///Anda Seorang Ayah?

Anda Seorang Ayah?

Kebenaran 2: Menjadi Ayah adalah Proses Pembelajaran
Keahlian menjadi ayah tidak secara otomatis mengikuti kromosom Y yang telah diberikan oleh ayah kita. Tetapi, model seorang ayah yang berada bersama-sama kita sejak bayi, itulah yang akan membentuk naluri alami kita saat tiba saatnya harus berfungsi sebagai ayah.  Sayangnya, dengan angka perceraian yang meningkat drastis selama tahun-tahun belakangan ini, banyak dari antara kita bertumbuh tanpa model ayah yang benar. Namun kabar baiknya adalah bahwa Allah mengajarkan langsung kepada kita bagaimana menjalankan tugas sebagai seorang ayah. Dalam Maleakhi 4:6, dinubuatkan bahwa Allah sendiri akan mengirim hambaNya untuk mengajarkan para pria untuk dapat menjadi ayah yang benar dan Ia telah memberikan kepada kita Roh Kudus untuk menolong kita. Roh Kudus ini menolong bukan hanya supaya kita dapat mengerti Firman Tuhan saja, tetapi dalam Yohanes 14:26 juga dikatakan bahwa “..Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu..” Segala sesuatu maksudnya adalah segala hal yang kita butuhkan supaya dapat hidup sebagai orang benar, termasuk menjadi seorang ayah yang benar. Lalu bagaimana caranya agar kita mendapatkan petunjukNya untuk belajar menjadi ayah yang benar? Yang pertama adalah melalui hubungan kita pribadi dengan Dia melalui doa dan perenungan firman. Yang kedua adalah melalui komunitas sel di mana kita berada, karena Allah juga mengajar kepada kita bagaimana untuk menjadi ayah yang benar melalui saudara kita yang ada dalam komunitas (Kol. 3:16).

Kebenaran 3: Tersedia Mahkota bagi Seorang Ayah
Tugas menjadi ayah yang benar bukan hanya sangat penting dan membutuhkan kerja keras, tapi juga akan memberikan kita mahkota kemuliaan sebagai upahnya. Mahkota kemuliaan mulai disediakan bagi seorang pria yang tengah berjuang untuk menjadi ayah yang benar, terutama justru saat ia harus kehilangan hal-hal yang berharga bagi dirinya demi menyelesaikan tugas sebagai sebagai seorang ayah.

 

Proses ini dialami oleh seorang atlit dayung Amerika Serikat, Bill Havens, yang dipilih untuk bertanding membela negaranya dalam Olimpiade Musim Panas tahun 1924 di Paris. Ini adalah pertandingan dengan kano (perahu lesung), suatu demonstrasi olahraga, di mana para peserta duduk dalam posisi setengah berlutut dan menggunakan sebuah dayung. Havens seorang atlet yang baik, dan setiap orang di negaranya mengharapkan dia dapat membawa pulang medali emas untuk pertandingan ini. Namun beberapa bulan sebelum Olimpiade, Havens mengetahui bahwa istrinya akan melahirkan pada waktu yang berdekatan dengan pertandingan. Ia harus mengambil keputusan: tetap berangkat ke Olimpiade dan menjadi pahlawan Amerika Serikat, atau mendampingi istrinya dan menjadi ayah yang menyambut kelahiran bayinya. Keputusan akhirnya diambil, Bill Havens atlet harapan Amerika Serikat tinggal di rumah, timnya berangkat ke Olimpiade Pares tanpa dirinya. Pada tanggal 1 Agustus 1924, anaknya Frank Havens dilahirkan, empat hari setelah pertandingan.

Olimpiade demi olimpiade musim panas berlalu dan setiap kali Bill Havens mendengarkan hasil pertandingan kano, ia bertanya kepada diri sendiri, apakah ia telah membuat keputusan yang tepat. Namun keraguannya musnah pada tahun 1952, saat diadakan Olimpiade Musim Panas di Helsinki, ketika Havens menerima sebuah telegram. Telegram itu berbunyi demikian: “Ayah yang tercinta…Terima kasih karena telah menunggu saya untuk dilahirkan pada tahun 1924. Saya akan pulang dengan medali emas yang seharusnya ayah menangkan.” Telegram itu ditandatangani oleh “Putramu yang tercinta, Frank”. Frank Havens baru saja memenangkan medali emas dalam olahraga kano sepuluh ribu meter. Bill Havens yang menyadari pentingnya perannya sebagai seorang ayah dan rela belajar menjadi ayah yang benar walau harus bergumul dengan berbagai keraguan, kini telah menerima mahkota kemuliaannya sebagai seorang ayah.

Lebih daripada rasa haru dan kebanggaan karena mendapat peneguhan yang tulus dari anak, kita selayaknya merasa terhormat saat Raja yang Agung berkata, “Sungguh sangat baik, hambaku yang baik dan setia. Aku memanggil banyak orang untuk tugas yang berbeda-beda, tetapi Aku memanggilmu untuk menjadi seorang ayah dan memberikan kepadamu anak-anak ini dan engkau telah membesarkan mereka dengan luar biasa. Terima kasih.”
Disadur dari buku “7 Rahasia Menjadi Ayah yang Efektif” karya Ken. R. Canfield

2019-10-17T16:00:14+07:00