A Homemaker

“… Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan. Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya. Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia: Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.” (Amsal 31:10-31)

Siapakah yang dapat menandingi kualitas wanita yang hidupnya tertulis dalam kitab Amsal tersebut? Setiap wanita tentu berkata, “Mustahil! Mana mungkin aku bisa melakukannya?” ketika diperhadapkan pada rutinitas sehari-hari mulai dari menyiapkan sarapan untuk keluarga, menghadapi tumpukan pakaian kotor, sepatu dan kaus kaki yang bergeletakan, lantai rumah yang lengket, meja dan piring yang kotor, dan segudang “kekacauan lainnya”. Bukankah semuanya itu terkadang dapat menghilangkan asa, membuat kita kewalahan, bahkan menjadi marah dan pahit? Tanggung jawab sebagai homemaker (pengelola yang “menciptakan”/”menghidupkan” rumah tangga) menjadi beban yang diam-diam dibenci. Padahal, apa jadinya jika hati seorang istri/ibu tak lagi diisi oleh kerinduan menjadi seorang homemaker?

Wanita adalah “jantung” dari sebuah rumah tangga. Tanpa kehadirannya, sebuah rumah tangga  bagaikan museum yang sepi dan dingin. Disadari atau tidak, setiap wanita yang telah menikah memiliki panggilan sebagai homemaker di rumah tangganya masing-masing. Mari kita lihat teladan Allah sebagai homemaker semesta yang kita jadikan sebagai rumah/tempat tinggal ini. Mazmur 19:1-4 berkata, “Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tanganNya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar”.  Allah menciptakan bumi sedemikian indahnya; gunung berapi dan lautan yang luas, terbit dan terbenamnya matahari, bintang-bintang yang berkilau, padang rumput yang hijau – semuanya itu menjadikan keindahan yang memanjakan mata. Bahkan, Ia menciptakan merdunya suara burung yang bernyanyi di telinga kita, makanan untuk dinikmati setiap hari, dan hutan untuk kita bernaung. Allah merupakan Sang Homemaker yang mahaulung. Segala yang ada di bumi ini menceritakan kemuliaan, kasih dan penyediaanNya bagi kita.

Demikian pula, kita dapat menjadi homemaker. Apa yang kita hadapi sehari-hari dapat menceritakan kemuliaanNya. Jangan biarkan kekesalan tinggal lebih lama dalam hati Anda ketika tumpukan piring kotor ada di depan mata, karena bukankah itu menandakan bahwa Anda telah menyediakan makanan untuk seisi rumah (Ams. 31:15)? Jangan menggerutu ketika diperhadapkan dengan segunung pakaian kotor, karena bukankah itu pertanda bahwa Anda memberikan pakaian yang terbaik bagi seluruh anggota keluarga (Ams. 31:21)?

Apa pun yang kita lakukan sesungguhnya dapat mencerminkan kemuliaan Tuhan bagi orang-orang yang kita kasihi. Pertama, kita dapat menunjukkannya melalui kasih yang tak bersyarat, pengorbanan, kerelaan, dan pengampunan di dalam rumah kita. Kemudian, gunakan talenta yang ada pada kita untuk menghias atau merapikan rumah Anda menjadi tempat yang indah untuk dihuni, sama seperti Allah yang menciptakan bumi dan segala isinya menjadi tempat yang indah dan nyaman untuk manusia berdiam.

Rutinitas yang Anda lakukan setiap hari sebenarnya adalah kesempatan bagi Anda untuk menyatakan Allah di rumah Anda. Menghidangkan makanan yang bergizi bagi keluarga adalah menunjukkan penyediaan Allah setiap hari, memperdengarkan lagu-lagu rohani atau menaikkan pujian dan penyembahan bersama dapat mengubah suasana rumah menjadi penuh damai, menyambut suami dengan senyuman dan memberikan pelukan hangat ketika anak-anak kembali dari sekolah pun menyatakan kasih Allah yang tak berkesudahan. Semua perkara sederhana itu dapat mengubah suasana rumah Anda hingga menjadi seperti di surga. Ingatlah akan taman Eden, tempat pertama manusia tinggal. Di dalam taman Eden, manusia dapat bertemu dan merasakan langsung kehadiran Tuhan. Jadikan rumah kita tempat terbaik hingga setiap orang yang ada di dalamnya merasakan langsung kasih dan kemurahan Tuhan. Itu sebabnya, keluarga Anda membutuhkan seorang istri/ibu yang memancarkan kemuliaan Tuhan di dalam rumah. Teruslah berkarya, mintalah tuntunan Roh Kudus setiap saat, dan jangan menyerah terhadap rutinitas, karena Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Rm. 8:28), hingga terjadilah segala kehendak Tuhan yang indah itu di rumah Anda, seperti di surga.

2019-10-17T16:04:18+07:00