//Anak kecil yang membagi makan siangnya

Anak kecil yang membagi makan siangnya

Tas kecil di pundak saya adalah bekal dari Ibu untuk perjalanan saya hari itu. Saya ingat betul, Ibu sebenarnya sedikit khawatir dan tidak mengijinkan saya untuk pergi bersama seorang teman saya dan keluarganya, karena takut saya hilang dalam rombongan. Tokoh yang dipuja banyak orang itu sedang datang ke desa kami, dan saya yang saat itu masih bocah ingusan tak mau ketinggalan untuk bertemu. Untungnya Ibu mengijinkan juga, setelah saya merengek dan memohon.

Ibarat memasuki sebuah petualangan, rasa bahagia dan penasaran bercampur jadi satu. Pikiran saya melayang-layang. Seperti apakah Ia nanti? Apakah Ia akan ramah kepada anak-anak? Atau malah galak? Segala pertanyaan ada di kepala saya. Begitu antusiasnya saya sampai-sampai tidak merasa lelah sedikitpun dalam perjalanan. Ketika menginjakkan kaki di hamparan rumput hijau siang itu, betapa kagetnya saya melihat lautan manusia yang tak terkira banyaknya. Tubuh kecil ini kemudian menembus kerumunan orang dengan lincah. Saya ingin ada di depan sana. Ia ada di ujung depan sana!

Dengan bersusah payah, menggeliat di antara manusia-manusia yang sama tergila-gilanya dengan saya, akhirnya saya berhasil juga sampai di depan. Ia kini persis berada di hadapan saya, sedang bercerita soal Kerajaan Allah. Saya yang masih kecil memang tak paham kata demi kata, tapi saya dapat mengerti maksud di dalamnya. Semua orang begitu tenang memperhatikan pengajaran demi pengajaran. Orang itu kemudian menumpangkan tangan atas orang yang sakit dan menjadi sembuh. Mujizat terjadi di sana-sini. Hari itulah baru saya tahu bahwa Ia bernama Yesus, dan Dia orang Nazaret.

Langit perlahan berubah menjadi gelap, namun kerumunan orang tak kunjung berkurang. Saya melihat ke sekeliling dan kemudian menoleh pada sumber percakapan yang sedang terjadi di dekat saya.

“Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka pergi ke desa-desa dan kampong-kampung sekitar sini untuk mencari tempat penginapan dan makanan, karena di sini kita berada di tempat yang sunyi”, rupanya kedua belas muridNya meminta agar kami semua ini disuruh pulang.

“Kamu harus memberi mereka makan!”, saya tak menyangka jawaban ini yang diberikanNya.

Bertambahlah rasa kagum saya kepada sosok Yesus yang baik itu. Dengan sigap, saya kemudian merogoh isi tas saya. Ada kotak makanan yang tadi disiapkan Ibu untuk makan siang saya. Kepala saya menengadah ke atas, hendak memanggil murid Yesus yang berbadan tinggi yang berdiri paling dekat dengan saya. Baru saja mulut saya terbuka, tapi tertahan kemudian oleh sekelebat pikiran yang datang tiba-tiba,

“Apa yang kau harapkan dari lima roti dan dua ikan itu? Ini sama sekali tidak bisa menolong! Lihat baik-baik isi kotak itu! Ini pikiran bodoh! Bekal sekotak kecil ini hanya bisa mengenyangkan perut kecilmu sendiri! Lihat sekelilingmu, orang-orang ini jumlahnya ribuan! Tidak mungkin! Mau apa kau? Mempermalukan diri sendiri atau sok hebat??”

Saya masukkan kembali kotak makanan itu. Kepala saya menunduk malu, dan sedih. Semangat saya pudar seketika. Entah bagaimana, mata saya sesaat bertemu dengan kedua mata Yesus. Ada sentuhan kebaikan yang kemudian memenuhi seluruh hati saya. Tidak pernah saya mengalami perasaan macam ini. Hati saya yang polos itu begitu tersentuh. Dari mataNya terpancar kasih dan ketulusan. Segala pikiran pesimis yang tadi muncul pun lenyap. Saya beranjak menuju salah seorang muridNya dan mengulurkan kotak makanan yang saya punya. Mungkin terlihat bodoh, namun syukurlah, pemberian saya diambil juga. Hati ini berdebar-debar melihat kotak makan saya dibawa kepada Yesus.

“Yang ada pada kami tidak lebih dari pada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini”.

Mereka yang bersama Yesus itu kelihatan agak kesal. Entahlah, mungkin saya yang salah sangka. Berbeda dengan isi hati saya saat itu, begitu bahagia saat melihat Yesus menerima kotak makan saya. Apa kira-kira yang akan dikatakanNya ketika kotak makanan itu dibuka? Perasaan saya berkecamuk.  Di situ ada kira-kira lima ribu orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak. Pikiran saya melayang, membayangkan apa yang nanti akan terjadi, namun buyar seketika oleh sebuah suara.

“Suruhlah mereka duduk berkelompok-kelompok, kira-kira lima puluh orang sekelompok”, kata Yesus kepada murid-muridNya.

Wah, apa yang kira-kira akan dilakukanNya? Saya tambah penasaran. Murid-muridNya melakukan perintah itu dan menyuruh semua orang banyak itu duduk. Kotak makanan saya kini dibukaNya, dan jantung saya berdebar kencang. Ia mengambil kelima roti dan kedua ikan itu, lalu menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak.

Satu demi satu, kelompok demi kelompok kemudian mendapatkan makanan itu. Tidak habis-habis. Roti dan ikan terus dibagi-bagikan. Mulut saya ternganga, saya sudah seperti patung, menyaksikan mujizat yang terjadi dari kotak makan pemberian saya tadi. Roti dan ikan itu tidak berhenti keluar, sampai semuanya mendapat bagian.

Bukan itu saja, kami semua di sana bahkan makan sampai kenyang. Mujizat orang yang buta melihat, tuli mendengar, lumpuh berjalan, saya sudah menyaksikannya. Namun mujizat dari roti dan ikan milik saya, ini luar biasa! Anehnya lagi, potongan-potongan roti kemudian dikumpulkan dan tersisa sebanyak dua belas bakul.

Tidak pernah muncul dalam pikiran saya bagaimana Tuhan akan memakai pemberian yang sempat saya anggap tak berarti itu. Tuhan memakai saya, seorang bocah ingusan, untuk memberi makan lima ribu orang lebih. Ini adalah sebuah kehormatan besar! Hari itu saya bukan saja menyerahkan lima roti dan dua ikan milik saya, namun saya juga menyerahkan seluruh hidup saya kepadaNya. Tidak ada yang terlalu kecil yang tidak sanggup Ia multiplikasikan bagi orang-orang di sekeliling saya. Hari itu, saya belajar, bahwa hidup yang berdampak sesungguhnya dimulai dari hal-hal sederhana yang kita miliki. Bukan dimulai dari “nanti”, tetapi “saat ini” yang ada di tangan kita.

*Perceritaan ulang dengan penafsiran bebas, berdasarkan isi Lukas 9

2019-10-17T14:29:30+07:00