Anger [email protected]

Secara umum, setiap orang sehari-harinya senantiasa berhadapan dengan berbagai situasi yang menyulut amarah, termasuk di pekerjaan. Apalagi, kebanyakan orang menghabiskan 10 – 12 jam waktu setiap hari untuk urusan pekerjaan. Bila Anda belum memiliki keterampilan mengelola amarah (anger management skill), Anda akan terjebak dalam perangkap yang melumpuhkan: bekerja dengan suasana hati yang kesal dan jengkel terus-menerus.

Berikut adalah beberapa contoh pemicu kemarahan yang paling sering muncul dalam konteks pekerjaan:
• Kemacetan sejak kita mulai keluar rumah untuk perjalanan menuju lokasi pekerjaan
• Pimpinan yang cenderung merasa paling pintar dan tidak mau mendengar masukan
• Pimpinan yang hanya mau tahu beres tanpa sama sekali mendukung kita saat ada kendala
• Tim kerja yang berisi banyak karyawan senior yang malas dan tidak produktif
• Janji yang tidak kunjung terealisasi, misalnya dalam hal kenaikan gaji, promosi, atau proyek penting
• Kita dituduh melakukan sesuatu yang menurut pimpinan salah, padahal kenyataannya tidak demikian
• Kita tidak dapat memenuhi ekspektasi pimpinan, karena ekspektasinya itu terlalu tinggi atau terus berubah-ubah
• Pimpinan yang sering mengkritik tanpa memberikan jalan keluar
• Rekan kerja yang sering melanggar tenggat penyelesaian tugas yang disepakati sehingga merugikan kita dalam proses kerja

Terkadang pula, sumber masalah berasal dari luar urusan pekerjaan, yaitu peristiwa atau masalah yang mengakibatkan stres dalam kehidupan pribadi kita sendiri, lalu kemarahan kita terbawa ke situasi kerja. Contohnya, masalah pernikahan atau bahkan perceraian, kematian dalam keluarga, tekanan keuangan, anak yang bermasalah, penyakit serius, atau tekanan-tekanan pribadi lainnya.

Apa pun masalah yang menyebabkannya, perlu diingat bahwa kunci mengatasinya adalah tingkat keterampilan Anda dalam mengelola amarah, bukan ada/tidaknya atau banyak/tidaknya masalah itu. Nah, dalam artikel ini kita akan mempelajari beberapa kiat untuk melatih keterampilan mengelola amarah di lingkungan kerja.

1. Berlatihlah mempraktikkan 2 Korintus 10:5
“Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran 1 dan menaklukkannya kepada Kristus.” (2 Kor. 10:5) – Berlatihlah setiap hari untuk “menawan”/mengunci/mengurung berbagai pikiran negatif yang muncul ketika Anda marah, lalu salibkan pikiran-pikiran negatif itu ke salib Kristus. Anda bisa melakukan hal ini dengan berdoa, memperkatakan Firman, menyembah Tuhan, atau berdiam diri sambil merenungkan Firman, secara khusus saat amarah muncul. Ini adalah praktik yang sangat penting, karena mengembalikan fokus pikiran kita kepada Tuhan, bukan kepada hal-hal atau kemungkinan-kemungkinan negatif yang ada.

2. Selalu lihat sisi positif pada berbagai situasi yang memancing amarah
Dalam setiap situasi yang terasa negatif dan membuat Anda marah, mulailah amati kembali dan temukan sisi positifnya. Inilah yang sebenarnya diajarkan di Filipi 4:8. Contohnya:
• Saya batal/tidak dipromosikan; berarti ada hal-hal dari diri saya yang belum cukup berkualitas bagi pimpinan dan perusahaan dan saya berkesempatan untuk memperbaiki diri dalam kualitas-kualitas itu.
• Rekan kerja saya tidak mendukung ide saya; berarti saya perlu dan berkesempatan mengevaluasi ulang ide itu sambil memperbaiki cara komunikasi dan membangun hubungan lebih intens lagi dengan dia.
• Pimpinan saya mau tahu beres saja; berarti pimpinan sudah mengenali dan memercayai kemampuan saya sepenuhnya dalam bekerja dan menangani masalah pekerjaan ini.

3. Kendalikan respons fisik Anda terhadap kemarahan dengan melakukan hal-hal yang berguna/membangun diri Anda, seperti berolahraga teratur, cukup tidur, dan menghindari makanan yang tidak sehat. Semakin tubuh Anda sehat, semakin besar kemungkinan Anda mampu merespons situasi dengan tepat. Semakin tubuh Anda tidak sehat, semakin besar kemungkinan Anda akan mudah terpicu amarah karena tubuh dan suasana hati terasa tidak nyaman.

4. Tanyakan dengan jujur kepada diri sendiri, “Apakah situasi ini dibawah kendali saya? Apakah saya bisa mengubahnya?” Jika jawabannya “tidak”, Anda tidak perlu mempertahankan masalah itu menjadi kekhawatiran yang memancing dan mengobarkan amarah Anda. Lakukan saja usaha terbaik Anda dan temukan solusinya untuk Anda, lalu biarkan situasinya berjalan dalam kendali Tuhan.

5. Selalu ingat mimpi-mimpi dan tujuan jangka panjang Anda. Jangan terpancing oleh emosi negatif hari ini hingga merusak cita-cita yang sedang Anda bangun. Sebaliknya, fokuskan energi Anda untuk membangun masa depan, bukan pada urusan-urusan yang menguras emosi. Cita-cita dan masa depan Anda yang sedang dibangun hari ini jauh lebih berharga daripada kepuasan emosi Anda hari ini.

Dalam melakukan kelima kiat di atas, ada pula beberapa cara praktis yang bisa kita lakukan untuk meredakan amarah saat itu juga. Cara-cara ini biasa dilakukan dan disarankan oleh para pelatih keterampilan mengelola amarah di berbagai negara:
• Tarik napas dalam-dalam dan keluarkan lambat-lambat (minimal 10 kali),
• Perkatakan kalimat-kalimat positif yang menenangkan (bagi kita, ini berarti memperkatakan Firman Tuhan atau kata-kata lain yang menenangkan yang berdasarkan Firman Tuhan),
• Hitung 1 sampai 10 perlahan-lahan (untuk memberi waktu bagi amarah agar mereda sebelum Anda bertindak emosional),
• Tanyakan pada Tuhan secara pribadi, “Tuhan, bila Engkau ada di situasi ini, apa yang Engkau lakukan? Apa yang Engkau maus saya lakukan?”,
• Dengarkan musik favorit Anda (yang isi pesannya berdasarkan Firman Tuhan juga),
• Gerak-gerakkan tubuh Anda, misalnya bangun dari kursi, lalu berjalan-jalan sebentar atau naik-turun dengan tangga (untuk membuang energi negatif dengan gerakan fisik),
• Jika tekanan nya sudah terlalu berat, carilah waktu yang tepat dan bicaralah dengan seseorang di luar lingkungan pekerjaan (meminta nasihat dari orang yang tepercaya, misalnya pemurid atau rekan sekomunitas sel),
• Bersyukurlah untuk pekerjaan itu dengan sungguh-sungguh (misalnya, dengan mengucapkan rasa syukur Anda kepada Tuhan menggunakan suara yang terdengar).

Kesimpulannya rajin-rajinlah praktekan firman Tuhan sebagai berikut :
Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus ( 2 Korintus 10:5 )
Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu ( Filipi 4:8 )

2019-10-11T11:03:39+07:00