///Aku Tina, Woman of Faith!

Aku Tina, Woman of Faith!

“Saya kira kamu sudah terima?? You are sick, Tina!!”

Dua kalimat itu berhasil membuat mataku terbelalak. Dokter Sophia, yang sudah beberapa tahun ini menanganiku, kembali mengingatkan dengan tegas tentang penyakit yang kuidap. Ia menyatakan bahwa penyakit ini tidak bisa disembuhkan.

You are sick! Berkali-kali dan berhari-hari kalimat itu terus mendengung di telingaku. “Tuhan, aku nggak bisa lihat apa-apa….”, aku menangis terisak-isak. Saat itulah aku merasakan bagaimana menjadi orang yang kehilangan visi. Semua mimpi dan janji Tuhan bak hilang ditelan bumi. Jarak pandangku dalam kehidupan menjadi sangat pendek. Pendek sekali! Aku tak punya punya masa depan, pikirku saat itu.

Di dalam lembah kekelaman ini, entah sudah berapa banyak air mata yang jatuh. Sejujurnya, sampai saat ini aku pun masih belum tahu apa yang menjadi rencana Tuhan. Namun yang pasti, aku akan melihat kemuliaan-Nya. Itu betul-betul menjadi imanku!

Pada suatu malam, aku membaca kitab Ibrani. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Waktu membuka perikop itu, hati rasanya melonjak bahagia menemukan deretan kisah-kisah iman dari tokoh-tokoh hebat yang disebutkan di sana. Aku menikmati sekali. Tangki iman dan pengharapanku seperti terisi penuh kembali… sampai ketika aku berhenti di satu ayat:

“Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.” (Ibr. 11:39)

 

“Maksudnya apa Tuhan?” aku mengomel pelan, “Aku nggak ‘ngerti ayat ini!” Kutarik selimut dengan hati yang kesal, tanpa menutup lagi malam itu dengan doa.

Keesokan harinyalah baru Roh Kudus menjawab pertanyaanku malam itu, dengan sangat lembut, bahwa Dia mengajarku menjadi perempuan yang beriman. Apa itu iman? Iman bukan berbicara tentang apa yang didapat untuk diri kita. Iman yang bekerja pada Habel, Henokh, Abraham, Sara, dan tokoh-tokoh pahlawan iman lainnya mempunyai tujuan yang lebih tinggi dan mulia daripada keuntungan atau “berkat” untuk diri mereka sendiri; melampaui segala keinginan, doa, atau pengharapan mereka kepada Tuhan. Iman tidak terbatas pada hal-hal yang kelihatan dan fana. Ketika aku beriman, tujuanku adalah Tuhan. Tuhan ingin aku beriman, karena Tuhan ingin hatiku berubah. Lagipula, Tuhan memang mencari hati yang menyembah! J

Sekarang, aku tidak lagi terpuruk oleh kata-kata dokter yang bagaikan vonis kejam itu. Entah penyakitku akan hilang atau tidak, aku tahu pasti bahwa Tuhan bekerja dalam imanku dan menjadikanku lebih indah dalam pandangan-Nya. Itulah yang paling penting dan berharga. Dengan lantang dan yakin, kini aku dapat berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” (Mzm. 139:14).

2019-09-27T12:44:48+07:00