///Aku dan Tali Benang Kirmizi

Aku dan Tali Benang Kirmizi

Kupegang erat tali dari benang Kirmizi itu digenggaman tanganku; bisa kurasakan hatiku berdebar-debar saat mengingat peristiwa itu. Bukan kebetulan aku tinggal di tembok kota Yerikho yang menjadi kota tujuan orang-orang itu. Mereka sepertinya khusus dikirim untuk berjumpa denganku. Menurutku, itu semua memang sudah ada dalam agenda Tuhan sendiri.

Peristiwa itu berputar kembali dalam ingatanku… Malam itu, dua orang datang berkunjung dan bermalam di rumahku, tetapi keduanya dicurigai sebagai pengintai sehingga dikirimkanlah utusan untuk memintaku menyerahkan kedua tamu itu. Sebelum kedatangan dua orang itu, aku memang seperti sudah punya firasat bahwa ini adalah hal yang sangat serius. Akupun memutuskan menyembunyikan kedua orang itu keatap rumah dan menutupi mereka di bawah timbunan batang rami yang kutebarkan untuk dijemur. Ada sebuah dorongan yang kuat di hatiku untuk melakukan hal ini. Entah apa maksudnya, tetapi aku begitu yakin sedang melakukan perkara yang benar. Maka, kuikuti saja kata hatiku saat itu.

Kukatakan pada utusan yang datang bahwa aku tidak tahu dari mana kedua orang tamu itu datang dan waktu pintu gerbang akan ditutup menjelang malam keluarlah orang-orang itu; aku tidak tahu kemana mereka pergi. Bahkan, kuminta untuk para utusan itu segera mengejar mereka supaya dapat menyusul mereka. Syukurlah, kelihatannya para utusan itu percaya dan menganggap kedua tamu itu memang sekadar mampir di rumahku, seorang perempuan yang sehari-harinya memang biasa didatangi banyak laki-laki.

Setelah utusan-utusan pergi untuk mengejar tamu-tamuku, segeralah aku naik keatap rumah sebelum kedua tamu tadi tertidur. Adahal yang membuncah di hatiku untuk berbicara kepada mereka; apa yang selama ini ada dalam benakku. Banyak orang datang dan berkunjung kerumahku, banyak hal yang kudengar, tetapi satu hal yang paling menarik hati dan sulit untuk kulupakan ialah bagaimana Allah bangsa Israel mengeringkan air Laut Teberau saat bangsa itu berjalan keluar dari Mesir, serta bagaimana bangsa ini menumpas dua raja orang Amori di seberang sungai Yordan. Hal-hal itu membuat kami yang tinggal di Yerikho menjadi takut dan tawar hati. Tuhan Allah Israel adalah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah, Dia sungguh Allah yang hidup dan berkuasa! Bermacam rasa mengaduk hati dan pikiranku. Ada kekaguman yang membuatku takut dan takjub pada Allah Israel, sekaligus juga ada kegentaran bahwa Allah Israel telah memberikan keputusan-Nya: Yerikho akan ditaklukkan. Satu kerinduan muncul jauh didalam hatiku: aku ingin mengenal pribadi Allah Israel yang hidup dan berkuasa itu! Itulah sebabnya kuminta kepada dua orang tamu yang datang kerumah kusaat itu berjanji bahwa saat Yerikho ditaklukkan ada belas kasihan untuk keselamatan jiwa ayah-ibuku, saudara-saudaraku laki-laki dan perempuan,bahkan semua orang-orang dan keluarga mereka masing-masing. Aku minta suatu tanda yang dapat dipercaya bahwa mereka akan berlaku ramah terhadapku dan keluargaku seperti aku berlaku ramah terhadap mereka.

Memang Allah orang Israel itu luar biasa. Kedua tamu itu setuju untuk tidak membahayakan kami. Ada jaminan untuk kesepakatan kami. Nyawa kedua orang ini sebagai tanda terima kasih dan kesetiaan mereka terhadap janji, asalkan aku tidak memberitahukan perkara ini kepada siapapun yang bertanya. Aku minta kepada mereka untuk pergi kepegunungan dan bersembunyi selama tiga hari supaya pengejar-pengejar itu tidak menemukan mereka, lalu setelah itu mereka harus melanjutkan perjalanannya kembali. Selanjutnya, tali dari benang kirmizi harus kuikatkan pada jendela rumahku sebagai penanda perjanjian lepasnya aku dan seluruh kaum keluargaku dari maut saat Allah Israel memberikan kotaYerikho untuk ditaklukkan.

Jadilah, aku hanya punya waktu tiga hari untuk mempersiapkan seluruh keluargaku tentang berita keselamatan yang akan kami semua alami dan terima sejak peristiwa malam itu ketika aku mengikat perjanjian dengan dua orang tamuku. Aku harus menyampaikan berita ini kepada seluruh keluarga dan kaumku dan meyakinkan mereka bahwa keselamatan jiwa mereka terjamin sepenuhnya, sambil tetap berhati-hati karena seluruh kota Yerikho sedang dalam masa penantian yang mencekam, karena kami tahu bagaimanapun kami harus takluk; maklumat itu sudah tidak bisa ditawar lagi.

Kini seluruh kaum keluargaku sudah berkumpul dirumahku dengan penuh harap dan doa bahwa kami terlepas dari maut yang akan membumi hanguskan Yerikho. Pintu gerbang kota telah tertutup sehingga tidak ada orang keluar atau masuk saat ini. Hening mencekam seluruh kota selama masa-masa ini.Tiga hari sejak kedua orang tamu itu meninggalkan rumahku berlanjut dengan enam hari dalam kesunyian. Tidak ada sama sekali tanda penyerangan, tetapi di rumahku di dekat tembok batas kota ini aku bisa merasakan ada barisan yang mengitari Yerikho setiap harinya, ada suara sangkakala ditiup tetapi tidak ada suara manusia terdengar. Sepertinya setelah mengitari Yerikho mereka kembali keperkemahannya. Aku dan seluruh kaum keluargaku berkumpul di dalam rumah dan menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi. Kami tegang, tetapi kami tetap berharap dan berdoa. Kami percaya akan perjanjian keselamatan ini. Tali benang dari kirmizi berwarna merah sudah terikat di jendela rumahku seperti yang telah kusepakati dengan kedua orang tamuku.

Dan… Pada hari yang ketujuh, sesuatu yang berbeda terjadi. Kali ini barisan orang Israel bukan hanya sekali mengitari kota, tetapi tujuh kali. Mereka berbaris dan meniup sangkakala, lalu pada kali yang ketujuh tiba-tiba terdengar seruan, “Bersoraklah, sebab Tuhan telah meyerahkan kota ini kepadamu! Dan kota itu dengan segala isinya akan dikhususkan bagi Tuhan untuk dimusnahkan; hanya Rahab, perempuan sundal itu, akan tetap hidup, ia dengan semua orang yang bersama-sama dengan dia dalam rumah itu, karena ia telah menyembunyikan orang suruhan yang kita suruh. Tetapi kamu ini, jagalah dirimu terhadap barang-barang yang dikhususkan untuk dimusnahkan, supaya jangan kamu mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu setelah mengkhususkannya dan dengan demikian membawa kemusanahan atas perkemahan orang Israel dan mencelakakannya. Segala emas dan perak serta barang- barang tembaga dan besi adalah kudus bagi Tuhan; semuanya itu akan dimasukan kedalam perbendahaaran Tuhan!” *Ada namaku disebut saat pemimpin barisan itu berseru; mereka mengingat perjanjian keselamatan itu!

Sambil meniup sangkakala, bersoraklah bangsa itu dengan nyaring, dan runtuhlah tembok kota Yerikho! Cepat-cepat mereka memanjat masuk kedalam kota, masing-masing langsung kedepan dan merebut kota dari pasukan dan penduduk Yerikho. Semua yang hidup ditumpas, baik manusia maupun hewan, tidak ada yang dikecualikan. Hanya aku dan seluruh kaum keluargaku, kami yang berdiam di rumahku ini, yang dibiarkan hidup. Pemimpin barisan Israel memerintahkan kepada kedua orang yang pernah singgah di rumahku, “Masuklah kedalam rumah perempuan sundal itu dan bawalah keluar perempuan itu dan semua orang yang bersama-sama dengan dia seperti yang telah kamu janjikan dengan bersumpah kepadanya.” *Lalu kedua orang muda yang pernah kuselamatkan itu masuk dan membawaku, ayah-ibuku serta saudara-saudaraku, dan semua orang yang bersama-sama denganku bahkan seluruh kaumnya, keluar. Mereka menunjukkan kepadaku tempat aman di luar perkemahan orang Israel. Kota Yerikho dan segala sesuatu yang ada di dalamnya dibakar dengan api; hanya emas perak dan barang-barang tembaga dan besi yang mereka taruh di dalam perbendaharaan rumah Tuhan.

Demikianlah aku, siperempuan sundal, bersama keluargaku serta semua orang yang bersama-sama denganku dibiarkan hidup. Disinilah sekarang kami hidup, di tengah-tengah orang Israel. Tidak pernah sedikitpun aku menyesali tindakanku saat itu. Aku percaya bahwa Tuhan Allah Israel telah menaruh benih iman itu di hatiku. Sebelumnya aku hanya mendengar bahwa Allah Israel adalah Allah yang melakukan banyak hal besar dan ajaib, tetapi ternyata aku sendiri bersama seluruh kaum keluargaku mengalaminya, meskipun kami bukan orang Israel. Betul, Dia adalah Allah yang hidup! Dia mengenalku dan menyelamatkanku. Selama ini orang-orang sekitarku di Yerikho mengenalku sebagai perempuan sundal yang rendah, tetapi Allah Israel yang besar itu memperhitungkan imanku sebagai kebenaran. Sekarang aku hidup dalam kemerdekaan yang sesungguhnya. Kisah hidup lamaku sebagai perempuan sundal telah ditutup dengan sebuah akhir, lalu kisah indah telah dimulai: bagaimana Allah menyelamatkanku lewat waktu dan cara-Nya yang ajaib. Jika kisahku ini tercatat dalam sejarah, ini adalah sebuah kisah nyata tentang kasih dan keadilan Allah. Iman membuat kita berkenan kepada Allah, iman membawa keselamatan roh dan kebenaran serta kekudusan bagi jiwa. Iman menghasilkan perbuatan baik. Saat kita mengalami kasih-Nya, keadilan-Nyapun menjaga kita!
*Monolog diambil dari Yosua 2:1-24; 6:1-27; Ibrani 11:30-31

REFLEKSI PRIBADI:
1. Bagaimanakah kondisi iman Anda saat ini?
2. Kapan terkahir Anda merenungkan firman Tuhan? Ayat apa yang sedang menjadi perenungan Anda secara khusus?
3. Seberapa jauh dan dalam Anda mengalami kebenaran firman itu secara nyata dalam kehidupan Anda sehari-hari?
4. Bacalah dan renungkan (kaitkan firman yang Anda baca dengan hidup Anda sendiri), lalu lakukan (alami kebenaran firman yang Anda renungkan) dan bagikan kemenangan iman Anda kepada teman dalam pemuridan atau komunitas Anda!

2019-09-27T12:44:23+07:00