///7 Kesalahan pemimpin di dunia kerja yang tidak disadari

7 Kesalahan pemimpin di dunia kerja yang tidak disadari

Karena kita adalah pemimpin, sering kali juga, tidak ada orang (anggota tim atau rekan sesama pemimpin) yang “berani” menyampaikan kesalahan-kesalahan ini kepada kita. Karena itu, artikel ini bisa digunakan sebagai daftar untuk memeriksa diri atau berintrospeksi, mana saja kesalahan yang selama ini kita lakukan tanpa disadari sebagai pemimpin. Tujuan akhirnya adalah agar kita melakukan perubahan gaya kepemimpinan yang tidak produktif ini.

1. Menggunakan email untuk hal-hal yang mendesak
Ini adalah kesalahan pertama yang paling umum dilakukan oleh banyak pemimpin. Siapa yang tidak pernah mengirim email dengan kata "Mendesak" (atau “Penting” atau “Urgent”) dengan huruf besar yang diberi format tebal dan/atau warna merah sebagai subjek? Jangan jatuh ke dalam perangkap itu! Email adalah alat kerja yang sangat baik dan bermanfaat, tetapi dalam situasi apa pun itu bukanlah cara yang tepat dan efektif untuk berkomunikasi tentang hal-hal yang mendesak. Jika ada sesuatu yang membutuhkan perhatian langsung, komunikasikan dengan tatap muka langsung atau setidaknya gunakan telepon. Perlu disadari bahwa saat ini setiap orang menerima belasan bahkan puluhan email setiap hari, sehingga mungkin sekali si penerima tidak membaca email Anda dengan segera, meskipun subjeknya “mendesak”.

2. Menggunakan Whatsapp sebagai alat/saluran komunikasi utama dan satu-satunya
Sangat sulit untuk menemukan seseorang yang tidak menggunakan aplikasi Whatsapp pada zaman ini; aplikasi ini memang sangat membantu kita untuk berkoordinasi kerja dengan banyak pihak. Namun, ini bukanlah alasan untuk menjadikan WhatsApp sebagai satu-satunya alat/saluran komunikasi utama untuk mendiskusikan berbagai masalah pekerjaan, mengkoordinasikan pertemuan, mengelola tim, memprioritaskan tugas atau berkomunikasi secara internal. Pesan yang tertulis via WhatsApp sering kali bias karena berbagai faktor seperti tidak ada intonasi yang terdengar atau kesalahan tanda baca, sehingga akan mengundang mispersepsi dan rentan memicu konflik. Sekali lagi, komunikasi lisan dan tatap muka tetap masih diperlukan. Teknologi sehebat apa pun tidak akan bisa sepenuhnya menggantikan hal ini.

3. Tidak berada bersama tim di saat-saat sulit
Ini adalah kesalahan serius yang sangat sering terjadi. Kepemimpinan adalah tentang berada bersama tim dalam waktu yang baik maupun buruk. Seorang pemimpin harus mendukung, mengarahkan, berdiskusi, dan memberikan inspirasi kepada timnya ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik. Di situasi kerja selalu akan ada masalah; yang paling penting adalah tidak saling menyalahkan, tetapi justru mencari solusi bersama-sama. Ingat, Anda tidak akan pernah menemukan jalan keluar secara efektif jika sebelumnya Anda tidak membela tim Anda.

4. Sungkan untuk berkata "tidak"
Jangan menjadi pemimpin yang asal setuju dalam segala situasi. Mengatakan “ya” untuk segala hal adalah tanda kelemahan kepemimpinan. Sebagai seorang pemimpin, Anda perlu mengambil risiko dan perlu disadari bahwa mustahil untuk menyenangkan semua orang. Mempelajari cara mengatakan "tidak" penting untuk memperkuat kepemimpinan Anda dan mempertahankan serta meningkatkan produktivitas Anda. Bersiap-siaplah untuk tidak disukai ketika Anda mengatakan “tidak” demi kepentingan pencapaian tugas secara sehat. Pemimpin yang baik dan efektif mampu berkata “tidak” pada situasi yang tepat dan dengan cara yang tepat.

5. Melakukan rapat atau mengambil keputusan secara mendadak
Banyak pemimpin di dunia kerja terlalu sering melakukan rapat atau mengambil keputusan yang melibatkan berbagai pihak secara mendadak. Biasanya, orang lain tidak tahu agenda rapat itu atau tidak tahu latar belakang dan tujuan keputusan itu. Alhasil, anggota tim atau rekan-rekan menjadi terkejut dan bahkan cemas; karena tidak tahu harus menyiapkan data apa dan tidak mengerti harus melakukan apa. Pada akhirnya, hal-hal mendadak seperti ini menunjukkan kelemahan perencanaan dalam kepemimpinan Anda dan akan melemahkan motivasi tim Anda sendiri. Walaupun kadang hal mendadak diperlukan dalam situasi mendesak atau darurat, usahakan hal ini tidak terjadi terlalu sering dan tetap informasikan dengan jelas hal-hal yang perlu diketahui oleh anggota tim dan rekan-rekan Anda.

6. Resisten/enggan terhadap perubahan
Dunia kerja mengalami perubahan terus-menerus, tetapi banyak pemimpin masih menyukai gaya kepemimpinan yang lama, kuno, dan tidak relevan lagi dengan situasi di zaman sekarang. Efeknya, anggota tim sulit bekerja produktif, karena pemimpin sulit diberi masukan untuk melakukan perubahan. Pemimpin seperti ini menghambat pertumbuhan karena menolak perubahan, dan sering kali tidak menyadari kesalahannya atau bahkan selalu menuding orang lain sebagai penyebab masalah. Untuk mengetahui apakah Anda tipe pemimpin seperti ini, cobalah meminta masukan dari anggota tim Anda; jika mereka berani berterus terang, Anda akan mendapatkan cermin tentang diri Anda sebagai pemimpin.

7. Tidak memiliki sistem pemantauan
Banyak pemimpin hanya ingin tahu hasil akhir dari sebuah target kerja dan kurang memantau prosesnya dengan suatu sistem yang jelas dan diterapkan secara berkelanjutan. Pemimpin tidak punya patokan unutk melihat apakah proses kerja berjalan di jalur yang tepat atau tidak. Akibatnya, sering kali kesalahan baru terdeteksi ketika pekerjaan selesai dilakukan, dan kesalahan yang sama terjadi secara berulang. Tentunya, kesalahan semacam ini akan mengakibatkan kerugian bagi tim atau perusahaan. Jika Anda adalah pemimpin yang tidak atau kurang melakukan pemantauan, mulailah melakukannya sekarang juga.

Pada akhirnya, perlu kerendahan hati untuk Anda menyadari kesalahan-kesalahan Anda sebagai pemimpin. Tanpa kerendahan hati dan kesadaran ini, tidak mungkin Anda berubah dari kesalahan-kesalahan itu. Firman Tuhan di surat Yakobus berkata, “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.” Anda bisa dengan rendah hati meminta masukan dari orang-orang yang Anda pimpin di lingkungan kerja tentang kesalahan-kesalahan yang dibahas dalam artikel ini. Diskusikan dengan mereka dan terima masukan yang membangun ini dengan sikap positif. Ketika Anda berubah menjadi pemimpin yang lebih efektif, seluruh tim dan perusahaan pun akan ikut merasakan manfaatnya; maka Anda pun menjadi berkat sebagai pemimpin. Selamat mempraktikkan!

2019-10-11T11:23:49+07:00