///7 kiat mempermudah pekerjaan karyawan

7 kiat mempermudah pekerjaan karyawan

Banyak penelitian menunjukkan bahwa karyawan dengan kepuasan kerja tinggi dan memiliki atasan yang bersedia mengayomi, pada umumnya akan lebih produktif, senang terlibat dan loyal kepada perusahaan.Inilah yang akan didapat oleh atasan yang giat mempermudah pekerjaan karyawannya. Untuk mempermudah pekerjaan karyawan, singkirkan kesalahan umum yang biasa dilakukan atasan, yaitu manajemen mikro yang menyulitkan karyawan dalam bekerja. Segala sesuatu dijadikan lebih rumit dan njelimet, tanpa tujuan yang signifikan.Akibatnya, atasan sering menjadi “batu sandungan”karena cenderung tidak mau menyederhanakan berbagai proses kerja. Demi sistem yang lebih canggih, lebih baru, atau alasan-alasan lain, karyawan terpaksa kebingungan mengikuti arahan atasan. Atasan seperti ini biasanya tidak memberikan peluang pertumbuhan karier yang sehat bagi karyawannya, karena tidak melihatkeuntungannya bagi diri sendiri.

Kondisi ini tentu berdampak buruk pada kinerja dan kehidupan pribadi karyawan. Mereka merasa kurang dihargai, tidak didengarkan, dan selalu dipersulit dalam melakukan tugas-tugasnya. Akhirnya, tingkat arus keluar-masuk karyawan dalam perusahaan menjadi sangat tinggi dan produktivitas perusahaan menurun. Lalu, bagaimana seharusnya? Berikut adalah beberapa kiat yang perlu dilakukan oleh atasan agar bisa mempermudah pekerjaan karyawannya dan menuai peningkatan produktivitas perusahaan sebagai efek tak langsungnya:

1. Transparansi
Transparansi merupakan kontributor tertinggi kebahagiaan karyawan bekerja di perusahaannya. Adalah benar bahwa uang dan promosi itu penting, tetapi yang setiap karyawan ingin ketahui adalah kebenaran mengenai keadaan perusahaan. Dengan transparansi, karyawan dilibatkan sebagai satu tim atau satu keluarga besar dalam perusahaan, untuk mengatasi masalah yang sedang terjadi atau mencapai target yang lebih tinggi. Tidak ada biaya yang harus dikeluarkan dalam meningkatkan transparansi, dan ini hanya memerlukan keterampilan komunikasiatasanserta waktu untuk perbincangan antara manajemen dan staf.

2.Komunikasi dua arah
Atasan harus dapat mengambil langkah-langkah yang efektif untuk menciptakan ruang komunikasi serta berbagi ide antar karyawan maupun antara karyawan dengan atasan. Percakapan informal di ruang istirahat bisa menjadi kolaboratif. Jika perlu, buatlah ruangan menjadi menarik dan kondusif dengan perabotan yang nyaman dan makanan atau minuman ringan. Komunikasi dua arah akan memudahkan karyawan Anda mencari solusi untuk berbagai permasalahan yang ia hadapi.

3. Mentoring atau pelatihan
Atasan perlu memberikan dukungan bagi perkembangan diri karyawan dalam bentuk mentoring atau pelatihan karier. Apabila karyawan tidak mengetahui bahwa ada peluang karier yang menarik bagi dirinya, ia mungkin dengan mudah akan meninggalkan perusahaan. Maka, penting bagi perusahaan untuk mengadakan diskusi rutin mengenai perencanaan serta perkembangan karier karyawan sebagai bagian dari pelatihan dan pengembangan dirinya. Pastikan bahwa karyawan memahami berbagai jalur karier atau kesempatan kerja yang tersedia di seluruh perusahaan.

4.Efisiensi email dan rapat
Banyak atasan yang senang membanjiri inbox karyawan dengan email yang tidak terlalu penting. Selain itu,atasan juga sering mengadakan banyak rapat yang berlangsung berjam-jam tanpa konten atau hasil yang jelas. Hal-hal seperti ini sangat membuang-buang waktu dan menghambat produktivitas. Karyawan seolah dipaksa untuk membaca semua email atau duduk mendengarkan pembicaraan rapat yang tak terarah. Padahal, waktunya bisa digunakan untuk kegiatan yang lebih produktif bagi perusahaan.Batasi email dan rapat demi membantu karyawan Anda menghemat waktu dengan berkolaborasi secara lebih efisien.

5. Fasilitasi untuk rekonsiliasi
Kadang-kadang, karyawan satu divisi merasa bahwa divisi lain menyulitkan kerja mereka, misalnya Divisi Produksi mengeluhkan Divisi Pembelian akan lamanya proses pembelian barang-barang yang dibutuhkan, atau sebaliknya, Divisi Pembelian menganggap pengajuan pembelian barang dari Divis iProduksi sering kali tidak disertai keterangan yang jelas.Dalam konteks ini,atasan bertugas mendorong masing-masing divisi untuk berekonsiliasi agar hubungan kerja menjadi pulih kembali. Mereka perlu difasilitasi agar bisa secara mandiri menyelesaikan kesalahpahaman yang menyebabkan proses kerja tersendat. Fasilitasi dari atasan akan mempermudah tahap menemukan solusi bagi masalah masing-masing divisi.

6. Introspeksi diri
Sebagai atasan, Anda perlumengintrospeksi diriapakah Anda telah mempermudah proses kerja karyawan dengan:

a. mengambil keputusan yang cepat saat dibutuhkan karyawan,
b. membenahi prosedur kerja yang tidak jelas atau tumpang-tindih,
c. menyediakan sarana kerja yang memadai bagi karyawan,
d. memastikan karyawan benar-benar mengerti tugasnya dan cara mengerjakan tugas itu,
e. menyediakan waktu secara berkala untuk memberikan motivasi kepada karyawan.

7. Sikap yang tidak“hitung-hitungan”
Sebaga iatasan, berhentilah memperhitungkan timbal balik setiap kali melakukan suatu tindakan bagi karyawan. Jangan terus berpikir, “Jika saya melakukan ini untuk si A, dia harus melakukan itu. Kalau tidak, saya rugi.”Lakukan saja apa yang menurut Anda benar tanpa bersikap “hitung-hitungan”. Yakinlah, saat Anda mempermudah berbagai proses kerja karyawan, mereka akan menghargai Anda dengan bekerja lebih efektif, dan ini akan menghasilkan peningkatan produktivitas pada perusahaan.

Mari, kita terapkan berbagai prinsip Kerajaan Allah ditempat kerja. Jadilah terang dan berkat untuk seluruh karyawan Anda dengan mempermudah proses kerja mereka, karena hal ini diperkenan Tuhan!

2019-10-17T11:53:46+00:00