//Ala Kadarnya VS Bijak dan Benar

Ala Kadarnya VS Bijak dan Benar

Seorang pemuda yang berasal dari suatu desa di pedalaman sebuah pulau, tinggal bersama dengan keluarganya yang bekerja sehari-hari sebagai petani. Petani di pulau ini memiliki kebiasaan hidup yang unik, yaitu tinggal tidak menetap di satu tempat tertentu, melainkan berpindah-pindah dari hutan ke hutan. Biasanya, menjelang musim hujan antara bulan Oktober hingga April, para petani ini membuka ladang-ladang baru di dalam hutan. Petani yang ladangnya sudah siap ditaburi benih, akan berangkat pada pagi hari untuk menanam benih berupa jagung, padi dan berbagai jenis tanaman palawija lainnya. Setelah itu, mereka mencari lokasi tanah yang datar di area ladang tersebut untuk membangun sebuah rumah untuk tinggal, bahkan mereka bisa tinggal di sana cukup lama, sampai tanah ladangnya tidak membuahkan hasil lagi.

Untuk membangun rumah tempat tinggal, mereka menebang pohon-pohon yang tidak terlalu besar, yang lurus batangnya, untuk dijadikan tiang. Setelah menemukan batang-batang pohon yang lurus tersebut, mereka menancapkan empat batang pohon yang lurus sesukanya, sebagai tiang penunjang rumah sesuai ukuran rumah yang mereka perkirakan untuk menampung sekian jumlah orang yang dibutuhkan. Hebatnya, hanya dalam waktu tiga atau empat hari rumah tersebut sudah siap untuk dihuni. Dengan waktu pembuatan yang begitu singkat, dapat dibayangkan bagaimana kondisi rumah itu. Selama belum terjadi hujan lebat atau ada angin yang bertiup kencang, rumah itu memang sepertinya aman untuk mereka tempati. Namun, bila terjadi hujan lebat disertai angin kencang, maka rumah tersebut akan roboh seketika menjadi rata dengan tanah, karena memang tidak ada pondasi dan dinding yang kuat pada rumah tersebut. Ketika rumah yang mereka buat roboh, mereka biasanya akan membangun kembali tempat tinggal mereka dari proses awal yang sama (dan “siap” menghadapi risiko yang sama bila terjadi hujan dan angin kencang lagi).

Suatu hari si pemuda di awal kisah tadi diajak oleh pamannya mengunjungi ibukota. Setibanya di ibukota, ia melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi dan begitu kokoh, yang membuatnya terkagum-kagum sekaligus terheran-heran. Ia pun bertanya, “Paman, mengapa banyak gedung-gedung tinggi di Jakarta, apakah tidak takut roboh kalau ada hujan dan angin yang besar?” Pamannya tersenyum dan menjawab, “Cara membangun gedung atau bangunan di kota berbeda dengan kebiasaan yang dilakukan oleh penduduk di desa kita…” Sang Paman kemudian meneruskan penjelasannya bahwa sebelum gedung atau rumah dibangun, ada arsitek yang harus membuat rancangan gedung atau rumah itu sesuai kebutuhan dan agar gedung atau rumah itu kuat dan tahan lama, nyaman untuk dihuni serta memberikan kepuasan bagi pemilik. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun, berapa dalam tanah yang harus digali untuk pondasi gedung atau rumah, apa saja dan berapa komposisi material untuk proses pembangunan tersebut, semua harus diperhitungkan dengan matang dan teliti. Gedung atau rumah yang telah selesai dibangun itu dapat digunakan dan dihuni tanpa rasa takut akan roboh jika hujan lebat atau angin kencang. Pemuda itu pun paham. Perbedaannya sungguh mencolok. Proses membangun rumah di desanya yang instan, ala kadarnya serta asal bisa dihuni saja, menghasilkan bangunan rumah yang seketika akan roboh saat menghadapi guncangan dari hujan dan angin kencang. Proses membangun gedung dengan penuh persiapan yang bijak dan matang serta sesuai kehendak pemiliknya, menghasilkan bangunan yang nyaman sekaligus aman.

Benarlah kata Salomo, “Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak,” (Ams. 12:15). Tuhan telah menaruh visi bagi kita untuk menjadi Rumah Tuhan sebagai pusat solusi bagi bangsa-bangsa. Pertanyaannya adalah, jenis rumah apakah yang sedang kita bangun? Rumah yang dua atau tiga bulan sudah roboh atau rumah yang berdiri kokoh walau badai datang menerjang?

Rumah Tuhan perlu dibangun dengan perencanaan yang matang dan bijak, pondasi yang kuat, batu-batu yang tersusun rapi, dengan material berkualitas unggul dan komposisi yang tepat. Bagaimana dengan komunitas kita? Buat perencanaan yang matang dan teliti tentang apa yang akan kita lakukan dalam komunitas dalam hal menjadi rumah Tuhan. Bangun kualitas hidup diri kita masing-masing sebagai batu-batu penyusun rumahNya itu. Saling melayanilah dan saling menopang dengan karunia masing-masing dalam komunitas, sebagai material yang saling melekat dengan komposisi yang tepat. Komunitas yang kuat dan kokoh seperti inilah yang akan menjadi rumah Tuhan yang akan berdiri tegak dan menjulang tinggi. Dan sebagai dampaknya, banyak orang, bahkan segala bangsa, akan berduyun-duyun datang mencari Tuhan dalam rumahNya.

2019-10-17T17:09:34+07:00