//A Devoted Heart (Hati yang beribadah)

A Devoted Heart (Hati yang beribadah)

Rumah Sakit Scutari di Semenanjung Krimea, Turki, adalah tempat ujian panggilan hidup perempuan ini terasa nyata. Bersama dengan 38 orang perawat perempuan termasuk bibinya sendiri, dia memutuskan untuk berlayar ke sana dan menolong para prajurit yang terluka di kancah peperangan Inggris dan Perancis melawan Rusia. Apa yang mereka pikirkan dan bayangkan tentang sebuah rumah sakit di Krimea ternyata amat jauh dari kenyataan yang mereka hadapi. Bukan saja jarak yang jauh, tetapi kondisi rumah sakit itu amat sangat memprihatinkan…. Begitu banyak prajurit terluka dan jumlah tenaga medis yang menangani di dalam rumah sakit sangat terbatas, sedangkan ratusan lainnya bergelimpangan di luar bangunan tanpa tertangani. Para dokter secepat-cepatnya berusaha mengerjakan tugas, termasuk memotong bagian tubuh prajurit yang terkena mortir, granat, maupun peluru; dan potongan-potongan tubuh itu hanya dibiarkan teronggok di lahan dekat rumah sakit karena tidak ada yang peduli dan tidak ada yang tergerak untuk membersihkannya dengan menimbun atau membuangnya. Bau yang sangat menusuk hidung ditambah dengan pekerjaan yang seperti tidak ada habisnya terus mendera. Namun, itu sama sekali tidak menyurutkan semangat perempuan ini, yang segera melakukan perubahan-perubahan penting: mengatur posisi tempat-tempat tidur, mendirikan tenda untuk para prajurit korban perang yang tidak tertampung dalam bangunan rumah sakit, melakukan perawatan dengan cermat, mengganti perban dan memberikan obat secara berkala, mengepel lantai rumah sakit setiap hari, membersihkan meja kursi, mencuci pakaian kotor dengan mengerahkan tenaga bantuan dari penduduk setempat, dan membuang serta mengubur gunungan potongan bagian tubuh para prajurit pasca pembedahan. Semua dikerjakannya bersama dengan rekan-rekannya selama kira-kira sebulan penuh. Hati dan semangat perempuan ini tidak goyah sejak dia pertama kali menerima panggilan Tuhan sebelum ulang tahunnya yang ke-17. Tuhan memanggil dan hatinya menjawab panggilan itu, dan ini disimpulkannya dengan sebuah pernyataan yang sederhana tetapi tegas, “Tuhan berbicara padaku dan memanggilku untuk melayani-Nya”.
Siapakah perempuan ini…?

Dialah Florence Nightingale, yang lahir di Florence, Italia, pada tanggal 12 Mei 1820, dari keluarga kaya-raya dan terpandang. Ayahnya adalah William Nightingale, seorang tuan tanah kaya di Derbyshire, London, Inggris, sementara ibunya adalah keturunan ningrat. Florence punya begitu banyak alasan untuk menikmati kenyamanan hidup di masanya. Sebagai putri seorang tuan tanah dan dengan status keningratannya, ia layak hidup mewah seperti para gadis bangsawan di masa itu, hidup santai bermalas-malasan dan sibuk sekadar untuk bersolek dan berpesta ria dengan kalangan sosialita. Florence mempunyai seorang saudara kandung perempuan; namanya Parthenope. Namun, keduanya memiliki perilaku yang bertolak belakang. Florence lebih banyak keluar rumah dan membantu warga sekitar yang membutuhkan, sementara Parthenope bergaya hidup seperti umumnya anak dari keluarga kaya dan terpandang pada saat itu.

Perkenalan awal Florence dengan “dunia” rumah sakit dimulai saat dia berkunjung ke sebuah rumah sakit modern di Kaiserswerth, Jerman. Dia terpesona dengan komitmen dan kepedulian yang dipraktikkan para biarawati yang melayani sebagai perawat kepada pasien. Di Jerman para perawat perempuan adalah para biarawati Katholik karena dengan itu maka orang sungkan untuk melakukan hal yang tidak senonoh. Fenomena sebaliknya justru lazim terjadi di Inggris. Pada masa itu di Inggris orang tidak peduli dengan rumah sakit. Rumah sakit dianggap sebagai tempat kotor dan penuh penyakit. Orang-orang kaya memilih untuk memanggil dokter atau tenaga perawat ke rumah mereka daripada mereka harus ke rumah sakit. Lebih dari itu profesi seorang perawat perempuan dianggap hina layaknya seorang perempuan tuna susila karena perawat kadang harus berurusan dengan pasien dalam keadaan fisik terbuka dan banyak terjadi pelecehan seksual di rumah sakit; oleh karenanya orang-orang kaya sangat menentang anak perempuannya menjadi perawat. Di kalangan keluarga terhormat di Inggris, perawat adalah sebuah profesi rendah dan hina. Stigma inilah yang membuat di Inggris saat itu perawat kebanyakan adalah pria. Namun, ini tidak berlaku untuk Florence Nightingale! Di Jerman, dia jatuh cinta kepada pekerjaan sosial keperawatan dan pulang ke negerinya dengan visi mewujudkan panggilan itu secara nyata. Dia membulatkan tekad untuk mengabdikan diri pada dunia keperawatan. Keluarganya keras menentang, terutama ibu dan kakaknya, tetapi Florence tetap berteguh hati.

Sekembalinya dari tugas di Krimea, Florence terkena demam yang membuatnya harus diisolasi. Namun, kondisi itu tidak menyurutkan semangatnya untuk berkarya; ia menulis laporan sepanjang 1.000 halaman lebih, temasuk laporan statistik sebagai alat implementasi praktik khususnya untuk menolong para prajurit angkatan bersenjata Inggris. Pada tanggal 9 Juli 1860, didirikan “Florence Nightingale School of Nursing and Midwifery” (Sekolah Keperawatan dan Kebidanan Florence Nightingale), dan dia menulis Notes on Nursing, sebuah buku catatan tentang keperawatan yang kemudian menjadi buku acuan sekolah keperawatan di seluruh dunia. Pada tahun 1907, Florence mendapatkan bintang jasa The Order of Merit dari Ratu Victoria, dan selanjutnya pada 1908 dia dianugerahi penghargaan Honorary Freedom of the City dari kota London untuk kiprahnya memajukan dunia keperawatan khususnya untuk perempuan di London dan seluruh wilayah Inggris Raya.

Florence Nightingale meninggal dunia pada usia 90 tahun, pada tanggal 13 Agustus 1910. Keluarganya menolak untuk memakamkannya di Westminster Abbey (area pemakaman untuk para ningrat di Inggris) dan akhirnya jasadnya dimakamkan di Gereja St. Margareth di East Wellow, Hampshire, Inggris. Florence Nightingale bukanlah sekadar “The Lady with A Lamp” seperti julukan yang banyak dikenal orang, tetapi dia adalah pelopor pelayanan keperawatan modern, termasuk dalam hal kebersihan dan sanitasi rumah sakit, seorang ahli statistic, dan tentunya seorang perawat perempuan yang bekerja dan mengabdi dengan totalitas hati!
Sesungguhnya semua prestasi dan pengakuan yang tampak indah dan “meriah” itu tidak ada artinya jika tanpa keteguhan iman. Florence Nightingale memulai dan mendasari segala karyanya dengan iman dan penghargaan akan panggilan yang Tuhan taruh di hatinya. Kepercayaannya akan panggilan Tuhan yang begitu kokoh tertanam di hati meneguhkan tekadnya untuk bukan saja menerima panggilan itu, tetapi juga menghidupi dan menghidupkannya lewat sepanjang hidupnya sendiri. Inilah yang membuat kehidupan Florence Nightingale indah: hatinya mengabdi dalam ibadah kehidupan tanpa henti.

1 Timotius 2:9-10
“Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau Mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengna perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah.”

Pertanyaan refleksi:
1. Nilai hidup apa yang Anda petik dari kisah hidup Florence Nightingale?
2. Kapan terakhir Anda mengingat panggilan yang Tuhan taruh dalam hidup Anda?
3. Bagaimana Anda mempraktikkan dan menghidupi panggilan itu?
4. Seberapa Anda percaya bahwa Tuhan memberikan panggilan-Nya disertai dengan setiap kemampuan untuk Anda mampu mengerjakannya? Jika Anda sempat meragukan hal itu, bertobatlah. Mintalah Tuhan kembali menghidupkan panggilan itu; karena panggilan-Nya adalah gambaran Allah lewat hidup Anda yang akan menjadi kesaksian bagi banyak orang yang belum mengenal Tuhan di sekitar Anda.

Referensi: https://id.m.wikipedia.org/wiki/florence_Nightingale

2019-10-12T11:00:51+07:00