///9 Kiat mencegah burned out dalam pekerjaan

9 Kiat mencegah burned out dalam pekerjaan

Burned out di tempat kerja bukanlah sekadar kelelahan atau stres akibat pekerjaan sehari-hari. Ini adalah kelelahan yang kronis dan frustrasi yang hebat serta perasaan tidak berdaya untuk melakukan perubahan. Mereka yang mengalaminya cenderung merasa jenuh dengan pekerjaannya, tak bersemangat, dan tidak produktif. Burned out adalah istilah di bidang psikologi yang digunakan untuk menggambarkan perasaan jenuh, dan kelesuan akibat tuntutan yang terlalu membebani tenaga dan kemampuan seseorang. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Freudenberger pada tahun 1974, dan penelitian mengenai topik ini awalnya dilakukan di bidang pendidikan, terutama pada guru yang mengalami penurunan kinerja akibat mengalami burned out.

Stamm, B. dalam “ProQUOL Manual” pada tahun 2005 menjelaskan burned out dalam perspektif penelitian, yaitu perasaan tanpa harapan dan kesulitan untuk melakukan pekerjaan secara efektif. Selanjutnya, Stamm menjelaskan pula bahwa biasanya perasaan negatif itu muncul secara perlahan-lahan. Pada akhirnya, pekerja akan merasa bahwa usaha yang dilakukan tidak membawa perubahan apa pun.

Ziegenbein seorang psikiater ahli dari “Medizinische Hochschule” (Sekolah Tinggi Ilmu Pengobatan) Hannover menjelaskan, “Burn out adalah kondisi ketika tubuh benar-benar lelah secara fisik dan mental. Kebanyakan terjadi kepada orang-orang yang berada pada tekanan yang terlampau berat.” Bagaimana cara untuk mendeteksinya? Jika menyangkut pekerjaan, burned out bisa dikenali ketika sesuatu yang biasanya bisa dilakukan dengan mudah tiba-tiba menjadi sangat sulit untuk dikerjakan. Orang merasakan adanya himpitan yang besar dan berat, kadang-kadang tanpa mengerti pemicu atau penyebabnya. Burned out dapat terjadi oleh kombinasi berbagai hal, yang biasanya bukan hanya berkaitan dengan pekerjaan saja, melainkan juga berbagai faktor di dalam kehidupan pribadi yang memicu konflik. Orang yang terlalu menuntut dirinya sendiri hingga standar-standar tertentu dalam pekerjaan atau karir, dan orang yang tidak bisa memisahkan pekerjaan dan kehidupan pribadi, adalah mereka yang paling rentan mengalami burned out. Orang-orang seperti ini sering membawa pekerjaan kemana pun mereka pergi, tanpa mempertahankan keseimbangan di dalam hidup.

Bagaimana cara mencegahnya? Berikut adalah beberapa tips yang dapat Anda terapkan.

1. Periksa kembali prioritas hidup Anda
Di antara hal-hal ini, mana yang paling penting dalam hidup Anda? Keluarga, uang dan karir/bisnis, hubungan pribadi dengan Tuhan, hobi. Yang mana yang benar-benar menjadi prioritas utama dan pusat perhatian Anda? Renungkan dan urutkan mulai dari yang terpenting hingga yang paling “tidak penting”. Kemudian, pikirkan, priotitas nomor berapa yang menurut Anda akan mudah sekali “menyeret” Anda hingga mengalami burned out? Lalu pilihan nomor berapa yang seharusnya menjadi prioritas utama supaya kita tidak terjebak di dalam kondisi burned out? Amatilah bahwa memperjelas prioritas hidup membantu Anda mengatur keseimbangan hidup.

2. Turunkan standar Anda
Banyak orang bersikap terlalu keras terhadap dirinya sendiri, dengan menentukan standar kualitas yang terlalu tinggi, misalnya:

• “Dalam dua tahun lagi saya harus mencapai posisi manajer di kantor.”

• “Pekerjaan saya harus sempurna dan tidak boleh ada kesalahan.”

• “Karena hasil kerja staf tidak sesuai dengan standar, saya harus mengambil alih sebagian pekerjaannya.”

Orang-orang yang terlalu menuntut dirinya secara berlebihan akan mudah terserang burned out. Jadi, cegah burned out dengan menurunkan standar Anda. Bersikaplah realistis, jangan berlebihan, nikmati ketidaksempurnaan, dan hargai diri Anda sendiri apa adanya. Kadang-kadang orang-orang berstandar terlalu tinggi ini perlu dibantu dengan konseling dan pendampingan pribadi untuk mengubah cara berpikirnya.

 

3. Berhenti berdalih
“Wah, kalau saya tidak memeriksa pekerjaan ini secara mendetail, saya merasa tidak tenang…”, “Saya tidak bisa ya menolak tugas apa pun yang diberikan kepada saya, sungkan rasanya…”, “Kalau saya tidak mencapai target ini, saya jadi akan ‘kehilangan muka’, dong.” Ini adalah berbagai dalih yang paling banyak dijumpai di lingkungan kerja. Ketika Anda mulai menggunakan berbagai alasan sebagai dalih untuk pembenaran diri lagi dalam bekerja berlebihan, Anda seolah-olah terjebak masuk ke dalam lubang gelap burned out dan kesulitan untuk keluar dari lubang itu. Berhentilah berdalih! Berdalih hanya akan membuang-buang energi serta pikiran Anda, dan itu ancaman burned out semakin mendekat.

 

4. Manjakan diri sambil bekerja
Ciptakan suasana kerja yang menyenangkan demi memanjakan diri Anda saat bekerja, misalnya dengan mendengar alunan musik yang bisa menambah motivasi atau menempelkan kata-kata positif yang dapat membangkitkan semangat. Memanjakan diri secara sehat membuat Anda relaks dan lebih menikmati pekerjaan, sehingga menurunkan risiko burned out.

 

5. Lakukan aktivitas sosial secara teratur
Susun dan rapikan jadwal aktivitas Anda: bekerja, komsel, pemuridan, bersenang-senang dengan orang tua atau anggota keluarga lainnya, berkumpul dengan teman-teman, melakukan hobi, dsb. Yang penting, walaupun kita tidak boleh bermalas-malasan, ingatlah bahwa hidup bukanlah hanya berisi kerja, namun hidup adalah keseimbangan yang maksimal.

 

6. Terapkan pola hidup sehat
Menerapkan pola hidup sehat berarti mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat, tidur dan olahraga yang cukup. Semua ini sudah menjadi pengetahuan umum, dan banyak orang sudah memahaminya dengan baik. Masalahnya hanyalah, kita belum melakukannya. Ayo, mulai terapkan apa yang sudah kita pahami ini sekarang! Tubuh yang sehat akan membantu kita mencapai hasil kerja yang maksimal, sehingga kita semakin terhindar dari burned out.

 

7. Libatkan diri dalam pelayanan
Ketika Anda terlibat dalam pelayanan, hidup Anda menjadi bermanfaat bagi orang lain, dan Anda akan mengalami kepuasan khusus karena apa yang Anda miliki berguna bagi orang banyak. Sebaliknya, orang yang cenderung hidup untuk dirinya sendiri tidak akan pernah mengalami kepuasan batin, seberapapun hasil yang ia berhasil kumpulkan bagi dirinya sendiri. Pelajari kehidupan Warren Buffet yang super kaya di AS, yang selalu menyisihkan harta dalam jumlah yang signifikan bagi kaum miskin, dan menikmati makna hidup.

 

8. Bangun manusia roh Anda
Hidup ini tidak cukup diisi dengan mengejar karir, menumpuk harta, membangun citra diri dengan jabatan, dsb. Jika semua inilah yang menjadi fokus, Anda akan mudah terjebak ke dalam situasi burned out. Anda perlu berfokus pada membangun manusia roh Anda, dengan memiliki hubungan intim dengan Tuhan, bersaat teduh, menggali dan merenungkan firman Tuhan, berdoa, berdialog dengan Tuhan, dsb. Membangun manusia roh adalah kiat yang terpenting yang dapat Anda lakukan sendiri, karena hal-hal ini membuat Anda memiliki ketahanan rohani yang kuat dalam melakukan berbagai aktivitas dan menghadapi berbagai pergumulan, sehingga burned out tidak akan melanda.

 

9. Minta bantuan dari orang lain
Bila tingkat burned out Anda sudah cukup akut atau berat, jangan berlama-lama berdiam diri. Hubungi seseorang yang Anda percayai (misalnya di komsel atau di gereja) untuk konseling, dilayani, dan didoakan. Jangan biarkan diri Anda sendirian. Ingat, seorang pencukur rambut pun kesulitan mencukur rambutnya sendiri, dan seorang dokter pun membutuhkan dokter lain untuk mengobati penyakitnya. Anda membutuhkan rekan/sahabat untuk menolong Anda keluar dari situasi burned out.

 

Mari, bangun keberhasilan hidup kita bukan dengan menyiksa diri hingga burned out, namun dengan melakukan firman Tuhan dalam Yosua 1:8: “Janganlah engkau lupa memperkatakan  kitab Taurat  ini, tetapi renungkanlah  itu siang dan malam , supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”

2019-10-11T12:56:24+07:00