukan yang terbaik sesuai potensi saya. Saya bekerja untuk Tuhan, bukan untuk manusia.”

 

2. Mengucap syukur (Fil. 4:6)

Ketika kekecewaan mulai menyerang, latih respon otomatis Anda dengan selalu mengucap syukur kepada Tuhan, karena Anda masih diberi kesempatan bekerja, masih diberi kesempatan mendapatkan upah, dan masih diberi kesempatan untuk berkarya. Inilah contoh perkataan syukur yang dapat Anda ucapkan: “Terima kasih, Tuhan, saya masih bisa bekerja. Saya mau berfokus pada apa yang masih saya bisa lakukan, bukan pada apa yang tidak bisa saya lakukan. Saya mau berfokus pada apa yang sudah saya miliki, bukan pada harapan yang belum terwujud.” Saya menyarankan agar Anda mengucapkan perkataan syukur dengan sungguh-sungguh, jika perlu sambil menutup mata sejenak, hingga Anda merasakan suatu energi positif yang mengalir di dalam tubuh Anda. Inilah kesegaran yang baru!

 

Setelah menerima Piala Oscar yang kedua, Denzel Washington berkata kepada keluarganya, “Seperti yang sudah saya katakan, jika saya kalah malam ini, saya akan pulang dan kita akan berpesta. Tetapi, jika saya menang malam ini, saya juga akan pulang dan kita akan berpesta.” Denzel memang adalah seorang murid Kristus yang selalu percaya kepada Allah, baik dalam kesuksesan maupun kekecewaan. Kemudian, sepasang suami istri Kristen terinspirasi untuk mengikuti teladan Denzel. Kebetulan, sang istri baru melamar sebuah jabatan impian yang baru saja dibuka di tempat kerjanya. Wawancaranya berjalan dengan baik, tetapi ia tahu bahwa ia mungkin tidak akan mendapatkan posisi itu. Suaminya menyarankan, “Mari kita memesan tempat di restoran favorit kita pada hari Jumat ini untuk merayakan, apa pun hasilnya.” Tak lama kemudian datanglah berita bahwa orang lainlah yang mendapatkan jabatan itu. Namun pada hari Jumat, pasangan suami istri yang kecewa itu tetap merayakannya di restoran favorit mereka. Sambil menikmati makanan yang lezat, mereka mengingat kembali berkat-berkat yang telah mereka dan memperbaharui iman mereka di dalam Allah yang memegang peluang-peluang masa depan mereka di tanganNya. Haleluya! Inilah contoh sikap selalu mengucap syukur, bahkan dalam berbagai kekecewaan.

 

3. Melatih karakter (Yak. 1:2-4)

Tidak selamanya orang yang dikecewakan harus tenggelam di dalam kesedihan. Begitu juga di lingkungan kerja. Bila Anda benar-benar dikecewakan karena sistem manajemen yang kurang adil, misalnya, segera ambil hikmahnya. Mungkin, di balik perlakuan tidak adil itu, Anda dituntun untuk lebih bijak menyikapi permasalahan di lingkungan kerja. Mungkin juga Anda diajar untuk bekerja di segala suasana, entah suasana baik maupun suasana yang kurang menyenangkan. Siapa tahu, Anda kelak memiliki perusahaan sendiri dan menjadi manajer untuk diri Anda sendiri dan orang lain. Nah, pengalaman yang mengecewakan itu akan membentuk Anda akan menjadi lebih profesional. Jadi, jangan kecewa berkepanjangan, karena lewat berbagai situasi ini, Anda belajar dan belajar lagi. Di balik kejadian yang ada, ini adalah kesempatan latihan karakter, latihan pengendalian dan latihan pengendalian pikiran bagi Anda. Topiknya bisa jadi apa saja, tetapi latihan itu pasti menguji dan mengembangkan sikap mental Anda.

 

4. Menguasai diri agar tidak “meledak” (Gal. 5:23-24)

Kekecewaan yang tidak dilepaskan dan tumpuk-menumpuk akan membuat Anda rawan meledak, terjebak di dalam konflik, adu mulut atau bahkan pertikaian yang lebih besar. Yang harus Anda lakukan adalah berhati-hati dalam bekerja dan mengendalikan emosi. Inilah yang disebut dengan “penguasaan diri” di dalam firman Tuhan. Jangan terjebak dalam adu mulut, cekcok, atau pertikaian lain yang justru akan menghambat Anda. Tak selalu mudah memang, apalagi jika Anda terkait langsung dalam topik konflik tersebut. Namun dengan pengendalian emosi, Anda akan lebih tenang menjalankan tugas dan hasilnya pun akan jauh lebih berkualitas.

 

5. Melakukan “detoks” secara teratur (Yak. 1:21)

Istilah “detoks” (detoksifikasi) berarti proses membuang racun. Kekecewaan adalah racun di dalam pikiran dan perasaan Anda. Jangan membiarkan racun ini menumpuk. Bersihkan pikiran dan perasaan Anda secara teratur dengan proses “detoks” emosi serta pikiran. Salah satu caranya adalah menceritakan uneg-uneg Anda kepada seseorang yang tepat dan dapat Anda percaya. Selanjutnya, mintalah nasihat dan motivasi dari orang tersebut. Setelah proses “detoks” selesai, Anda akan mendapat energi baru untuk fokus membangun karir dan masa depan Anda kembali.

 

6. Meminta dengan iman kepada Tuhan (Yak. 1:5-6)

Apapun sumber pemicu masalah Anda dan seberapa pun Anda merasa putus asa dan hilang akal, jangan izinkan semangat juang Anda rontok karena berbagai situasi dan kondisi. “Nyalakan” kembali iman Anda kepada Tuhan. Walaupun Anda belum dipromosikan oleh atasan, walaupun Anda diberi tugas yang bertubi-tubi dan sulit, walaupun Anda sedang difitnah oleh rekan kerja, Anda perlu ingat hal ini: Anda memiliki ALLAH YANG DAHSYAT, yang mengundang Anda untuk meminta hikmat dengan penuh iman. Ia ada bersama-sama dengan Anda. HikmatNya yang Anda minta itu akan menjadi solusi yang tepat untuk masalah Anda di dalam pekerjaan, sehingga kasih karuniaNya mengalir untuk Anda dapat menerjang “ombak” masalah yang sedang meninggi.

 

 

Sebagai penutup pada artikel ini, mari kita merenungkan kisah berikut ini:

Pada suatu hari ada seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.“Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu.”

Si ibu terdiam, sejenak, “Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu dengan ucapan syukur. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah bergerak lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat,” kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit menusuk bukan kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, anak kerang meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk di dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Butiran mutiara semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar yang utuh, mengilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Air mata dan penderitaannya berubah menjadi mutiara yang sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil dari derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di tepi jalan.

Memang tidak mudah mengelola kekecewaan. Kekecewaan adalah bagaikan racun yang akan meluas dan menghancurkan semangat Anda saat berjuang membangun karir dan masa depan Anda untuk Tuhan. Namun ketika Anda tetap tekun, selalu mengucap syukur dan tetap beriman, pada waktunya Tuhan, Anda akan menuai hasil yang tidak pernah terpikirkan pada awalnya: mempertahankan iman kepada rancangan Tuhan di dalam pekerjaan Anda.

2019-10-17T15:43:31+07:00