//Ajal yang terbatalkan

Ajal yang terbatalkan

Saya hidup bersama seorang anak perempuan saya. Sebagai penopang keluarga, hidup tidaklah mudah, apalagi kami tinggal di sebuah wilayah yang sedang mengalami krisis. Perekonomian kota kami belakangan mengalami guncangan. Dua tahun lamanya tanah tidak disirami air hujan. Kekeringan terjadi di mana-mana. Tanaman layu, mati, dan akhirnya gagal panen dan gagal tanam. Semua bahan makanan menjadi sangat mahal. Ujungnya, wabah kelaparan mulai melanda.

Penduduk sudah melakukan segala cara agar hujan dapat turun. Kami berdoa memohon ampun kepada dewa kami. Berbagai upacara dan ritual juga sudah kami lakukan agar kehidupan dapat kembali normal. Namun, jawaban tak kunjung datang. Setitik hujan pun tak kunjung turun ke bumi. Konon, ada satu Allah yang sanggup menolong, tetapi sejauh ini sosok-Nya belum tampak.

Bagi saya sendiri, puncak dari kekeringan ini adalah ketika kami terpaksa berhadapan dengan kenyataan bahwa bahan makanan yang tersisa di rumah hari itu akan menjadi asupan terakhir kami. Saya dan anak saya. Sebagai seorang single parent, rasanya berat menanggung beban ini seorang diri. Tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan selain berpasrah, karena memang tidak ada lagi yang dapat saya usahakan. Meminta bantuan kepada warga yang lain? Jangan harap dapat bantuan! Mereka pun mengalami hal yang serupa. Masing-masing rumah tangga berhemat sedemikian rupa untuk dapat memperpanjang hidup. Menolong tetangga sama sekali bukan prioritas di masa sesulit ini.

Hari itu, matahari serasa membakar dengan teriknya. Dari ladang, saya mengambil kayu bakar dua tiga potong untuk perapian kami yang terakhir. Di tengah perjalanan, tiba-tiba muncul seorang pria di belakang saya. Entah datangnya dari mana. Mungkin karena sedari tadi pikiran ini melayang-layang, saya tidak menyadari keberadaan orang asing itu. Suaranya terdengar lemah namun tegas, ”Cobalah ambil bagiku sedikit air, supaya aku minum”.

Karena rasa belas kasihan, saya buru-buru mengambil air minum agar dapat diberikan kepadanya. Betul saja. Ia kelihatan haus sekali. Setelah meneguk air segar itu, orang asing itu kemudian menatap saya hendak mengatakan sesuatu. “Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti,” katanya.

Hmm, saya belum pernah melihat orang itu. Ia bukanlah penduduk kota kami. Pelan-pelan, saya mencoba menjelaskan bagaimana kondisi keluarga saya, bahwa kami tidak lagi mempunyai roti. Yang kami punyai saat itu hanyalah sedikit tepung dalam tempayan dan sedikit minyak. Itulah bahan makanan terakhir keluarga kami. Pendeknya, setelah itu kami akan bersiap-siap menyongsong ajal.

Anehnya, walaupun sudah menjelaskan demikian, tetap saja seperti ada dorongan yang kuat di hati ini untuk tetap menolongnya. Sempat timbul pertanyaan-pertanyaan. Bagaimana mungkin saya memutuskan untuk menolong orang lain, di saat saya sendirilah yang sebenarnya butuh untuk ditolong?! Bahkan setelah berpikir begini, saya tetap memutuskan untuk tetap menolongnya. Apalagi, ketika ia mengatakan bahwa tepung dalam tempayan saya itu tidak akan habis dan minyak itu juga tidak akan berkurang sampai pada waktu Allah memberikan hujan ke atas muka bumi. Apakah ini pertolongan Allah itu? Bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Tidak tahu! Hari itu, saya hanya mengikuti dorongan hati saya yang percaya terhadap janji pertolongan Allah itu.

Rupanya keputusan untuk percaya kepada janji Allah dan taat kepada perintah-Nya memang tidak pernah salah. Saya mengalami mukjizat karenanya. Setelah saya menolong orang asing itu, tepung dan minyak di dapur tidak pernah habis. Saya dan anak perempuan saya makan dengan layak, setiap hari sampai hari ketika hujan turun ke atas muka bumi. Belakangan, saya tahu bahwa orang asing itu adalah seorang Nabi Allah. Dan saya pun mengerti, Allah yang besar itu ada di tengah-tengah desa saya. Dia selalu punya cara yang ajaib untuk menyatakan diri-Nya dalam hidup kami bersama, asalkan kami masing-masing setia untuk melakukan kehendak-Nya.

2019-10-17T10:38:12+07:00