///7 Kesalahan Keuangan yang Harus Dihindari

7 Kesalahan Keuangan yang Harus Dihindari

Di bawah ini akan dijelaskan 7 kesalahan tentang uang yang harus kita hindari, beserta solusinya.
1. Mencintai uang melebihi segalanya
Bekerja keras untuk mendapatkan uang adalah baik jika dilakukan dengan cara yang benar dan bertanggung jawab. Tetapi mencari uang dengan cara yang ngotot, habis-habisan, lupa waktu, lupa keluarga, menghalalkan segala cara, “kejar tayang”, merupakan perilaku ini akan merusak kehidupan. Orang yang bergaya hidup seperti ini menganggap uang adalah segalanya. Memang hampir segala hal membutuhkan uang, namun cara pandang seperti ini dengan sendirinya akan membentuk pribadi yang sangat bergantung dengan uang. Yang ada dalam pikiran orang semcam ini hanyalah bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Orang ini berpikir bahwa dengan memiliki banyak uang maka hidupnya akan semakin bahagia.

Bagaimana solusinya? Hukum alam mengajarkan kita semua tentang keseimbangan. Sadarilah, kekayaan dalam hidup ini bukan sekedar tentang mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Anda perlu menjaga keseimbangan antara mencari uang dan membangun aspek-aspek kehidupan Anda yang lain. Kekayaan dalam hidup tidak boleh hanya diukur dengan uang saja. Faktor lain kekayaan hidup pun perlu dibangun, misalnya kebajikan, sukacita, persahabatan atau network, kesehatan, dsb.

2. Tidak Menabung atau Menunda Menabung
Memang benar, di usia 20-an, umumnya sulit bagi Anda untuk menabung, karena biasanya Anda telah lepas dari tanggung jawab orang tua dan penghasilan Anda habis untuk keperluan hidup sehari-hari. Anda berpikir baru bisa mulai menabung setelah penghasilan cukup. Karena Anda tidak membiasakan diri menabung, Anda menjadi panik saat tanpa Anda sadari usia sudah menginjak 50-an tanpa tabungan sama sekali.

 

Menabung memerlukan suatu sikap paksaan pada diri sendiri. Jika Anda memaksakan untuk menabung sejak usia dini, meskipun jumlahnya tidak terlalu besar, hal tersebut lama-kelamaan akan menjadi suatu kebiasaan, dan Anda akan terdorong untuk menjadi lebih produktif kelak. Kondisi keuangan Anda pun pasti akan jauh lebih baik di masa mendatang, dibandingkan dengan jika Anda selalu menunda untuk menabung. Jadi, solusi untuk kesalahan ini adalah: Paksakan minimal 10% dari penghasilan Anda disisihkan untuk ditabung.

3. Belanja karena diskon
Salah satu penyakit fatal dalam memakai uang adalah membelanjakan uang kita untuk hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Misalnya, Anda ditawarkan untuk membeli microwave dengan harga miring atau diskon besar. Karena melihat microwave tersebut menarik dan tergiur dengan promosi yang ditawarkan, maka Anda langsung berkeputusan untuk membelinya. Sayangnya, ternyata kapasitas listrik di rumah Anda tidak besar dan microwave itu sangat menguras konsumsi listrik. Dan yang terutama, sebetulnya Anda tidak membutuhkan barang tersebut.
Apa solusinya? Belajarlah membedakan, mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang merupakan keinginan. Semakin banyak orang memiliki uang, biasanya kecenderungan untuk mengeluarkannya semakin besar; sebaliknya semakin sedikit orang memiliki uang, kecenderungan untuk mengeluarkannya pun semakin mengecil. Setiap orang memiliki tingkat hidup yang berbeda. Ada yang menganggap uang seratus ribu kecil ada pula yang menganggap besar. tergantung bagaimana cara mereka hidup. Banyak orang tidak mampu mengukur di mana posisi kemampuan mereka dengan memaksakan membeli sesuatu yang belum saatnya mereka beli hanya demi memuaskan keinginan mereka, sedangkan kebutuhan justru mereka tunda.

Ingat, diskon (“midnite sale”, “harga khusus”, dll yang sejenis) hampir sepanjang waktu bisa Anda temui di pusat perbelanjaan. Buang jauh-jauh prinsip “mumpung diskon” dari pikiran Anda. Selamatkan pikiran Anda dulu sebelum kantong Anda, dari berbagai perangkap gaya hidup ini.

4. Hutang uang tanpa membayar
Sebagian orang tertentu sangat gigih melakukan pendekatan saat ingin meminjam uang, tetapi ketika sudah mendapatkan pinjaman uang dengan janji pembayaran pada tanggal tertentu, justru menghindar dan mengabaikan komitmen untuk melunasi hutangnya. Bahkan seringkali ketika ditagih, orang yang berhutang ini lebih galak daripada si pemberi pinjaman. Atau kadang-kadang, orang yang berhutang ini bahkan bersikap seolah-oleh “amnesia” atau pura-pura tidak punya hutang apapun ketika bertatap muka dengan si pemberi pinjaman. Akibatnya, hubungan persahabatan atau keluarga menjadi rusak karena hutang.

Solusi untuk hal-hal ini sebenarnya sederhana. Hindarilah berhutang. Jika Anda benar-benar terpaksa harus berhutang (karena ada kebutuhan yang sangat penting, yang mendadak dan mendesak), tepati komitmen pelunasannya. Lebih daripada sekedar merusak hubungan persahabatan atau keluarga, perilaku tidak membayar hutang sebenarnya merusak kepercayaan orang terhadap diri kita. Kepercayaan orang lain terhadap kita nilainya jauh lebih berharga, karena kepercayaan itulah yang membuat orang lain mau memberikan order atau pekerjaan kepada kita di masa-masa mendatang. Bila kepercayaan itu hilang, maka peluang dan kesempatan kita untuk mendapatkan berkat juga akan lenyap.

5. Tidak Terbiasa Mencatat Pengeluaran Uang
Banyak orang tidak mengetahui seberapa banyak uang yang sudah mereka belanjakan atau hutang yang mereka miliki. Setiap kali menerima gaji, orang-orang ini sangat menikmati hari-harinya. Namun yang mereka sadari hanyalah dompet mereka sudah kosong di akhir bulan. Kehabisan uang sebelum menerima gaji berikutnya menjadi hal rutin yang terjadi bulan demi bulan.
Bagaimana solusinya? Mulai biasakan mencatat pengeluaran-pengeluaran Anda, sehingga Anda bisa lebih mengontrol lagi pos-pos mana yang perlu dihemat. Kondisi keuangan yang baik dimulai dengan menyadari kondisi keuangan Anda saat ini.

6. Berbagai kebiasaan tidak penting yang menguras uang Anda
Jika uang Anda terbatas atau serba mepet, hindari atau setidaknya batasi kebiasaan-kebiasaan berikut ini agar Anda bisa bijaksana mengelola uang (kecuali uang Anda berkelebihan):

* Menjadi anggota gym terkenal dengan iuran bulanan yang mahal
* Perawatan kuku, rambut, tubuh, yang melampaui kebutuhan maupun kemampuan
* Makan di restoran
* Gonta-ganti kendaraan atau asesorisnya
* Ngopi di kedai-kedai kopi terkemuka
* Nonton ke bioskop
* Langganan internet di rumah untuk keperluan hiburan
* Kebiasaan mentraktir teman atau kerabat karena gengsi
* Gonta-ganti perangkat teknologi karena tren

Kebiasaan-kebiasaan ini, walaupun jika dilihat satu per satu mungkin nominalnya tidak terlalu besar, dapat menguras uang Anda hingga habis untuk hal-hal yang sangat tidak esensial, sehingga Anda tidak mampu membiayai hal-hal esensial dalam hidup Anda. Misalnya, punya smartphone terbaru tetapi kehabisan uang untuk makan sehingga terpaksa berhutang di warung. Solusinya, pastikan uang Anda “lari” untuk hal-hal yang esensial dulu. Jangan “besar pasak daripada tiang”. Bijaksanalah dalam menggunakan uang yang Tuhan telah percayakan kepada kita.

7. Memisahkan keuangan suami-istri
Ketika Anda sudah menikah, seharusnya uang Anda juga “menikah”, alias menjadi satu. Tidak ada lagi “uangmu” atau “uangku”. Memisahkan keuangan suami-istri dengan rekening terpisah membuat suami-istri lebih mirip teman tidur belaka, bukan pasangan suami-istri. Menurut Huffpost Wedding, pemisahan biaya kebutuhan rumah tangga dapat menimbulkan konflik, pertengkaran dan kebencian dalam sebuah pernikahan. Demikian pula, mengeluarkan uang tanpa sepengetahuan pasangan Anda bisa menimbulkan rasa benci dan tidak percaya.

Dalam hal ini, solusinya adalah agar selalu ada kesepakatan antara suami dan istri dalam menggunakan uang bersama. Termasuk juga ketika salah satu pasangan hendak memberikan uang kepada orang tuanya, seharusnya suami-istri senantiasa saling transparan, saling memberikan informasi dan terbuka. Uang akan menjadi mamon yang sangat merusak ketika suami-istri tidak sepakat untuk selalu saling terbuka dalam keuangan bersama mereka.

 

1 Timotius 6:10 “Karena akar segala kejahatan ialah cinta akan uang“.

Pengkotbah 5:9 “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia
Lukas 16:11 “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?”

2019-10-17T17:45:32+07:00