///Anak Mami (bag. 1)

Anak Mami (bag. 1)

Jika Anda masih berada di level 1, level “ke-anakmami-an” Anda masih bersifat positif dan tidak berdampak buruk untuk relasi Anda dengan orang lain. Bahkan, kedekatan dengan ibu di level ini bisa membuat Anda lebih peka, membangun relasi yang positif dengan ibu maupun orang lain, secara dewasa dan mandiri. Namun, bagi Anda yang lebih banyak berada di level 2 apalagi di level 3, Anda harus mulai introspeksi diri karena kedekatan Anda dengan ibu ini cenderung mengarah ke negatif. Hubungan Anda dengan ibu pada level ini menunjukkan Anda belum cukup mandiri dan dewasa dan bahkan dapat dikatakan kurang sehat.

Mengapa menjadi “anak mami” itu tidak sehat?
Berdasarkan teori psikologi perkembangan, manusia memiliki fase-fase atau “tugas” perkembangan yang harus dilalui/diselesaikan di dalam perjalanan hidupnya, sesuai dengan usianya. Tugas perkembangan remaja antara lain berpindah dari dependen menjadi independen dari orangtuanya, tugas perkembangan dewasa muda antara lain adalah menikah. Jika usia fisik tidak sesuai dengan fase perkembangan psikologis, misalnya orang yang sudah dewasa masih belum menyelesaikan tugas masa remajanya untuk belajar mandiri dari orangtua, maka dapat dikatakan bahwa perkembangannya mandek. Inilah yang dikatakan tidak sehat. Kegagalan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan pada fase tertentu akan menghambat pelaksanaan tugas-tugas perkembangan pada fase berikutnya. Salah satu aspek untuk menilai hubungan ibu dan anak adalah masalah kelekatan atau attachment. Kelekatan atau attachment di sini maksudnya adalah ikatan khusus yang berkembang antara bayi dan ibu atau pengasuhnya. Hal ini penting untuk memberikan rasa aman dan anak belajar dari ibunya. Namun sejalan dengan perkembangan anak, maka kelekatan secara fisik tidak lagi dominan dalam hubungan ibu-anak, karena anak semakin lama harus semakin mandiri untuk bisa menjadi orang dewasa. Sayangnya bila kedekatan dan pola asuh yang terbentuk salah, anak terus-menerus membutuhkan kedekatan fisik bahkan emosional dengan ibunya, dan ini tidak sehat untuk kondisi kejiwaan anak itu sendiri, karena anak (yang sudah bukan berusia anak-anak lagi) tidak akan pernah mandiri untuk menangani hidupnya sendiri.

Pola asuh dan kepribadian ibu
Terbentuknya sifat “anak mami” bisa dirunut jauh ke belakang, yaitu dari pola asuh orang tua atau pengasuhnya pada masa kecil. Pola asuh yang salah dari orang tua bisa menumbuhkan sifat “anak mami” pada seorang anak. Ibu yang suka memanjakan anak sejak usia belia, menuruti apa saja kemauan anak bahkan sampai anak dewasa, membuat anak terbiasa hidup mudah dan nyaman oleh “jasa” dan “pertolongan” sang ibu, sehingga ia tidak pernah terlatih untuk berusaha dan untuk hidup mandiri. Ia menjadi selalu bergantung pada ibunya. Pada akhirnya setelah menginjak usia dewasa dan (terpaksa) harus mandiri, anak tidak mampu dan selalu kembali meminta bantuan ibunya. Selain itu, ibu yang selalu mengatur dan mengontrol berlebihan terhadap kehidupan anaknya, menuntut anaknya menuruti kemauannya, akan menyebabkan anak setelah dewasa sulit menolak keinginan ibunya dan menjadi anak yang tidak percaya diri. Ibu yang terbiasa mendikte keputusan yang diambil anak menyebabkan anak sulit mengambil keputusan sendiri. Selain pola asuh, faktor kepribadian ibu sendiri dapat membuat anak menjadi “anak mami” hingga usia dewasa. Ibu yang tidak dewasa cenderung menginginkan agar anaknya selalu tergantung kepadanya, agar ia selalu merasa dibutuhkan, dianggap paling penting dan agar anak tidak meninggalkannya walaupun sudah dewasa. Semua ini akan berdampak sangat negatif pada kehidupan anak yang telah dewasa, termasuk dalam seluruh aspek yang normal dalam kehidupan setiap orang dewasa, misalnya bekerja, menikah dan berkeluarga, dll. Di edisi berikutnya, kita akan membahas lebih lanjut mengenai fenomena “anak mami” yang mulai ingin menikah. (H)

2014-08-28T03:17:56+07:00