//Ada DASARNYA?

Ada DASARNYA?

Beberapa waktu yang lalu, saya memulai babak baru di dalam perjalanan iman saya. Saat itu, seperti yang biasa saya lakukan, saya mengobrol dengan Tuhan tentang ini dan itu, sebelum menutup hari. Memang saat-saat berduaan dengan Dia seperti ini selalu berharga bagi saya. Dalam gelap, karena lampu kamar sudah dimatikan, hati dan pikiran saya asyik bercengkerama denganNya. Topiknya apa saja, segala hal.

Kali itu, saya sedang merenungkan ayat dari kitab Mazmur yang sempat saya baca di permukaan hosti saat mengikuti perjamuan kudus di acara ibadah, yang kira-kira berbunyi: “Aku bangun mendahului waktu jaga malam, untuk merenungkan janji-janjiMu.” Saya teringat pada janji-janji yang pernah Tuhan berikan di sepanjang hidup saya. Ada yang sudah terealisasi, ada yang belum. Saya pun berkata kepada Tuhan dalam obrolan kami, “Tuhan, terima kasih karena janji-janjiMu yang sudah terealisasi, tapi apa yang harus kulakukan dengan janji-janjiMu yang belum terealisasi?” Lalu Tuhan menjawab, pelan namun jelas, “Kamu berdoa. Doa iman.” Dan inilah kelanjutan dari percakapan itu…

Saya: “Apa itu doa iman, Tuhan?”
Tuhan: “Berdoa dari imanmu. Bukan dari permintaanmu. Bukan dari penantianmu.”
Saya: “Oh… Caranya?”
Tuhan: “Ya, kamu bicara sesuai dengan imanmu.”
Saya: “Ok, Tuhan.” “Bla bla bla…” (mengucapkan janji-janji Tuhan yang pernah diterima, mengucapkan rancangan Tuhan untuk diri saya, keluarga saya, orang-orang yang saya kasihi, dll.)

Sambil saya berkata-kata di dalam doa iman itu, saya benar-benar merasakan hati saya semakin kuat dan semakin kuat. “Wah, berarti benar, saya memang harus berdoa iman,” pikir saya. Tiba-tiba Tuhan menyela, “Janji-janji itu belum terlihat realisasinya, tapi mengapa kamu mau berdoa iman ketika Kusuruh tadi? Kamu benar-benar tahu bahwa semua itu akan terjadi?” Saya pun tertegun. “Iya ya, mengapa aku mau, ya?”

Dalam diam, saya melanjutkan perenungan, dan RohNya mengingatkan saya akan bagian dalam Firman yang berkata, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat…” dan “Iman timbul karena pendengaran akan firman Kristus.” Deg. Ini dia. Pencerahan! Saya dapat jawabannya!

“Tuhan, aku mau berdoa iman, karena aku yakin bahwa janji-janjiMu pasti akan terjadi. Aku yakin itu semua akan terjadi, karena keyakinanku itu ada dasarnya, yaitu iman. Aku punya iman itu, karena aku sudah mendengar Engkau berfirman mengenai setiap janji itu masing-masing.¬†FirmanMu yang menjadi imanku itu adalah dasarnya.¬†Kalau seseorang membuat janji bertemu dengan aku di suatu hari, tanggal, jam dan tempat, aku akan datang dan menunggu dia di hari, tanggal, jam dan tempat yang sudah kami janjikan itu. Aku yakin bahwa pertemuan itu akan terjadi, karena orang itu sudah berjanji, memberikan kata-katanya, kepadaku. Itu dasarnya.”

Tuhan tidak menjawab saya lebih lanjut, tetapi hati saya terasa menghangat oleh senyumNya. Ah, obrolan yang sungguh indah untuk mengantar saya terlelap ke gerbang mimpi…

Apa saja janji Tuhan yang belum terealisasi dalam hidup Anda hingga hari ini? Bagaimana kondisi iman Anda dalam hal setiap janji itu? Masihkah Anda yakin akan realisasinya? Ataukah Anda justru hanya meminta seolah-olah Tuhan lupa dan menunggu dengan pasif saja? Ingat, jika memang Anda pernah mendengarnya dari mulut Tuhan, firman yang pernah Anda dengar dariNya berupa janji itulah yang menjadi iman Anda, dan iman itulah dasar dari segala realisasinya, realisasi yang memang kita harapkan walau sekarang belum terlihat. Yuk, temukan kembali dasar itu dan mulai berdoa dengan iman bersama dengan saya, karena iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

2019-10-17T16:46:14+07:00