All In

Sekarang ini kita makin sering mendengar berita tentang remaja yang kecanduan judi online, atau pemuda yang terlilit utang pinjaman online (pinjol), atau mahasiswa yang depresi berat karena kehilangan uangnya di pasar kripto. Tidak sedikit memang, orang yang ingin kaya dengan cara cepat, sehingga kondisi keuangannya justru jadi hancur berantakan. Pemuasan keinginan yang instan (instant gratification) memang berbahaya.

 

Sebenarnya, pemuasan instan bukanlah hal yang baru. Dalam sejarah Alkitab pun, sekitar empat ribu tahun lalu ada kisah tentang pemuda yang jatuh ke dalam perangkap pemuasan instan. Namanya Esau. Dia kehilangan hak sulungnya hanya karena ingin menikmati semangkuk kacang merah saat itu juga (Ibr. 12:16). Benar, kejadiannya melibatkan tipuan oleh adiknya, Yakub, tetapi Esau sama saja dengan mereka yang pada masa kini ditipu oleh algoritma judi atau bisnis abal-abal online. Mereka berpikir semuanya hanya masalah probabilitas, sehingga mereka berani all in menggelontorkan dana, tanpa sadar bahwa semua sistem diatur oleh bandar dan pihak yang pada akhirnya akan kalah tentu bukanlah si bandar. Esau merasa “menang” ketika mendapatkan makanan dari Yakub saat itu juga, setelah lelah berburu di ladang. Para penjudi online juga merasakan kemenangan di awal, ketika jumlah uang mereka menjadi berlipat ganda dengan cepat. Mereka pikir kemenangan tersebut datang karena mereka beruntung, padahal mereka sebenarnya sengaja diizinkan menang agar menaruh uang lebih banyak. Mereka terjebak tanpa menyadari konsekuensinya.

 

All in adalah istilah yang biasa dipakai di dalam permainan judi kartu poker, yang berarti ketika seseorang yakin akan menang dan mempertaruhkan semua uang yang dia punya, sehingga jika menang dia akan mendapatkan lebih banyak uang, tetapi jika kalah dia akan kehilangan segalanya. Esau sungguh all in. Dia mempertaruhkan hak sulungnya, yaitu hak untuk memimpin dan hak mendapatkan warisan berkat yang berlipat ganda dari ayahnya (Ul. 21:17). Esau telah memutuskan untuk all in, bukan karena ingin mendapat lebih banyak, karena dia tidak menyadari betapa berharganya hak kesulungannya tersebut. Jutaan, miliaran, tak terhitung melebihi nilai semangkuk kacang merah masakan Yakub yang disantap sepulang berburu.

 

Seperti Esau, mungkin kita tidak sadar telah menukarkan hal yang sangat berharga demi pemuasan keinginan tertentu secara instan. Kita terjerat. Kita terus-menerus menghabiskan uang untuk berjalan-jalan, berbelanja barang-barang trendi dan mewah, bersantap di restoran mahal, semuanya atas nama “healing. Kita mengorbankan kesehatan demi konsumsi minuman dengan kadar gula tinggi, hanya demi “self-reward”. Kita mengorbankan hubungan dengan keluarga yang kita punya sejak lahir demi menyenangkan teman yang baru kita kenal di sekolah. Begitu banyak tindakan impulsif lainnya kita lakukan dengan fokus pada kepuasaan instan tanpa memperhitungkan konsekuensi jangka panjangnya, sampai akhirnya kita berhadapan dengan kerugian finansial, kecanduan, kehilangan prioritas, kerusakan hubungan, dan berbagai-bagai duka lainnya. Ironis, karena bukannya “healing” atau “self-reward” yang kita dapatkan, justru kesehatan fisik maupun mental dan emosional kita berantakan.

 

Jelas, pemuasan instan tidak bisa diremehkan, karena dampaknya serius. Lalu, bagaimana caranya melawan hasrat untuk memuaskan keinginan secara instan? Yang pasti, jangan sok kuat dengan terus berinteraksi dengan sumber godaannya. Justru, kita perlu lari dari godaan itu. Alihkan saja pikiran kita dan lari, seperti Yusuf lari dari godaan pemuasan instan yang ditawarkan oleh istri Pontifar (Kej. 39:11-22). Memang lari lebih sulit ketika hal tersebut sudah menjadi kebiasaan, karena dibutuhkan disiplin untuk kita berlatih membangun kebiasaan yang baru. Disiplin adalah lawan pemuasan instan, karena disiplin adalah melakukan yang mungkin tidak enak dan tidak nyaman saat ini dan setiap saat demi dampak yang baik dalam jangka panjang. Disiplin bukanlah hukuman; Tuhan mendisiplin kita karena Dia mengasihi kita (Ams. 3:11-12).

 

Disiplin dalam mengubah kebiasaan yang buruk juga memerlukan sikap berani all in atau sepenuh hati. Sama seperti keputusan untuk menikmati pemuasan instan.  Sean Covey menulis dalam bukunya, “Ambillah kebiasaan, latihlah kebiasaan, tegaslah terhadap kebiasaan, maka kebiasaan akan meletakkan dunia di kakimu. Kendorlah terhadap kebiasaan, maka kebiasaan akan menghancurkanmu.” Apa itu kebiasaan? Kebiasaan adalah hal-hal yang kita lakukan berulang-ulang. Jika kita berulang kali boros, kita harus berusaha keras berlatih agar dapat mengendalikan diri dalam hal pengeluaran, terus-menerus. Kita tidak bisa hanya satu kali menonton video tentang jurus jitu mengatur keuangan di Youtube, lalu berharap kita langsung berhenti boros. Membangun kebiasaan baik butuh latihan keras, yang tidak boleh dikendorkan dengan kembali lagi menikmati kebiasaan yang buruk “sekali ini saja”, karena pada akhirnya “kebiasaan kita akan membentuk karakter kita, dan karakter kita akan membentuk takdir kita” (Samuel Smiles). Jika kita boros, ubah cara pikir kita bahwa kita tidak akan bisa dipuaskan dengan uang. Kemudian, latih diri untuk mencatat pengeluaran kita setiap hari, menghindar agar tidak membeli barang yang tidak kita butuhkan, lari dari peluang-peluang jajan di luar dan memilih untuk makan di rumah, dan lain sebagainya sesuai area-area rawan kita masing-masing.

 

Setiap proses latihan yang baik tentu membutuhkan pelatih agar efektif. Demikian juga, dalam membangun kebiasaan baik yang membentuk karakter, kita butuh hidup dalam pemuridan yang berpusat kepada Kristus. Pemuridan adalah sarana paling efektif untuk kita bisa ditolong dan menolong orang lain membangun kebiasaan yang baik. Kita saling melatih dengan efektif, dengan Kristus sebagai pusatnya. Mengapa kita harus berpusat kepada Kristus? Karena pemuasan instan adalah buah dari pusat pada keinginan diri sendiri (ego), seperti Esau yang hanya berfokus dengan perutnya sendiri yang lapar dan nafsunya untuk makan setelah berburu. Dia jatuh ke dalam perangkap semangkuk makanan di depan matanya, sesuatu yang nyata dan sesuatu yang jelas dapat memuaskan dia secara langsung saat itu, maka dia tak peduli dengan hak kesulungan yang indahnya dan berkatnya belum bisa dia rasakan. Dia tidak melihat dengan imannya ke depan, tetapi melihat godaan kepuasan yang langsung saja. Demikianlah kita pun butuh iman kepada Kritus, agar kita tidak jatuh dengan pemuasaan yang di depan mata. Jagalah fokus kita agar tetap pada reward terutama kita dari Tuhan sendiri (Yak. 1:12), dan putuskan untuk all in mengejar reward sejati itu. Pada akhirnya, kita bersama-sama melalui komunitas pemuridan harus all in kepada Kristus, menerima Kristus dan belajar dari Kristus, supaya kita selalu dibaharui di dalam roh dan pikiran kita (Ef. 4:21-23).

2024-04-26T11:13:15+07:00