///7 Tren Sumber Daya Manusia Masa Depan

7 Tren Sumber Daya Manusia Masa Depan

Pengkhotbah 3:1-2 berkata, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam.” Demikian pula, kehidupan pun penuh dengan ketidakpastian dan senantiasa berubah seiring dengan waktu. Tak satu orang pun tahu apa yang akan terjadi pada hari esok, tetapi yang pasti, perubahan tidak pernah berhenti terjadi. Teknologi dan pandemi membawa arus perubahan yang begitu dahsyat. Seperti kata Alkitab, tidak ada yang kekal di muka bumi ini, dan kita harus bisa beradaptasi terhadap berbagai perubahan.

 

Sejak pandemi Covid-19, banyak sekali perubahan yang terjadi di seluruh sektor bisnis. Di antaranya, berbagai perubahan dalam hal Sumber Daya Manusia (SDM), yang juga sangat dipicu oleh perkembangan teknologi yang sangat pesat dan pergeseran generasi. Hampir seluruh profesi dan pekerjaan menuntut kesiapan, termasuk siap menghadapi perubahan tren SDM. Perusahaan yang gagal mengikuti tren akan ketinggalan dan menjadi kurang efisien. Dalam 18 bulan terakhir, perubahan yang terjadi begitu hebat dan sebelumnya tak pernah dibayangkan oleh banyak orang.

 

Untuk menghadapinya dan untuk beradaptasi, kenali tujuh tren utama dalam hal SDM, yang telah muncul dan akan terus berlanjut pada tahun 2022 dan seterusnya.

  1. Pekerja hybrid dan pola kerja WFA (work from anywhere)

Saat ini dan di masa depan, fenomena pekerja yang bekerja kadang di rumah atau di tempat-tempat lain dan kadang di kantor telah bermunculan dengan pesat. Inilah yang disebut pekerja “hybrid”, atau pola kerja WFA (work from anywhere, bekerja di mana saja). Tren ini selain didorong oleh kebijakan pencegahan penularan penyakit semasa pandemi, juga terjadi karena intensitas lalu-lintas, kehidupan sehari-hari, serta jarak perjalanan dan waktu tempuh yang makin tidak efisien. Besar kemungkinannya bahwa mayoritas pengusaha akan mengizinkan pekerja bekerja secara hybrid dan WFA bahkan setelah pandemi berakhir. Memang posisi dan jenis profesi tertentu seperti pekerja pabrik, pekerja proyek, dan sejenisnya tetap harus dilakukan secara langsung (on-site). Namun, banyak posisi dan jenis profesi lainnya seperti di bidang keuangan, pemasaran dan penjualan, perencanaan, dan berbagai posisi back office memungkinkan untuk dikaryakan secara hybrid. Tren ini akan terus menguat di masa depan, dan

bisnis atau perusahaan yang menolak mengadopsi tren ini dapat diprediksi akan kalah modern dan tertinggal dalam hal potensi SDM. Para pemimpin bisnis/perusahaan harus bisa menyesuaikan gaya kepemimpinan dan manajerialnya, menyesuaikan diri untuk bekerja dengan pekerja yang tidak hadir secara fisik setiap saat. Aplikasinya luas sekali. Proses rekrutmen, seleksi, wawancara, dan orientasi pekerja baru juga bisa  dilakukan dari jarak jauh juga. Sistem teknologi perlu menyiapkan dan mengelola portal online dan sistem berbasis cloud bagi para eksekutif dalam bidang SDM. Pastikan perusahaan dan bisnis Anda pun siap menghadapi tren pekerja hybrid dan WFA ini.

 

  1. Angkatan kerja Generasi Z

Perlahan tetapi pasti, bisnis dan perusahaan di semua industri, termasuk SDM yang sudah ada di dalamnya, perlu mulai menyesuaikan diri dengan munculnya generasi baru yang memasuki dunia kerja. Inilah kaum muda, para milenial dan generasi Z, yang mulai memasuki dunia kerja selama beberapa tahun terakhir ini dan akan menjadi mayoritas SDM di dunia kerja. Setelah milenial, generasi Z lulus dari sekolah menengah atau perguruan tinggi dan segera berbondong bondong memasuki dunia kerja.

Bisnis dan perusahaan akan segera menemukan bahwa dari para pekerja muda ini mengalir serangkaian ide, pemikiran, dan prioritas yang berbeda untuk karir profesional mereka. Misalnya, generasi Z berharap bisa memiliki jadwal, pola, dan durasi kerja yang fleksibel, lebih suka berhubungan dengan supervisor atau manajer mereka secara teratur, menginginkan umpan balik tentang kinerja mereka, dan haus untuk berkolaborasi dalam berbagai misi yang menantang. Jika Anda memimpin bisnis atu perusahaan, Anda harus bisa beradaptasi dengan karakteristik generasi Z dan siap memberi mereka fleksibilitas dan kolaborasi yang mereka inginkan, sekaligus membawa mereka berkarya sampai potensi optimal.

 

  1. Manajemen SDM secara digital dan all-in-one (menyeluruh)

Teknologi baru banyak mengubah dinamika lingkungan kerja. Hal ini terutama terlihat pada manajemen SDM, salah satunya dengan berbagai alat bantu atau aplikasi digital yang bersifat all-in-one (menyeluruh). Aplikasi manajemen SDM yang demikian membantu meningkatkan keterlibatan dan produktivitas, menawarkan transparansi, menawarkan data yang real-time sehingga mempermudah pengambilan keputusan yang tepat, dan bahkan meningkatkan kualitas kerja. Beberapa fungsi yang biasanya dapat dilakukan dengan aplikasi ini ialah:

  • fasilitasi program orientasi para pekerja baru
  • fasilitasi kesenjangan komunikasi antar pekerja, lintas jarak yang jauh
  • fasilitasi pelatihan pekerja
  • otomatisasi proses kerja harian sehingga lebih cepat dan lebih murah
  • pelacakan waktu yang lebih akurat untuk pemrosesan upah kerja
  • fasilitasi penerapan budaya keselamatan kerja (safety culture)

Menggunakan aplikasi manajemen SDM semacam ini akan meningkatkan daya saing perusahaan sehingga bisa lebih berkualitas, lebih cepat, dan lebih efisien.

 

  1. Rekrutmen dengan AI (Artificial Inteligence)

Salah satu produk perkembangan teknologi yang luar biasa dan manfaat penerapannya amat luas ialah AI (Artificial Intelligence). Dengan AI, cara-cara melakukan rekrutmen, wawancara, seleksi kandidat pekerja akan jauh berubah. Kini, makin banyak bisnis dan perusahaan mulai menggunakan AI sebagai bagian dari tugas sehari-hari mereka, dan tren ini akan terus berkembang di masa depan. AI akan membantu menyaring kualifikasi kandidat pekerja yang cocok secara cerdas dan akurat, sekaligus menyeleksi dari kandidat-kandidat itu mana yang layak direkrut dengan algoritma pengolahan data. Bahkan, ada juga “robot digital” (chatbot) yang dapat menangani berbagai pertanyaan dan mewawancarai kandidat pada tahap awal secara otomatis.

 

  1. Fokus pada aspek kesehatan pekerja

Konsekuensi penting dari pandemi ini adalah fokus pada kesehatan. Isu kesehatan pekerja pun menjadi isu utama pada setiap bisnis/perusahaan. Kita tahu bahwa setiap bisnis/perusahaan kini wajib menerapkan protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19. Namun, tren SDM tidak hanya menyangkut penyakit fisik seperti yang ada di masa pandemi kali ini. Pandemi dan masa sulit juga telah mengakibatkan tingkat stres yang tinggi, sehingga orang-orang mengalami tekanan dalam hal kesehatan mental dan emosional mereka. Ini berarti perusahaan harus membuat program kesehatan pekerja yang menyeluruh, bahkan secara khusus juga berfokus pada kesehatan mental. Bisnis/perusahaan Anda perlu menemukan metode untuk mendeteksi gangguan kesehatan mental di antara pekerja dan memastikan mereka memiliki sumber daya untuk menangani masalah tersebut. Pada saat yang sama, perusahaan perlu mendorong pekerja untuk menjaga kebugaran fisik, berolahraga teratur, dan menerima penanganan yang mereka butuhkan jika mengalami gangguan kesehatan fisik.

 

  1. Tantangan keamanan siber

Teknologi memang memberikan banyak manfaat, tetapi juga banyak menebar ancaman bahaya. Inilah sebabnya kini muncul tren kepedulian pada masalah keamanan siber. Ini merupakan konsekuensi dari perkembangan segala sesuatu yang menjadi digital dan otomatis, sehingga lalu-lintas data atau informasi sangat meluas dan padat serta berpotensi disalahgunakan. Dengan kemajuan kecerdasan manusia pula, masalah ini diperberat dengan makin banyaknya peretas (hacker) di dunia maya yang ingin merugikan perusahaan, mencuri data pribadi, dan menyalahgunakan informasi untuk kepentingan pribadi. Artinya, setiap bisnis/perusahaan harus waspada dan melakukan berbagai upaya pencegahan dan pengamanan sumber daya sibernya.

 

  1. Kelangkaan pekerja potensial

Generasi Z memiliki preferensi yang berbeda dalam membangun karier. Banyak di antara mereka yang berkualitas punya banyak ide kreatif, berkarakter berani, serta lebih memilih merintis usaha sedini mungkin, ketimbang merintis karier dan menerima gaji untuk berlama-lama bekerja di satu tempat secara jangka panjang. Pemerintah kita pun mendorong kaum muda untuk berwirausaha sedini mungkin, agar bisa mandiri dengan talenta mereka dan tidak memiliki mental pegawai yang pasif. Konsekuensinya, di masa mendatang, bisnis/perusahaan akan makin sulit menemukan pekerja potensial. Untuk menghadapinya, mulailah buat program mobilitas internal yang memberi insentif kepada pekerja untuk bertahan di perusahaan dalam jangka lebih panjang sambil juga mengidentifikasi pekerja mana yang cocok untuk dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi di perusahaan. Bisnis/perusahaan juga dapat mengurangi tuntutan kualifikasi pekerjaan yang tidak esensial, seperti gender, penampilan menarik, atau gelar sarjana empat tahun, untuk lebih berfokus pada kompetensi atau keterampilan yang dimiliki kandidat. Bisnis/perusahaan juga perlu mencari kandidat di luar industri mereka, di antara tenaga kerja yang sudah pensiun, serta di lingkungan-lingkungan yang tidak biasa, demi menemukan kandidat pekerja yang tepat. Mengabaikan tren ini berarti siap kehilangan dan kekurangan SDM berkualitas, dan tentu tidak ada bisnis/perusahaan yang rela mengalaminya.

 

Tujuh tren SDM di dunia kerja dan usaha ini mendesak para pemimpin bisnis/perusahaan untuk membuka cara berpikir agar makin luas. Hal ini termasuk bersedia untuk menerima perubahan, memeriksa dan memperbaiki diri, serta tidak resisten terhadap berbagai hal baru. Pilihannya jelas: tumbuh dan maju, atau diam saja dan mandek. Pilihlah yang tepat dan nikmatilah hasil dari pilihan Anda itu, karena setiap masa memiliki keindahan yang tersendiri.

2021-11-26T13:04:56+07:00