//A True Disciple of Christ (基督的真正门徒)

A True Disciple of Christ (基督的真正门徒)

Year 1956. A group of young missionaries from the United States went to a remote area in the rainforest of Ecuador, South America. Five young men with their respective wives and children came with hearts filled with the love of Christ to reach out to the Waodani people. However, only a few days after they established their first missionary camp to settle there, tragedy happened. Five of them were killed by the Waodani people. The news of their deaths was broadcast around the world, and the young widows went back to their hometowns, bringing their little children along with deep wounds in their hearts.

1956年,一群来自美国的年轻传教士来到南美大陆厄瓜多尔的丛林。 五个年轻人和他们的妻子以及年幼的孩子,每个人都怀着基督的爱来到瓦达尼部落,为他服务。 然而,就在他们建立第一个宣教营并住在那里几天后,灾难就降临了。 五名年轻的传教士被瓦达尼部落杀害。 他们惨死的消息传遍了世界各地,传教士的妻子带着年幼的孩子回到了自己的祖国,带着深深的悲痛。

Pada tahun 1956, sekelompok misionaris muda dari Amerika Serikat pergi ke pedalaman rimba Ekuador, di benua Amerika bagian Selatan. Lima pemuda beserta istri dan anak-anak mereka masing-masing yang masih sangat kecil datang dengan hati penuh kasih Kristus untuk menjangkau suku Waodani bagi-Nya. Namun, hanya beberapa hari setelah mereka mendirikan kamp misionaris pertama dan tinggal di sana, musibah terjadi. Kelima misionaris muda itu tewas dibunuh oleh suku Waodani. Berita kematian mereka yang tragis tersiar ke seluruh dunia, dan para istri misionaris itu pulang ke negara asal, membawa anak-anak yang masih sangat kecil serta duka yang mendalam.

 

Everyone would think they must have been so deeply traumatized they would never go to the Waodanis. Unexpectedly, a few years after the loss, they came back to Ecuador. They decided to stay among the Waodani people and continue the mission that had brought them there in the first place. Through their mission works, they kept spreading the love of Christ and the Good News to the people of Waodani. Eventually, they led many of the people to Christ, including some of those directly involved in the killing of their husbands before. Also, their children grew in love towards Christ and Waodani people.

大家都认为传教士的妻子一定经历了严重的创伤,再也不想踏足瓦达尼部落居住的地区。 然而出乎意料的是,几年后他们又回来了。 他们决定留在瓦达尼部落并继续最初的使命,这也是他们来到这里的首要原因。 震惊的不仅仅是本国人民,瓦达尼部落也没想到母子们会回来。 最终,通过月复一月、年复一年的宣教工作,他们不断向瓦达尼部落传播基督的爱和好消息,直到有一天收获了灵魂的果实。 瓦达尼部落的许多灵魂开始相信基督,其中包括一些参与谋杀早期传教士的凶手。 甚至于,他们的孩子在热爱上帝和瓦达尼部落的过程中长大。

Semua orang berpikir istri-istri misionaris itu pasti mengalami trauma yang parah dan tidak akan pernah mau menginjakkan kaki lagi di daerah tempat tinggal suku Waodani. Sebaliknya, di luar dugaan, beberapa tahun kemudian mereka kembali. Mereka memutuskan tinggal bersama suku Waodani dan meneruskan misi awal yang menjadi alasan mereka datang dahulu. Bukan hanya orang-orang di negara asal mereka yang terkejut, suku Waodani pun tidak menyangka para ibu dan anak-anak itu datang kembali. Akhirnya, melalui bulan demi bulan dan tahun demi tahun pekerjaan misi, mereka terus menyebarkan kasih Kristus dan kabar baik kepada suku Waodani, sampai suatu saat buah-buah jiwa dituai. Banyak jiwa dari suku Waodani menjadi percaya kepada Kristus, termasuk sebagian pelaku yang pernah terlibat dalam pembunuhan para misionaris awal. Bahkan, anak-anak mereka pun tumbuh dalam kecintaan kepada Tuhan dan suku Waodani.

 

Many people questioned why and how they were able to stay… To not leave the very place where their husbands were killed? To keep loving and embracing those who killed their husbands, and even consider them as their own family? Did they somehow forget their husbands’ death? Didn’t they remember that those were the people whose hands had caused the death of their husbands? Didn’t they love their husbands?

很多人质疑为什么妻子们能够继续坚侍生活在那里……一个妻子有可能继续生活在丈夫被谋杀的地方吗? 我们是否能够继续爱并拥护着那些杀害自己亲人的人,甚至让他们成为我们自己的家人? 你丈夫的死不会继续困扰你的心吗? 难道她们不记得她们的丈夫就是被那些人夺走了生命吗? 难道她们不爱自己的丈夫吗?

Banyak orang pun mempertanyakan, mengapa para istri itu sanggup terus bertahan di sana… Apakah mungkin seorang istri bisa terus hidup di tempat suaminya dibunuh? Sanggupkah kita terus mengasihi dan merangkul orang-orang yang membunuh orang terkasih kita, bahkan menjadikan mereka keluarga bagi kita sendiri? Tidakkah kematian suami akan terus membayangi dan menggelayuti hati? Tidakkah mereka ingat bahwa di tangan orang-orang itulah suami mereka direnggut nyawanya? Tidakkah mereka mencintai suami-suami mereka?

 

Of course they loved their husbands dearly! But, their love for Christ overcame their love for anyone and everything else, even their loved ones and their own lives. They loved Christ and obeyed Him, and kept carrying their cross until the end.

她们当然非常爱自己的丈夫! 然而,他们对基督的爱胜过对任何人和任何事的爱,包括他们最心爱的生活伴侣和他们自己的生活。 尽管经历了这一切,他们仍然爱基督,跟随祂的引导,顺服地背着十字架,直到生命的尽头。 耶稣本人是这样解释的:

Tentu saja mereka sangat mencintai suami mereka! Namun, cinta mereka kepada Kristus mengalahkan cinta mereka terhadap siapa pun dan apa pun, termasuk terhadap pasangan hidup yang paling dikasihi dan terhadap nyawa diri sendiri. Melewati segala sesuatu, mereka tetap mengasihi Kristus, mengikuti tuntunan-Nya, dan taat memikul salib sampai akhir hidup mereka. Seperti itulah Yesus sendiri telah menjelaskannya:

 

“If you want to be my disciple, you must, by comparison, hate everyone else – your father and mother, wife and children, brothers and sisters – yes, even your own life. Otherwise, you cannot be my disciple.” (Luke 14:26, NLT)

人到我这里来,若不爱我胜过爱(爱我胜过爱:原文作恨)自己的父母、妻子、儿女、弟兄、姐妹,和自己的性命,就不能作我的门徒 (路14:26)

Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Lukas 14:26)

 

What they did was impossible if they weren’t the true disciples of Christ. The Holy Spirit, who lives in the heart of true disciples, is the One that enable them to love the way Christ does, and that is exactly what happened to those missionaries’ wives.

如果到瓦达尼部落中去的传教士妻子不是基督的真正门徒,她们的决定和行动是决不可能的。 只有住在真正门徒心中的圣灵才能使人像基督那样去爱,而这也就是他们所经历的。

Keputusan dan tindakan para istri misionaris ke suku Waodani itu memang mustahil jika mereka bukan murid Kristus sejati. Hanya Roh Kudus yang tinggal di dalam hati murid sejatilah yang memampukan seseorang untuk mengasihi seperti Kristus mengasihi, dan itulah yang mereka alami.

 

To be a true disciple of Christ starts with a decision to love Him more than anything and anyone. It means to allow Him lead our heart, mind, and whole life. It is to let His love wipe away our sinful, evil and selfish nature, and transform it to His godly loving nature, so that His light shines out through our lives.

成为基督真正的门徒,首先要决定爱基督胜过爱任何事或任何人。 这个决定意味着我们让基督来引导我们的心灵、思想、情感和我们的全部生活。 我们让祂的爱洁净我们的原罪、邪恶和自私本性,让我们像基督一样充满神圣的爱,让他的光照亮我们的生命。

Menjadi murid Kristus sejati dimulai dengan keputusan untuk mengasihi Kristus lebih dari mengasihi apa pun dan siapa pun. Keputusan itu berarti kita mengizinkan Kristus memimpin hati, pikiran, perasaan, dan seluruh hidup kita. Kita mempersilakan kasih-Nya membersihkan sifat alamiah kita yang berdosa, jahat dan egois, menjadi penuh kasih ilahi seperti Kristus, sehingga terang-Nya bercahaya melalui hidup kita.

 

Will you then, be a true disciple of Christ?

我们准备好成为基督真正的门徒了吗?

Siapkah kita menjadi murid Kristus sejati?

 

 

“Let your light so shine before men, that they may see your good works

and glorify your Father in heaven.” (Matthew 5:16)

你们的光也当这样照在人前,叫他们看见你们的好行为,便将荣耀归给你们在天上的父(太5:16)

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga. (Matius 5:16)

2024-05-29T12:24:26+07:00