///Anak milik kesayangan Tuhan

Anak milik kesayangan Tuhan

Namun, kita perlu memahami bahwa Allah menciptakan setiap anak unik. Tidak ada satu anak pun sama persis, sekalipun mereka terlahir kembar. Karena itu, kita sebagai orang tua perlu mengenali setiap anak yang ada di dalam keluarga kita. Cara yang paling benar untuk memahami mereka adalah bertanya kepada Penciptanya tentang apa yang Ia inginkan secara spesifik untuk anak tersebut. Inilah yang disebut mendidik menurut jalan Tuhan, yaitu kita datang pada Tuhan, memiliki hubungan pribadi denganNya, menerima arahanNya, dan meletakkan rencanaNya bagi anak tersebut di atas keinginan kita sendiri. Bukan itu saja, sebagai orang tua, kita adalah wakil Allah di dunia ini untuk memperkenalkan mereka pada Pemilik mereka yang sesungguhnya.

 

Memperkenalkan Kristus kepada Anak

Kita harus memperkenalkan Kristus, menceritakan siapa Dia, dan menjadikan Tuhan sebagai pusat dalam keluarga kita, sehingga anak-anak menjadi akrab akan kehadiran Tuhan di dalam hidup mereka hingga mereka tiba pada saat mereka berjumpa sendiri denganNya secara pribadi. Memang benar, keselamatan adalah anugerah dan tidak seorang pun dapat mengusahakannya. Namun, hal ini bukan berarti orang tua berdiam diri saja menunggu Yesus datang menjamah anak mereka, tetapi justru mereka perlu memperkenalkan FirmanNya pada anak-anak sejak mereka kecil. Dalam 2 Timotius 3:15 dikatakan, “Ingatlah bahwa dari kecil engkau sudah mengenal kitab suci yang dapat memberi hikmat dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Yesus Kristus.”

Bagaimana kita dapat memperkenalkan Tuhan Yesus kepada anak-anak, bahkan yang masih amat kecil? Bukankah mereka tampaknya belum bisa berespons sebagaimana layaknya seorang dewasa? Bagaimana kita tahu bahwa mereka memahami apa yang kita sampaikan? Berikut adalah beberapa hal yang perlu kita ketahui:

 

1. Roh seorang anak tidak kecil.

Anak-anak hanya dibatasi oleh kedewasaan tubuh dan pikiran mereka, tetapi roh mereka memiliki kemampuan yang sama dengan orang dewasa. Bahkan janin di dalam rahim Elisabet melonjak ketika ia bertemu dengan Maria (Luk. 1:41). Dan dikatakan dalam ayat ke-44, bahwa ketika Maria menyampaikan salamnya, anak yang di dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan.

Orang tua, yakinlah akan otoritas yang ada pada kalian untuk membesarkan anak-anak titipanNya dalam keluarga kalian. Otoritas yang Anda terima bukanlah sekadar peran atau peraturan belaka, melainkan urapan khusus untuk berfungsi sebagai orang tua. Lakukan pengasuhan sesuai dengan kehendak Tuhan dalam perkataan dan perlakuan Anda kepada anak Anda. Bertindaklah selayaknya orang tua bagi mereka, dan jangan biarkan orang lain atau media lain menjalankan peran orang tua bagi mereka. Kita bertanggung jawab kepada Pemilik mereka, dan sudah seharusnyalah kita menjalankan pola asuh kepada anak-anak kita dengan hormat dan takut akan Tuhan.

 

2. Ada metode yang tepat untuk setiap situasi.

Gunakan hal-hal yang konkret untuk anak-anak kecil. Sebelum usia 12 tahun, anak cenderung hanya memahami hal-hal yang konkret. Mereka menyerap informasi dengan kelima indera mereka. Sungguh baik jika kita memperkenalkan Tuhan sebagai Pencipta segala sesuatu dan mengajaknya bersyukur atas semua hal itu dengan menggunakan semua panca inderanya. Bawa anak kita ke luar rumah dan melihat-lihat berbagai bunga, ceritakan betapa indahnya ciptaan Tuhan itu. Ajak dia mendengar kicauan burung dan ceritakan bahwa Tuhan hebat sekali menciptakan burung yang bisa berkicau seperti itu. Berikan buah yang manis untuk dia makan, dan ceritakan bahwa kita bersyukur bahwa Tuhan menciptakan buah yang enak. Kupaslah sebuah jeruk dan biarkan ia mencium harumnya buah tersebut, ceritakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan jeruk dengan harum yang segar. Biarkan dia mengelus bulu anjing yang halus, ceritakan bahwa anjing pun ciptaan Tuhan. Dengan menyampaikannya berulang-ulang dalam berbagai variasi kejadian, anak mengenal Tuhan sebagai Pencipta yang luar biasa dan amat baik. Ajak dia melihat-lihat Alkitab bergambar yang penuh warna. Ceritakan isi Alkitab dengan ekspresif, diselingi lagu, dan penuh gerakan. Libatkan dia, sambil bertepuk tangan, menggelitiknya, melambai, dan sebagainya.

Anak-anak biasanya akan bingung jika “hanya” diajarkan bahwa Yesus ada di hati, bahkan saya pernah mendengar bahwa beberapa anak mengira bahwa rambut Yesus pasti basah terguyur saat mereka minum air. Saya ingat, ketika anak kami masih kecil, waktu itu ada gambar Yesus di dinding rumah kami. Ia bertanya itu siapa? Dan saya menjawab bahwa itu Yesus. Tidak lama kemudian, ketika kami di gereja, seorang teman kami bermain dengannya dan bertanya Yesus ada di mana? Kami orang tuanya berharap jawabannya adalah “Yesus ada di hati saya”, tetapi anak kami langsung berkata, “Yesus ada di rumah”. Ini memang wajar, karena anak akan lebih paham jika diajarkan bahwa Yesus selalu ada bersama dengan dia sekalipun dia tidak bisa melihatNya.

Anak-anak mulai belajar arti dosa ketika mendorong anak lain yang ingin merebut mainannya atau berbohong supaya tidak dimarahi akibat kenakalannya. Ajarkan kepada mereka bahwa perbuatan mereka membuat Tuhan sedih, dan ajak dia berdoa minta ampun kepada Tuhan dan bawa dia meminta maaf kepada anak lain itu.

Ketika mulai bertambah besar, anak mulai memahami hal-hal konkret yang lebih kompleks. Ketika ia mencicipi masakan yang enak, katakan betapa hebatnya Tuhan memberi kemampuan memasak pada orang tersebut sehingga kita bisa menikmatinya. Ketika ia melihat karya seni yang indah, mobil yang canggih, lampu-lampu yang semarak, tarian yang dinamis, katakan bahwa Tuhanlah yang memberi kemampuan kepada setiap orang tersebut sehingga dapat menghasilkan karya yang luar biasa seperti itu. Ajak mereka selalu mengagumi Sang Pencipta, bukan sang ciptaan. Banyak orang mengidolakan sesamanya karena penampilan mereka. Mereka lupa pada Penciptanya.

Memasuki awal remaja, anak mulai memahami hal-hal yang abstrak. Pikiran mereka sudah mampu menghubungkan hal-hal yang tidak konkret. Mereka dapat mengikuti penjelasan tentang karya keselamatan Kristus atas manusia berdosa. Mereka terkagum-kagum pada kasihNya dan kesabaranNya. Pada usia seputar ini, banyak anak mulai mempertanyakan tentang eksistensi Allah. Siapa yang menciptakan Dia? Kapan Dia diciptakan? Di mana surga dan neraka berada? Mereka mulai menghubungkan ilmu pengetahuan dengan Firman. Orang tua perlu banyak membaca dan belajar Firman agar menjadi sumber yang terpercaya bagi anak-anak mereka. Jangan terbiasa menyuruh anak bertanya pada orang lain yang tidak kita kenal. Cobalah pergi bersama dia untuk bertanya pada orang yang tepat dan bersama-sama mendiskusikan jawabannya di rumah atau dalam perjalanan. Jadilah teman diskusi yang menarik untuk anak kita.

Saya ingat seorang dosen saya pernah berkata bahwa untuk dia bisa mengajar 1 jam, maka ia membutuhkan riset pada sedikitnya 10 buku dan tidak terhitung materi daring yang berisi berbagai sisi pro dan kontra tentang topik tersebut. Dengan demikian, barulah ia siap berhadapan dengan mahasiswanya. Ia mengakui bahwa kadang ia bertemu dengan mahasiswa yang lebih kritis lagi sehingga ia harus menunda jawabannya dan meriset lebih lanjut untuk menjawab di sesi kuliah berikutnya, tetapi ia menjalankan semua itu dengan senang, karena tanpa disadari ia terpacu juga untuk lebih banyak belajar dan berbagi. Sebagai orang tua, kita tidak boleh sudah merasa cukup dan berhenti belajar. Miliki hati yang lembut untuk belajar hal-hal yang baru, namun selalu saringlah hal-hal baru tersebut dalam nilai-nilai Alkitab yang teguh.

 

3. Jadilah teladan.

Kita pernah mendengar pepatah dalam bahasa Inggris, “Monkey see, monkey do.” Artinya, apa yang kita lakukan akan ditiru oleh anak kita. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang psikolog bernama Albert Bandura, terbukti bahwa lingkungan seseorang mempengaruhi perilakunya. Anak-anak akan meniru perilaku orang dewasa di sekelilingnya. Dalam salah satu eksperimennya, ia menemukan bahwa seorang anak yang dibesarkan di lingkungan judi akan bermain judi atau sebaliknya, menganggap bahwa judi tersebut tidak baik.

Hal ini memberi kemudahan untuk kita mendidik anak, yaitu dengan memberi teladan pada mereka. Hidupi apa yang kita inginkan mereka hidupi. Misalnya, jika kita ingin anak kita rajin berdoa dan membaca Firman, lakukan hal tersebut ketika anak-anak belum tidur. Tunjukkan pada mereka kegiatan kita. Sebaliknya, apabila kita hidup bertetangga atau bahkan dengan seseorang yang tidak menjadi contoh yang baik, kita bisa jelaskan bahwa hal tersebut tidak baik dan tidak menjadi berkat. Bahkan, kita mungkin akan menemukan beberapa guru di sekolah anak kita atau bahkan pembina di gereja yang berkelakuan tidak terpuji padahal mereka mengajar pelajaran bahkan Firman Tuhan kepada murid-murid mereka. Ajarkan bahwa kita menghormati orangnya, tetapi tidak mengikuti kelakuannya.

Dalam Matius 23:3, Tuhan Yesus memberi kita respons yang tepat ketika berhadapan dengan orang Farisi, “Turuti dan lakukan segala yang mereka ajarkan tetapi jangan turuti perbuatan mereka, karena mereka mengajarkan tetapi tidak melakukan.” Jangan berkata kepada anak kita bahwa kita termasuk golongan Farisi juga, sehingga dengan demikian ada alasan untuk kita tidak bertobat. Sebaliknya, kita justru harus terus bersemangat untuk hidup lebih lagi menyenangkan Tuhan, bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus, sehingga gambar Allah di dalam hidup kita menjadi nyata. Tuhan tentu berkehendak agar kita dikenal sebagai orang yang baik, penuh iman, penuh Roh dan penuh hikmat.

 

Pada akhirnya, teruslah berdoa untuk setiap anak-anak yang Tuhan percayakan kepada keluarga kita masing-masing. Mereka memang akan memasuki masa-masa yang penuh dinamika pada tahun-tahun tertentu, namun jangan merasa gagal atau putus asa. Bersabarlah dan lakukan bagian kita sebagai wakil Allah bagi mereka. Lalui masa-masa tersebut bersama dengan mereka, dampingi dan terus kasihi mereka. Banyak tokoh Alkitab yang mengalami pertobatan justru ketika mereka berada di lembah kekelaman. Samson mengalaminya ketika ia sudah hilang kekuatannya, matanya buta, dan ia bekerja di penggilingan. Yunus mengalaminya ketika ia berada dalam perut ikan. Paulus mengalaminya ketika matanya buta dan ia hanya bisa menunggu Ananias datang melayaninya. Demikian pula, mungkin kita akan melihat anak-anak kita terasa sulit diperingati, kurang ajar, dan sering sengaja melanggar Firman, mengalami hal tersebut. Tampaknya mereka berjalan menjauhi kita, sekaligus langsung masuk ke dalam disiplin Bapa. Disiplin ini mungkin menjadi lembah kekelaman bagi mereka, tetapi ketika didampingi dan pandangannya diarahkan terus kepada Yesus yang penuh kasih dan pengampunan, maka mereka akan mengalami perjumpaan dengan Kristus di masa-masa sulit itu. Mari, lakukan bagian kita untuk mengasuh anak-anak, milik kesayangan Tuhan ini, sesuai kehendakNya sendiri.

2015-12-22T03:41:39+07:00