Aku memiliki seorang sahabat, namanya Juliet. Banyak orang yang bertanya mengapa kami bisa bersahabat, karena kami memiliki latar belakang yang cukup berbeda. Kehidupanku biasa saja, aku berasal dari keluarga yang berkecukupan tetapi bukan kaya raya, prestasi akademisku juga, yah… standar saja. Di sisi lain, sahabat baikku, Juliet, wow! Segala yang ada pada dirinya dan kehidupannya luar biasa! Aku pun sebenarnya sering merasa heran mengapa kami bisa berteman baik… Juliet berasal dari keluarga kaya raya. Sejak kecil, semua yang dia inginkan pasti terpenuhi. Aku? Boro-boro… mau meminta-minta sampai menangis keras pun gak akan dikasih kalau tidak sesuai dengan pertimbangan orang tuaku. Lalu, setelah makin dewasa, ternyata meski dimanja Juliet tidak bergantung pada apa yang dimiliki orang tuanya. Dia bekerja keras untuk membuktikan kepada semua orang, bahwa dia mampu dan sempurna. Berbagai lomba akademik maupun non-akademik telah dia juarai. Kalau berkunjung kerumahnya, kita akan melihat sebuah rak besar empat tingkat yang penuh dengan piala, piagam, sertifikat, dan semua bukti prestasinya. Benar-benar anak yang pantas dikagumi! Apalagi, Juliet juga merupakan anak yang amat sangat baik, taat, dan rajin terlibat dalam pelayanan di gereja. Kalau harus menggambarkan sosok Juliet dalam satu kata, tentunya kata yang akan terlintas dalam benak semua orang adalah “sempurna”!
Itulah yang memang dikejar Juliet: kesempurnaan. Sampai suatu hari, Juliet bercerita kepadaku,
“Eh, kamu tahu gak, sih? Kemarin ini aku kan pergi nongkrong di kafe, biasalah… mau belajar buat olimpiade. Terus, aku denger obrolan orang di sebelah, mereka lagi bahas cerita Alkitab itu, orang muda yang kaya… Saking serunya dengerin, aku sampai gak fokus belajar. Soalnya setelah kupikir-pikir, kok aku mirip orang muda di cerita itu, ya… Aku tuh selama ini ngerasa sudah achieve semuanya, sudah taat sama perintah Tuhan juga, banyak orang bilang aku sempurna juga, tapi kayaknya masih ada yang kurang… Ternyata aku gak sadar udah mengikatkan hatiku ke semua prestasi dan kebanggaanku. Aku menganggap semua itu lebih penting daripada semua hal lain. Ternyata aku salah…”
Nah guys, kisah di Alkitab yang mirip dengan kehidupan Juliet tersebut tertulis dalam Matius 19:16-22.
Dalam kisah itu, datanglah seorang muda kepada Yesus untuk bertanya apa yang harus dia perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal. Yesus menjawab, yaitu dengan menuruti segala perintah Allah. Perintah itu ternyata telah dia hafal: jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, menghormati ayah dan ibu, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Kerennya pula, anak muda tersebut berkata bahwa dia telah melakukan semuanya itu! Namun, dia masih bertanya kepada Yesus, “Apa lagi yang masih kurang?” Yesus mengetahui isi hatinya dan berkata, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan Yesus, anak muda itu langsung pergi dengan sedih, karena hartanya banyak. Ternyata dia tidak rela melepaskan segala miliknya yang dianggapnya berharga.
Mari kita perhatikan… Apakah segala ketaatan yang dilakukan anak muda tersebut sudah cukup untuk memperoleh hidup kekal? Ternyata belum! Anak muda itu rupanya masih mengikatkan hatinya pada perkara duniawi, yaitu harta yang tidak kekal. Dia tidak siap mengikut Yesus sepenuhnya karena tidak rela menyangkal diri dan melepaskan dunia demi menjadi murid Yesus. Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita masih sama dengan anak muda tersebut? Masihkah kita mengikatkan diri pada kedagingan, pada hal-hal yang kita anggap lebih berharga daripada mengikut Yesus?
Kisah di Matius 19:16-22 mengajar kita tiga hal untuk menjadi murid yang Yesus ingini. Pertama, pengorbanan. Sama seperti Tuhan Yesus yang sudah berkorban untuk menyelamatkan setiap orang berdosa, kita juga perlu mengorbankan apa yang kita miliki untuk melakukan kehendak Tuhan. Kadang, kehendak Tuhan bagi kita adalah kita memberikan apa yang kita punya (uang, kasih, tenaga, waktu, dll) untuk menolong sesama dan menuai jiwa. Relakah kita? Kedua, melepaskan ikatan dengan dunia. Dahulu kita adalah hamba dosa yang dikuasai oleh keinginan daging. Namun setelah kita menerima keselamatan, Yesus memanggil kita untuk mengikut Dia. Artinya, kita harus meninggalkan kedagingan dan cara hidup lama, dan berjalan menuju kesempurnaan Kristus. Relakah kita? Ketiga, ketaatan karena kasih. Perintah Yesus untuk anak muda itu menjual segala hartanya lalu membagi-bagikan hasilnya kepada orang miskin sebenarnya untuk menguji ketaatannya. Kita hanya bisa taat saat kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Sekarang kita tahu bahwa untuk mengikut Yesus, kita harus benar-benar melepaskan dan tidak terikat pada dunia lagi.
Kolose 2:6-7 berkata, “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” Saat kita menerima Yesus Kristus, Roh Kudus tinggal di dalam diri kita sampai selamanya. Artinya, hidup kita harus terus dibangun di dalam Dia. Selama masih hidup di dunia, kita harus terus berproses untuk mencapai kesempurnaan Kristus. Kita baru akan sempurna saat menyelesaikan tugas di dunia ini dan kembali kepada Bapa di surga. Proses untuk menjadi serupa Kristus itu sendiri bukan hal yang mudah. Sekali lagi, kita harus menyangkal kedagingan dan memikul salib, setiap saat.
Nah, karena proses itu tidak mudah, kita tidak dapat berjalan dan berusaha sendiri. Kita butuh orang lain yang dapat menolong kita. Maka dari itu, penting sekali untuk memiliki komunitas rohani dan bertumbuh dalam pemuridan! Tujuan pemuridan itu sendiri adalah menjadi serupa Kristus (bukan serupa pemurid kita). Pemuridan merupakan salah satu cara paling efektif untuk dapat bertumbuh dan berproses bersama di dalam kebenaran Tuhan. Yesus sendiri telah memberi teladan yang sempurna dalam pemuridan, dengan Dia memuridkan orang-orang luar biasa yang mau memberikan hidup untuk melayani Bapa. Dalam pemuridan, kita pun bisa mempraktikkan saling mengasihi, saling menolong, saling mendoakan, dan saling mendukung. Dengan demikian, kita tetap berada di track yang benar menuju kesempurnaan Kristus dengan saling menolong dan mengarahkan pada jalan kebenaran. Proses ini menjadikan kita semua, masing-masing, senantiasa bertumbuh dalam Tuhan.
Bagaimana? Apakah kamu sudah siap berproses untuk menjadi sempurna seperti Kristus? 😉
“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” – Matius 5:48