///Anggota Tubuh Kristus?

Anggota Tubuh Kristus?

Lalu, sama seperti tubuh kita yang jika salah satu bagian saja tidak berfungsi sebagaimana mestinya, ia disebut sakit/tidak sempurna, demikianlah juga jika ada anggota yang tidak berfungsi dengan semestinya dalam tubuh Kristus. Secara keseluruhan, tubuh itu menjadi sakit, dan tidak ada gambar Kristus yang utuh yang kelihatan. Sebagai anggota tubuh, masing-masing dari kita saling bergantung satu sama lain, untuk memelihara kesehatan dan keberfungsian seluruh tubuh itu. Setiap anggota tubuh, sebesar atau sekecil apapun, tidak dapat hanya berfungsi untuk dirinya sendiri. Setiap anggota tubuh pasti dan harus memiliki fungsi bagi anggota tubuh lainnya. Inilah keterlibatan kita dalam pelayanan di gereja lokal. Dengan berfungsi, kita memberikan pelayanan kepada sesama anggota tubuh dan kepada tubuh itu sendiri. Karena itulah, sebagai anggota tubuhNya, tidaklah cukup jika kita hanya mementingkan kualitas pribadi kita sendiri saja (berdoa dan membaca firman setiap hari, rajin menghadiri acara ibadah setiap minggu). Kita harus saling melayani. Lagipula, jika kita terpisah dari tubuh Kristus, kita hanya seperti kuku yang digunting, cambang yang dicukur, dan rambut yang dipotong. Siapa yang memerlukannya? Tak seorang pun! Benda-benda itu tidak memberikan kontribusi apa-apa. Hal yang sama juga berlaku bagi karunia-karunia kita. Setiap kita menemukan arti dan fungsi kita sebagai bagian dari tubuhNya.

“Tapi bukankah jika hanya bagian kecil yang tidak berfungsi, tubuh masih bisa dikatakan hidup?”
“Tubuh kita mempunyai banyak anggota. Setiap anggota ada tugasnya sendiri-sendiri. Begitu juga dengan ita. Meskipun kita semuanya banyak, namun kita merupakan satu tubuh karena kita bersatu pada Kristus. Dan kita masing-masing berhubungan satu dengan yang lain sebagai anggota-anggota dari satu tubuh.” (Rm. 12:4-5 – BIS)
Betul, sampai kondisi tertentu, tubuh masih bisa hidup jika salah satu atau beberapa anggotanya tidak berfungsi. Namun, itu berarti anggota-anggota tubuh yang tidak berfungsi tersebut mengalami kelemahan, cacat atau bahkan sudah mati. Dan secara keseluruhan, tubuh itu menjadi sakit, atau bahkan sekarat. Misalnya, otak, jantung, paru-paru, ginjal masih berfungsi dengan baik, tapi bagian tubuh lain (tangan, kaki, lidah, hidung) tidak berfungsi. Jika saya bayangkan, tubuh itu seperti mayat hidup, organ-organ penting memang berfungsi, tapi ternyata karena bagian-bagian lain yang berkaitan tidak berfungsi, tubuh terlihat seperti mati karena tidak berfungsi dengan utuh/sempurna. Ingat, tubuh Kristus di mana kita menjadi anggota ini adalah tubuh Kristus yang sempurna. Semua anggotanya berfungsi dengan baik.

“Oh, jadi masih aman dong, sejauh organ-organ terpenting masih berfungsi? Sebab saya tidak suka dengan si A dan si B di gereja saya. Yah, mereka memang punya fungsi yang penting di dalam pelayanan di gereja. Jadi, biarkan mereka saja yang aktif melayani, toh?”
Dari penjelasan di atas, sebenarnya kita sudah dapat memahami bahwa tujuan kita bukanlah tubuh yang (sekedar) hidup saja, melainkan tubuh yang sehat, berfungsi dengan utuh/ sempurna. Mari kita simak ayat ini: “… Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.” (1 Kor. 12:24) Gambaran ini menyatakan bahwa status kita semua sama, yaitu sesama anggota tubuh Kristus, tidak ada yang menjadi kepala. Hanya Kristuslah yang menjadi Kepala. Jadi memang dalam tubuh Kristus tidak ada yang ‘lebih’, semua anggota adalah orang-orang berdosa yang dibenarkan karena kasih karunia dan diperkenankan untuk masuk ke dalam tubuhNya dan diberi kehormatan untuk berfungsi sesuai talenta/karunia masing-masing di dalam tubuhNya.

Kadang memang ada peran-peran tertentu dalam pelayanan di gereja lokal, yang tampaknya lebih/paling penting, namun firman Tuhan dengan jelas berkata bahwa anggota-anggota yang saling berbeda seharusnya memperhatikan satu sama lain, bukannya menganggap yang lain lebih rendah atau tidak berguna. Hal-hal seperti ini memang seringkali menjadi batu sandungan/alasan mengapa kita enggan berfungsi. Gesekan/konflik yang tak kunjung selesai, kekecewaan karena melihat orang-orang dalam gereja tidak jauh berbeda dari orang di luar gereja, atau mungkin pikiran bahwa lebih baik tidak melayani daripada melayani justru terlalu banyak pengorbanan waktu, tenaga dan emosi/hati. Namun ingat, alasan-alasan tersebut tidak sesuai dengan kebenaran , dan harus diganti dengan cara pandang yang benar. Buang jauh ekspetasi bahwa orang-orang dalam gereja adalah pribadi yang pasti lebih baik dan benar; jangan sibuk saling menilai/menghakimi fungsi pelayanan orang lain, namun pastikan diri kita sendiri berfungsi dengan baik di dalam tubuhNya ini. Karena, keberadaan kita masing-masing, yang sama-sama berdosa, akan saling mengasah dan membentuk pribadi kita semua. Itu sebabnya, firman Tuhan juga berkata: “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.” (Rm. 15:7)

“Ah, tapi saya bukan orang yang memegang fungsi/peran penting. Saya hanya melakukan hal-hal kecil. Saya tidak punya banyak talenta atau karunia. Kalaupun saya tidak ada, gereja masih bisa berfungsi dan berjalan…”
“Kita masing-masing mempunyai karunia-karunia pelayanan yang berlainan. Karunia-karunia itu diberikan oleh Allah kepada kita menurut rahmat-Nya. Sebab itu kita harus memakai karunia-karunia itu.” (Rm. 12:6a)

Tidak akan ada yang tahu pasti dampak dari apa yang masing-masing anggota lakukan. Setiap orang diberi talenta/karunia yang berbeda-beda, dan itu memiliki maksud dan tujuan khusus untuk tubuh Kristus. Apa talenta/karunia Anda? Mungkin di area penggembalaan, atau penginjilan, atau kerasulan, atau pengajaran, atau kenabian. Semuanya bernilai sama bagi Sang Kepala. Sama seperti Yesus telah melakukan bagianNya dari Bapa, kitapun demikian. Lakukan saja apa yang bisa Anda lakukan, sesuai dengan talenta/karunia Anda, dengan kekuatan Tuhan dan untuk menyenangkan Tuhan, bukan untuk manusia. Akan berdampak bagaimana, itu bagian Tuhan. Yang penting kita lakuin bagian kita dengan semestinya, karena kita sudah menjadi anggota dari tubuhNya. Inilah yang akan menunjukkan bahwa kita adalah anggota tubuhNya, kita menjadi cerminan dari Sang Kepala itu sendiri. (dv)

2014-07-24T07:04:47+07:00