///7 Kiat memimpin karyawan Generasi Y

7 Kiat memimpin karyawan Generasi Y

Dari contoh-contoh keluhan para pemimpin ini, sebetulnya apa yang terjadi pada angkatan kerja saat ini? Menurut pengamatan saya, banyak sekali direktur atau manajer yang tidak menyadari bahwa setiap dekade melahirkan generasi-generasi kerja yang memiliki karakteristik berbeda-beda. Perbedaan generasi angkatan kerja ini diklasifikasikan berdasarkan tahun kelahiran mereka. Secara singkat, generasi kerja bisa dibedakan sebagai berikut:
1. Generasi matures (1900-1945),
2. Generasi baby boomer (1945-1965), 
3. Generasi X / post boomer (1965-1980), 
4. Generasi Y / the netter (1980-1990)
5. Generasi Z / the zippies (1991-2005)
6. Generasi Alpha (2006 ke atas)

Anda termasuk kategori generasi yang mana? Perlu diingat bahwa setiap generasi memiliki karakteristik yang sangat berbeda dan otomatis merupakan tantangan yang sangat berbeda ketika kita memimpin mereka.
Angkatan kerja yang paling muda saat ini masuk kedalam kategori “Generasi Y” (Gen Y). Sesuai dengan eranya, Gen Y memiliki sejumlah sifat yang sangat berbeda dari generasi yang sebelumnya. Berikut ini ada 9 fakta yang membedakan Gen Y dengan generasi sebelumnya:
1. Tidak sabar, tak mau rugi, banyak menuntut
Generasi ini terbiasa dengan hal-hal yang instan, cenderung tidak sabar. Bila memiliki keinginan harus segera terlaksana. Karakter ini tidak akan menjadi masalah, asalkan bisa memastikan bahwa apa yang dilakukannya bermakna positif.

 

2. Percaya diri dan optimis
Gen Y cenderung lebih mudah menerima perubahan, karena lebih open minded dan berkeinginan tinggi untuk belajar segala hal baru. Mereka juga lebih percaya diri untuk tampil di depan forum dan mengemukakan pendapatnya.

3. Bergantung pada keluarga
Remaja Gen Y lebih dekat pada keluarganya, daripada remaja generasi baby boomers. Remaja generasi baby boomers lebih memilih untuk menjauh dari orang tua dan mandiri. Sementara Gen Y meskipun mandiri, tetapi cenderung dekat, bahkan seringkali masih manja dan bergantung pada keluarga, khususnya orang tua.

4. Suka inovasi/ide baru
Terkadang tanpa diusahakan pun Gen Y akan mengeluarkan ide-ide baru untuk perusahaan tempatnya bekerja, karena cara berpikirnya memang berbeda dengan generasi baby boomers. “Give me the latest!” merupakan seruan sehari-hari dari Gen Y. Mereka selalu mengikuti trend terbaru, dan tak sabar untuk menciptakan trendnya sendiri.

5. Memiliki semangat yang luar biasa
Gen Y mengerjakan tugas dengan lebih bersemangat dan cepat karena kebanyakan lebih melek teknologi. Mereka cenderung mudah beradaptasi dengan teknologi baru.

6. Tidak menyukai jadwal yang mendetil
Generasi lama adalah perencana dan schedulers, sementara Gen Y adalah koordinator. Bertemu dengan klien atau teman, misalnya, tanpa perlu perjanjian yang rumit dan direncanakan, yang penting ada tempat yang disetujui, dan secara mendadak pun dilakukan, seperti kapal mengikuti radar. Sementara, perusahaan umumnya beroperasi berdasarkan rencana jangka panjang dan jangka pendek yang terperinci.

7. Anytime-anywhere
Generasi baby boomers memandang waktu dan tempat sebagai norma, sementara Gen Y kurang memperdulikan aturan baku. Bagi mereka, bekerja di kafe atau di mal pun merupakan hal lumrah, yang penting hasilnya jelas.

8. Social media lovers
Mereka juga pemakai media sosial yang fanatik dan kehidupannya sangat terpengaruh dengan perkembangan teknologi. Kita juga bisa melihat di setiap provinsi, bahwa mereka lebih terbuka dan terlihat sangat reaktif terhadap perubahan lingkungan yang terjadi di sekelilingnya.

Dengan menilik ciri-ciri diatas, bisa disimpulkan bahwa memimpin karyawan Gen Y itu susah-susah gampang. Namun, bila Anda sudah mengetahui triknya, maka Gen Y akan memberikan kontribusi yang luar biasa bagi perusahaan Anda.

Berikut ini adalah beberapa kiat bagaimana memimpin karyawan Gen Y:
1. Ciptakan suasana kerja dengan atmosfer continous improvement
Jika Anda kebanyakan mengatur Gen Y tanpa memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengeluarkan ide-ide dan kreativitas, ini akan menimbulkan efek turn off, sehingga hasilnya tidak efektif. Mereka membutuhkan lingkungan kerja di mana mereka bisa bebas berekspresi sekaligus penuh tantangan.

2. Redefinisi ulang berbagai kebijakan rekrutmen dan penerimaan karyawan baru
Misalnya, beberapa perusahaan melakukan definisi ulang apakah perusahaan bersedia menerima karyawan yang bertato, karena seringkali tato dianggap sebagai suatu ciri pemberontakan. Sementara populasi Gen Y yang memiliki tato ini cukup besar, bahkan beberapa di antara mereka memiliki lebih dari satu tato. Bagi Gen Y sendiri, tato hanya merupakan suatu bentuk komunikasi tentang indentitas diri mereka, sehingga banyak di antara mereka walaupun memiliki tato akan tetapi berkomitmen pada profesi yang dipilih.
Contoh lain lagi adalah apakah perusahaan mengijinkan karyawan memakai headset sambil mendengarkan musik ketika sedang bekerja. Gen Y sudah terpola belajar dan bekerja sambil menikmati musik lewat headset mereka, dan ini tidak menjadikan hasil kerja mereka lebih buruk, bahkan mungkin justru meningkat.

3. Memberikan pelatihan Gen Y management kepada para atasan yang akan memimpin karyawan Gen Y
Banyak perusahaan yang membuat pelatihan bagi para atasan Gen Y, dengan tujuan agar mereka bisa memahami cara mengelola karyawan Gen Y dan memenuhi kebutuhan Gen Y akan tanggung jawab yang jelas, umpan balik terhadap kinerja mereka dan memberi kesempatan untuk ikut dalam proses pengambilan keputusan. Ketika perusahaan memberikan pelatihan seperti ini, ini akan mengurangi tingkat frustrasi, baik untuk para atasan maupun si karyawan Gen Y. Kesenjangan antar generasi akan semakin mengecil apabila kedua generasi yang berbeda saling memahami satu sama lain.

4. Perkuat kerja kelompok
Gen Y sudah terbiasa bekerja dalam kelompok sejak mereka di bangku SMA dan kuliah. Mereka dilatih untuk berdialog, berdebat, menguji logika dan mahir presentasi menggunakan berbagai multimedia. Ketika mereka masuk dunia kerja, mereka sangat berharap atmosfer kerja kelompok yang menantang pemikiran dan logika juga berlaku di tempat kerja mereka. Seorang pemimpin harus menciptakan media kerja kelompok seperti ini untuk menghasilkan kreativitas dan inovasi-inovasi baru

5. Siapkan waktu untuk feedback dan diskusi
Gen Y selalu ingin mengetahui pandangan manajemen atau umpan-balik dari atasan terhadap pekerjaan yang mereka lakukan. Sayangnya, banyak perusahaan yang tidak membiasakan untuk memberikan feedback semacam ini kepada para karyawan mereka. Karyawan dianggap seperti “paranormal” yang harus mengetahui sendiri kekurangan dan kelemahan mereka. Karyawan sering dibiarkan bertanya-tanya “Am I doing a good job or not?”
Gen Y selalu ingin tahu apabila pekerjaan mereka berhasil dengan baik dan mereka menginginkan adanya umpan-balik saat itu juga. Para karyawan Gen Y mengharapkan para atasan mereka mampu memberikan standar kerja yang jelas, menumbuhkan budaya kerja yang berorientasi pada kerja sama kelompok dan memberikan umpan balik secepat mungkin untuk tindakan perbaikan diri

6. Lakukan coaching secara intensif
Gen Y sangat menginginkan perusahaan mempunyai sistem yang dapat mengembangkan diri mereka, baik melalui proses training massal atau melalui one-on-one coaching yang sistematis. Gen Y menginginkan alur dan jenjang karir yang jelas, karena mereka merasa harus tahu jelas bagaimana cara untuk cepat sukses. Mereka akan mengejar track yang jelas untuk membantu mereka agar cepat naik jabatan. Oleh karena itu pemimpin harus rajin membimbing karyawan Gen Y agar mereka lebih cepat terampil dan naik jenjang karir.

7. Perbanyak open communication
Gen Y tidak mudah menerima sesuatu begitu saja tanpa mempertanyakan sebabnya. Mereka cenderung selalu menanyakan “mengapa” dalam berkomunikasi.  Dalam berkomunikasi dengan Gen Y, pemimpin harus menyampaikan informasi secara jelas, transparan dan apa adanya. Gen Y juga ingin diberikan kesempatan untuk berbicara dan bertanya mengenai semua hal.  Mereka menganggap bahwa semua orang di perusahaan adalah tim, sehingga dengan pemimpin/atasan pun mereka menganggap berbicara dengan rekan kerja/teman bukan dengan orang yang posisinya lebih tinggi. Biasanya ini semata-mata karena mereka ingin berkomunikasi secara bebas, terbuka dan jelas; bukan karena mereka bermaksud tidak sopan atau kurang ajar. Hal ini yang biasanya menjadikan ketidakakraban antara Gen Y dengan atasannya, karena pemimpin dari generasi sebelumnya masih menganggap sikap ini tidak pantas. Adaptasi mutlak dibutuhkan dalam situasi semacam ini.

Demikianlah seperti tertulis di Amsal 1:5, “Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu  dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan”, maka setiap pemimpin (supervisor, manajer, direktur), harus selalu belajar dan peka terhadap berbagai perubahan lingkungan, agar memiliki hikmat/pengetahuan untuk senantiasa menjalankan kepemimpinan yang dipercayakan oleh Tuhan sesuaikan dengan konteks situasi dan zaman.
(Freddy Liong – www.freddway.com)

2019-10-17T17:31:55+07:00