//Aku? Menuai?

Aku? Menuai?

“Ah, siapa sih Tuhan itu? Aku bingung deh sama apa yang kamu dan orang-orang lain percayai soal Tuhan itu ada. Kalau Dia ada, pandemi kayak gini gak bakalan ada!”, kata Heny kepadaku.

 

Heny adalah tetanggaku, rumah kami letaknya persis berseberangan. Sejak kecil, kami sering bermainbersama. Kadang Heny datang ke rumahku untuk bermain, kadang kami juga bersepeda berkeliling kompleks pada sore hari, dan kami pun senang berbagi cerita atau keluh kesah sampai usia remaja ini. Sayang, sejak adanya pandemi, kami hanya bisa mengobrol di telepon, seperti yang kami lakukan sekarang ini. Untunglah, kami memang memiliki banyak kesamaan, sehingga obrolan di antara kami tak ada habisnya. Kami berdua sama-sama penggemar drakor alias drama Korea, suka bernyanyi, doyan makan kerupuk, cinta warna pink, dan banyak lagi lainnya. Hanya satu hal yang membedakan kami: aku percaya Tuhan Yesus, sedangkan Heny sama sekali tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Ini berarti, aku percaya dan berharap untuk hidup dalam kekekalan kelak bersama Tuhan Yesus di surga, aku hidup saat ini dalam kesadaran bahwa Tuhan Yesus itu mengasihiku dan menyertaiku selalu, sedangkan Heny tak mengalami adanya Tuhan di dalam hidupnya dan tak peduli apa yang akan terjadi setelah hidupnya di bumi berakhir.

 

Apa yang harus kulakukan dengan perbedaan ini? Haruskah persahabatan kami berakhir begitu saja setelah kehidupan kami di bumi selesai, karena perbedaan ini?

 

Pernahkah kamu berhadapan dengan situasi yang sama seperti ini? Mungkin “Heny” di dalam situasimu adalah teman baikmu, kerabat yang kamu sayangi, atau bahkan anggota keluargamu sendiri yang kamu cintai? Hmmm… Sepertinya diam saja bukanlah pilihan yang bijak, karena tentu kita ingin orang terkasih itu ada bersama-sama dengan kita di dalam kekekalan nanti, selain menikmati betapa nyatanya Tuhan itu selama hidup di bumi ini. Mereka tentu juga layak untuk menerima dan mengerti kebenaran sejati yang sudah kita miliki ini… Pertanyaannya, apa kita harus menunggu pendeta atau guru agama atau kakak pembina untuk menjelaskan kebenaran injil kepada orang-orang terkasih di sekitar kita? ‘Kan kita bukan pengkhotbah…

 

Ups! Di situlah kita salah berpikir, guys. Memberitakan injil itu bukan hanya tugas orang-orang yang berstatus pendeta atau semacamnya! Kita, aku dan kamu, juga punya hak, kemampuan, dan tanggung jawab yang sama!

 

Buktinya dan jaminannya jelas di dalam perkataan Yesus sendiri di Matius 28:18-20, “Yesus mendekati mereka dan berkata: ‘Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.'” Memberitakan injil adalah amanat, alias instruksi penting, langsung dari Tuhan Yesus sendiri kepada kita semua. Kita yang sudah menjadi orang percaya ini harus bergerak dan menjadikan semua bangsa murid Yesus. Artinya, kita sendirilah yangharus mulai melangkah untuk menjangkau orang-orang di luar sana yang belum mengenalTuhan. Bukan menunggu pendeta atau guru agama atau kakak pembina untuk melakukannya!

 

Kepada siapa kita harus memberitakan injil? Pastinya, kepada siapa saja yang belum percaya injil, yaitu mereka yang belum mengenal Tuhan Yesus. Ayat di kitab Matius tadi memang menyebut “semua bangsa”, tetapi bisa jadi dari orang-orang semua bangsa itu ada orang yang dekat dengan kita, seperti keluarga, saudara, atau teman baik. Relakah kita, siapkan kita, untuk memberitakan injil kepada mereka?

“Tapi aku takut… Aku belum siap… Aku belum pernah berkhotbah, dan aku gak berani berdoa atau melayani… Gimana caranya? Aku bingung…”  

“Nanti aku dikatain aneh atau sok suci, atau malah diketawain dan dijauhin… Nanti temen-temen gak mau main sama aku lagi…”

 

Well, semua ketakutan dan keraguan itu memang sering muncul di dalam pikiran kita. Pikiranku juga, waktu memikirkan Heny. Penghalang dari dalam diri kita sendiri (merasa tidak siap dan tidak mampu) maupun dari luar (merasa akan ditertawakan, dihina, dan dijauhi) ini membuat kita tak kunjung melangkah. Padahal, kita perlu melihat sisi lain dari urusan memberitakan injil ini:

  1. Yesus sendiri, Tuhan kita, menugaskan kita untuk memberitakan injil, sekaligus menjamin penyertaan-Nya kepada kita yang memberitakan injil. Ini artinya, kita punya tugas penting dan kita akan melakukannya bersama dengan Tuhan Yesus sendiri! Setiap hari dan setiap saat, Tuhan menyediakan diri-Nya untuk mendampingi kita, mengobrol dengan kita, mengajar kita, dan menolong kita, melalui Firman-Nya di Alkitab dan melalui Roh Kudus di hati kita. Nah, apakah pantas kalau kita masih tidak mau melakukannya? Justru, kita harus bangga dan dengan senang hati melakukannya!
  2. Masa hidup manusia terus berjalan, termasuk masa hidup kita dan orang-orang terkasih di sekeliling kita itu. Sekarang ini, kita semua sudah berada di akhir zaman, masa ketika banyak sekali kekacauan dan bencana dan guncangan kehidupan terjadi. Suatu saat nanti, dan kemungkinan besar hal ini tidak lama lagi, semuanya akan berakhir lalu manusia masuk ke dalam kekekalan berbekal iman percaya di hati masing-masing. Mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus, yang hidup di bumi bersama Tuhan Yesus, akan melanjutkan kehidupan kekal bersama Dia pula. Mereka yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus, yang tidak kenal Tuhan Yesus semasa hidup di bumi, akan menghabiskan kekekalan dalam penderitaan dan hukuman atas dosa-dosa mereka. Pikirkan posisi kita masing-masing dan posisi orang-orang terkasih di sekeliling kita. Sekali lagi, apakah pantas kalau kita masih tidak mau memberitakan injil? Justru, kita harus bangga dan dengan senang hati melakukannya!

 

Kita adalah anak-anak Allah yang telah ditebus dan diampuni tanpa syarat oleh Tuhan Yesus, yang sudah merasakan sendiri betapa dahsyat kasih-Nya bagi kita. Kita seharusnya penuh semangat dan berapi-api untuk membagikan kasih Tuhan itu kepada orang-orang yang belum pernah merasakannya. Kita seharusnya memiliki kerinduan supaya orang lain bisa merasakan kasih yang sejati dan pembenaran yanggratis itu, agar mereka pun bisa menikmatinya di dalam kekekalan nanti.

 

Ini adalah masa akhir zaman, dan kita sedang menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali untuk menjemput orang-orang yang percaya dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamatpribadinya agar tinggal bersama-sama dengan Bapa di surga. Tanda kedatangan Kristus yangpaling akhir adalah diselesaikannya Amanat Agung. Apa itu Amanat Agung? Amanat Agung adalah perintah Yesus untuk kita memberitakan injil ke semua bangsa dan menjadikan semua bangsa itu murid-Nya! Alkitab sudah menyatakan tanda ini. Sebelum Tuhan Yesus datang kembali ke bumi ini, injil Kerajaan Allah akan diberitakan dan menjadi kesaksian bagi semua bangsa. Inilah yang sering disebut “penuaian besar”: orang-orang banyak dari segala bangsa, setiap suku dan kelompok, menerima injil Kerajaan Allah dan menjadi orang-orang percaya kepada Tuhan Yesus! Matius 28:19 jelas menyatakan bahwa “semua bangsa” itu harus kita sasar dalam pemberitaan injil. Maksudnya, kita memberitakan injil kepada semua orang tanpa kecuali (setiap suku, etnis, atau kelompok yang belum terjangkau). Mulailah dari orang-orang di sekitar kita sendiri. Mereka sesungguhnya memerlukan kita, orang percaya, untuk memiliki hati yang penuh kasih bagi mereka. Merekalah jiwa-jiwa yang Tuhan kasihi dan Tuhan rindukan untuk datang kepada-Nya.

 

Kita, anak-anak Allah, adalah juga saksi Kristus dan Gereja. Kitalah yang akan menuai orang banyak ini sebelum kedatangan Tuhan Yesus kembali. Ingat, Tuhan Yesus sudah berpesan kepada kita di Markus 16:15-20, “Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.’ Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.” Kali berikutnya kamu (atau aku) merasa tak mampu memberitakan injil, ingatlah pesan ini. Ketika kita mau bergerak dan memberitakan Injil, ada Tuhan Yesus yangselalu menyertai kita. Dia tidak akan pernah membiarkan kita berjalan sendirian. Bahkan, Dia akan menyertai kita dengan segala kuasa-Nya yang ajaib! Memang, bisa saja orang yang kita jangkau itu malah menolak mentah-mentah atau menghindar, tetapi jangan marah atau berputus asa. Tetap doakan orang itu dan teruslah bergerak untuk menjangkau, karena untuk itulah kita telah dipanggil: menjadi penjala manusia! Roh Kudus akan bekerja di dalam hati orang itu untuk membuatnya mengerti dan pada akhirnya menerima kasih Allah.

 

Nah, setelah segala pembahasan ini, tunggu apa lagi? Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. Betapa banyaknya jiwa-jiwa yang sedang menanti untuk dijangkau dan dituai! Kasih Tuhan di dalam hati kita yang membuat kita bergerak memberitakan injil kepada mereka akan membuahkan sukacita yang besar; baik di dalam hati kita, hati orang yang telah menerima injil itu, bahkan juga hati Tuhan sendiri! Pengorbanan waktu, uang, tenaga, maupun perasaan kita masing-masing dihargai oleh Tuhan, dan bagi kita masing-masing tersedia upah yang besar dari Bapa di surga. Ayo, menuai!

2021-08-29T22:49:19+07:00