//A Heart Full of God’s Love

A Heart Full of God’s Love

Ia terlahir dengan nama Agnes Gonxha, yang berarti “ kuncup bunga”.  Ayahnya seorang yang aktif di bidang politik. Ibunya bijaksana dan berkepribadian kuat, disiplin sekaligus sangat baik hati. Agnes lahir dalam keluarga penganut Katolik yang saleh. Sang ibu sedapat mungkin membawa anak-anaknya untuk selalu menghadiri misa pagi, mengajari mereka berdoa dan menolong orang-orang yang kehidupannya tidak sebaik mereka. Ternyata inilah “benih” yang tersemai dalam hati Agnes, sehingga akhirnya ia memilih suatu keputusan yang radikal bagi Tuhan, yaitu menjadi sahabat bagi mereka yang benar-benar merupakan golongan termiskin di tengah-tengah masyarakat.  Ketika Agnes berusia 9 tahun, ayahnya meninggal dunia, dan peristiwa itu menjadi suatu tantangan yang besar bagi keluarganya. Awalnya, ibunya begitu terpukul hingga tidak dapat berbuat apa-apa, namun akhirnya berhasil bangkit dan mulai membangun usaha berjualan pakaian dan hasil sulaman tangan.  Dari teladan yang diberikan ibunya, Agnes mendapat suatu pelajaran penting, yaitu menghadapi nasib buruk dan kemiskinan dengan semangat yang kuat.

Pada usia 18 tahun, Agnes mengambil keputusan bulat untuk menjadi misionaris di India serta membaktikan diri bagi kaum miskin. Untuk itu, dia memilih menjadi biarawati. Ibunya mendukung keputusan Agnes ini.  Agnes pun masuk ke dalam Ordo “Sister of Loreto”.  Pada tanggal 6 Januari 1929 ia tiba di India, dan 4 bulan kemudian (23 Mei 1929) Agnes menjadi novis serta mengganti namanya menjadi “Teresa” (nama seorang biarawati Prancis dari ordo Karmelit yang menjalani masa hidupnya yang pendek di sebuah biara di daerah Lisieux). Tepat di tanggal 24 Mei 1931, Suster Teresa mengucapkan kaulnya.  Ia kemudian ditugaskan ke Darjeeling, sebuah kota di kaki perbukitan Himalaya, untuk mengajar di sekolah biara Loreto sambil membantu di rumah sakit.  Itulah bekal yang dia dapatkan sebelum akhirnya 100% mengabdikan diri bagi mereka yang terabaikan. Setelah hampir 19 tahun tinggal di lingkungan biara sebagai novis, Suster Teresa makin terusik melihat apa yang ada di dalam tembok biara sangat kontras dengan apa yang terjadi di luar sana. Hatinya mulai terketuk, dia mengingat apa yang menjadi kerinduannya yang paling dalam. Tahun 1943, saat Benggala dilanda bencana kelaparan, 5 juta orang meninggal dunia.  Jalan-jalan penuh dengan orang yang kelaparan dan sekarat. Di tahun 1946 terjadi lagi suatu bencana, di mana terjadi huru-hara besar akibat bentrokan golongan Islam dan Hindu. Hanya dalam 5 hari, lebih dari 4.000 orang tewas.

Di tahun 1946 juga, dalam perjalanan menuju retret tahunannya, Suster Teresa berkata, “Aku mendengar panggilan untuk meninggalkan segalanya dan mengikuti DIA ke lorong-lorong kumuh untuk melayani orang-orang miskin dan terlantar.”  Hal ini kemudian menjadi kekuatan yang mendorong segenap hidupnya untuk bergerak. Tepat di tanggal 8 Agustus 1948, untuk pertama kalinya ia mengenakan pakaian putih dengan kain sari bergaris biru. Suster Teresa pun memulai hidupnya di tengah orang-orang miskin. “By blood, I am Albanian. By citizenship, an Indian. By faith, I am a Catholic nun. As to my calling, I belong to the world. As to my heart, I belong entirely to the Heart of Jesus.” (“Menurut darah, saya adalah orang Albania. Menurut kewarganegaraan, saya adalah orang India. Menurut iman, saya adalah biarawati Katolik. Menurut panggilan, saya adalah milik dunia ini. Dan menurut hati saya sendiri, saya sepenuhnya adalah milik hati Yesus sendiri.”) Dalam buku hariannya tergambar bahwa tahun pertamanya penuh dengan kesulitan, hingga ia tidak memiliki penghasilan dan harus meminta makanan dan persediaan. Suster Teresa sempat mengalami keraguan, kesepian dan godaan untuk kembali dalam kenyamanan kehidupan biara. “Tuhan ingin saya masuk dalam kemelaratan. Hari ini saya mendapat pelajaran yang baik. Kemelaratan para orang miskin pastilah sangat keras. Ketika saya mencari tempat tinggal, saya berjalan dan terus berjalan sampai lengan dan kaki saya sakit. Saya bayangkan betapa mereka sakit jiwa dan raga, berusaha mencari tempat tinggal, makanan dan kesehatan. Kemudian kenikmatan Biara Loreto datang pada saya. ‘Kamu hanya perlu mengatakan dan semuanya akan menjadi milikmu lagi,’ kata sang penggoda… Sebuah pilihan bebas, Tuhanku, cintaku untukmu, aku ingin tetap bertahan dan melakukan segala keinginan-Mu merupakan kehormatan bagiku. Aku tidak akan membiarkan satu tetes air mata jatuh karenanya.”

Pada tanggal 7 Oktober 1950, Suster Teresa membangun kongregasi keuskupan yang kemudian menjadi Ordo Cinta Kasih. Misinya adalah untuk merawat “yang lapar, telanjang, tunawisma, orang cacat, orang buta, penderita kusta, semua orang yang merasa tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak diperhatikan seluruh masyarakat, orang yang telah menjadi beban bagi masyarakat dan dihindari oleh semua orang.”

Pekerjaan Suster Teresa diakui di seluruh dunia.  Pada tahun 1979 ia mendapat hadiah Nobel Perdamaian. Pelayanannya sama sekali tidak mengenal batas; bermula di India, kemudian meluas hingga ke seluruh penjuru dunia. Selama bertahun-tahun, Suster Teresa mengembangkan Ordo Cinta Kasih untuk melayani “termiskin dari yang miskin” di 450 lokasi di seluruh dunia. Pada saat kematiannya, Ordo Cinta Kasih telah memiliki lebih dari 4.000 suster dan komunitas persaudaraan dengan 300 anggota yang menjalankan 610 misi di 123 negara. Ini termasuk penampungan dan rumah bagi penderita HIV/AIDS, kusta dan TBC, dapur umum, program konseling anak-anak dan keluarga, pembantu pribadi, panti asuhan, dan sekolah. Ordo Cinta Kasih juga dibantu oleh para pekerja perwakilannya, yang pada tahun 1990-an telah berjumlah lebih dari 1 juta orang. Seiring dengan semakin luasnya lingkup dan dampak pelayanannya, Suster Teresa lebih dikenal sebagai Bunda Teresa. Ia telah menjadi Bunda bagi kaum yang terabaikan.

Kita mungkin tidak dapat melakukan sebanyak yang dilakukan oleh Bunda Teresa, tetapi kita bisa belajar dari hatinya yang dipenuhi dengan kasih kepada Kristus. Kasih kepada Kristus membangun kepekaan dirinya sebagai seorang wanita terhadap kebutuhan mereka yang miskin dan terabaikan.  Pelayanan Bunda Teresa sangat menunjukkan sentuhan kewanitaannya; bukan hanya radikal, namun juga memiliki warna khas seorang wanita, yaitu memperhatikan hal-hal yang kecil dan sangat praktis sehari-hari.

Wanita-wanita Allah, jika kita sudah merasa nyaman dengan iman kita, kita akan cenderung merasa puas diri dan tidak peduli akan orang-orang di sekililing kita. Kita tidak akan memiliki visi dan tentu saja perlahan-lahan tidak lagi memiliki kasih. Akan tetapi, bila kita senantiasa mengizinkan kasih Allah menggerakkan hati kita sesuai kehendakNya, dan kita bertekad untuk melakukan kehendakNya itu serta menggenapi tujuanNya di dalam hidup kita, di saat itulah kita akan menemukan panggilanNya bagi kita. Kehendak Allah ada di dalam firmanNya. Semua tertulis jelas di sana bagi kita. Apakah Anda sudah mengetahuinya? Apapun profesi dan latar belakang Anda saat ini, ketahuilah bahwa rencana Allah bagi hidup kita adalah menjangkau mereka yang belum mengenal Dia, dan ini merupakan suatu kesempatan yang istimewa. Mari kita belajar dari hati seorang Agnes Gonxha Bojaxhiuc, belajar menjadi wanita yang dipenuhi dengan hati Kristus; seperti salah satu pernyataannya: “Not all of us can do great things. But we can do small things with great love.”  (“Tidak semua dari kita bisa melakukan hal-hal besar. Tetapi, kita semua bisa melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar”). Melayani dengan hati adalah melakukan segala sesuatu dengan kasih, karena tidak ada hal apapun yang dapat berdampak besar jika dilakukan tanpa kasih.
(Sumber: biokristi.sabda.org, buku “Mereka yang Berjasa bagi Dunia”, karya Charlotte Gray)

2019-10-17T16:01:28+07:00