/, Bible & Science/Aniaya terhadap Kaum Ilmuwan Kristen

Aniaya terhadap Kaum Ilmuwan Kristen

Berjuang untuk Mempertahankan Kebenaran Alkitab

Yudas 1:3 : “Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.”

Pada umumnya, masyarakat beranggapan bahwa dunia ilmu pengetahuan adalah bidang riset yang terbuka untuk menyelidiki segala teori dan hipotesa, apalagi di dunia Barat yang dianggap menjujung tinggi kebebasan ekspresi, kebebasan untuk berpikir dan kebebasan bertindak. Sayangnya, dalam bidang pendidikan hal itu sama sekali tidak benar, khususnya di dalam pembahasan asal-usul kehidupan versi Darwinisme dan evolusi biologis yang acak dengan versi Desain Intelijen yang mendukung adanya sosok Pencipta. Dalam hal ini, bukan pembahasan dua versi yang terjadi, melainkan perang di dunia akademis.

Rasul Paulus telah menasihati kita (1Tim. 6:20-21) agar mewaspadai tipu daya kuasa kegelapan yang memperalat pengetahuan palsu untuk merusak iman:“Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan, karena ada beberapa orang yang mengajarkannya dan dengan demikian telah menyimpang dari iman.”

Perang Akademis
 Saat menempuh pendidikan pada tahun 1960-an, saya mempelajari ilmu hayat dan paham evolusi ala Darwin. Teori dasar dari paham itu adalah bahwa Darwin telah membuktikan bahwa semua kehidupan telah berasal dari proses kimiawi dan biologis yang mengubah benda mati menjadi benda hidup, kemudian benda hidup itu berangsur-angsur berubah menjadi lebih kompleks sehingga menghasilkan semua jenis kehidupan termasuk semua jenis tumbuh-tumbuhan dan semua jenis makhluk.
Sejak masa-masa itu, saya mengalami dan menyaksikan perang akademis. Dunia ateis yang sangat mendukung paham Darwin adalah golongan yang anti-Tuhan. Mereka melihat Darwinisme sebagai kesempatan untuk membuang Allah dan agama dari kehidupan manusia. Mereka mulai berperang melawan semua ilmuwan yang percaya kepada Tuhan sebagai Pencipta dan mereka berusaha agar orang-orang ini dibuang dari semua institusi dan lembaga pendidikan. Mereka mulai berkata bahwa Tuhan tidak mempunyai peranan apa-apa dalam ilmu pengetahuan. “Rasul” utama gerakan itu di masa kini adalah Dr. Richard Dawkins yang menulis buku The God Delusion, dan “nabi”-nya adalah Dr. Stephen Hawkings yang menulis buku The Grand Design. Mereka berdua sangat anti-Yesus dan anti-Allah. Mereka berusaha untuk membasmi kepercayaan kepada Allah.
Pada tahun-tahun awal 1980-an, saya diundang untuk menyampaikan ceramah di Universitas Melbourne dan di situ saya berhadapan dengan seorang ahli geologi, Professor Ian Plimer. Jelaslah bahwa saya sudah masuk ke dalam suatu perang yang sangat kotor. Pada waktu yang sama saya menulis sebuah buku, Alkitab dan Ilmu Pengetahuan. Saya dibantu oleh Dr. Charles Pallaghy, ahli biologi bidang biofisika dari Universitas La Trobe, Dr. John Leslie, ahli biokimia dari Departmen IVF, Universitas Monash, Dr. Clifford Wilson, ahli paleontologi, Direktur Institut Arkeologi Melbourne dan Dr. Barry Tapp, ahli geologi dari Universitas RMIT. Semua nama ini telah mengalami tekanan dari universitas-universitasnya dengan larangan mengajar jika mereka menolak Darwinisme sebagai mekanisme asal-usul kehidupan. Kalau tidak taat, mereka akan dipecat. Hal ini saya sudah banyak kali alami dan saksikan di dunia akademis.

Kini, kira-kira 30 tahun setelahnya, perang ini semakin hebat dan berbahaya. Kebebasan berpikir, belajar, menulis dan berbicara sedang dicabut secara total di Australia, Amerika dan di tempat-tempat lainnya.
Seorang Yahudi yang sangat terkenal, Ben Stein, diberitahukan tentang tekanan akademis itu dan ia tidak percaya, sehingga ia melakukan riset dengan berbagai wawancara yang akhirnya menjadi film dokumentar yang berjudul EXPELLED, No Intelligence Allowed (DIKUCILKAN, Kecerdasan Dilarang). Film itu bisa dinonton di Youtube dalam Bahasa Inggris.

http://youtu.be/V5EPymcWp-g.

Di awal tahun ini, sebuah film dokumenter ditayangkan di AS, dan film ini menjadi film dokumenter terpopuler kelima di seluruh Amerika. Judulnya yaitu, ‘Expelled: No Intelligence Allowed.’ (http://movies.yahoo.com/mv/news/va/20080423/120899894300.html). Film tersebut memberanikan diri untuk mengemukakan bahwa hirarki lembaga-lembaga ilmiah sedang melakukan aniaya akademis terhadap para dosen dan akademis yang mempertanyakan kebenaran soal paham evolusi. Sebagai bukti, film tersebut telah mewawancara ilmuwan-ilmuwan dan dosen-dosen berbagai bidang ilmu pengetahuan yang sudah dipecat karena mendukung paham Desain Intelijen, suatu paham yang mengemukakan bahwa kerumitan dalam alam semesta dan prinsip saling ketergantungan dalam dunia ilmiah menunjukkan bukti kuat ada pendesain / perancang / Pencipta yang merancang dan menciptakan segala sesuatu, termasuk kehidupan.

Majalah ilmiah yang sangat bagus, Creation, telah menulis artikel tentang film tersebut dan seorang ilmuwan yang menjabat sebagai Direktur Pendidikan The Royal Society di Inggris terpaksa mundur karena ia memberanikan diri untuk mengusul pembahasan tentang Desain Intelijen. Ia adalah seorang profesor yang sesungguhnya percaya kepada teori evolusi namun mulai meragukan bahwa proses itu adalah acak (tak teratur) sehingga ia mengemukakan bahwa sebaiknya mereka memasukkan paham Desain Intelijen (Intelligent Design) ke dalam diskusi mereka sebagai suatu alternatif yang masuk akal.Artikel “Reiss resigns as Royal Society stifles debate on evolution” yang sangat menarik itu, ditulis oleh Andrew Halloway, dapat kita temukan dalam majalah Creation. Majalah ini sangat saya rekomendasikan untuk Anda dapat membaca dalam Bahasa Inggris (lihat situsnya di www.creation.com). Andrew adalah seorang editor, penulis konsultan penerbitan (www.goodnews-paper.org.uk) dan salah satu editor The Delusion of Evolution, suatu buku kecil yang sangat berguna dalam penginjilan (www.newlife.co.uk).

Kaum pengritik terhadap film itu mengklaim bahwa ilmuwan-ilmuwan itu bukan dipecat karena paham Desain Intelijen atau pandangan negatifnya terhadap paham evolusi, namun mereka tidak dapat mengemukakan bukti apapun. Sebenarnya, perbedaan pandangan seorang ilmuwan sedikit sajapun dari paham evolusi yang ortodoks adalah cukup untuk membuat ilmuwan-ilmuwan demikian dipecat. Di Inggris, kita melihat bukti nyata bahwa penyelewengan sedikitpun dalam pandangan paham evolusi dapat penyebabkan seorang ilmuwan dipecat, Profesor Michael Reiss. Hanya beberapa hari setelah mengemukakan pandangan bahwa diskusi Desain Intelijen adalah pembahasan yang berguna di dalam ruang kuliah, dia dipaksa untuk meletakkan jabatannya. Apa kesalahan Profesor Reiss? Ia telah mengusulkan pembahasan Desain Intelijen, biarpun hanya untuk membuktikan kelemahan paham tersebut. (Michael Reiss, “Should creationism be a part of the science curriculum?” The BA Festival of Science, Liverpool, 11 Sept 2008, http://www1.the-ba.net/bafos/press/showtalk2.asp?TalkID=301).

Langsung setelah pandangan Prof. Reiss diumumkan, para ilmuwan ateis menuntut agar dia dipecat dengan mengklaim bahwa dia ingin agar paham penciptaan oleh Allah juga diajarkan dalam lembaga-lembaga pendidikan sebagai alternatif terhadap paham evolusi ala Darwinisme. Sebenarnya, itu bukan pandangan Prof. Reiss. Dr. Reiss adalah penganut paham evolusi. Namun ia berpendapat bahwa siswa/i boleh saja membahas pandangan-pandangan yang berbeda. Katanya, “Ada banyak untung dalam mengizinkan siswa/i mempertanyakan hal-hal di mana mereka merasa buktinya diragukan. Ini bukan ide revolusioner dalam pembahasan ilmiah untuk berusaha sebaik mungkin untuk mengadakan pembahasan sejati.” (James Randerson, Teachers should tackle creationism, says science education expert, Guardian, 11 Sept. 2008, http://www.guardian.co.uk/science/2008/sep/11/creationism.education.) Ia hanya ingin supaya ada diskusi tentang hal itu. Ternyata, diskusi saja pun sudah merupakan ancaman terhadap kaum ateis sehingga mereka melawan dengan gigih. Seharusnya, The Royal Society membela Prof. Reiss terhadap mereka yang memutarbalikkan kata-kata dan motivasi Prof. Reiss. Namun, sebaliknya, mereka juga tunduk kepada tuntutan kaum ateis dan setuju bahwa Prof. Reiss harus meletakkan jabatannya. Dengan demikian The Royal Society mempertahankan posisi ortodoksnya sebagai pendukung evolusi Darwinisme yang berlandaskan keyakinan ateisme. Posisi itu aneh sekali karena pendiri-pendiri The Royal Society pada tahun 1660 adalah ilmuwan-ilmuwan Kristen yang percaya Tuhan sebagai Pencipta dan bahwa proses uji-coba dalam ilmu pengetahuan justru membuktikan alam semesta berfungsi berdasarkan peraturan dan hukum yang konsisten di mana-mana. Salah satu Presidennya selama puluhan tahun (1703-1727) yang sangat terkenal adalah Sir Isaac Newton, seorang ilmuwan Kristen yang sangat yakin Allah menciptakan langit dan bumi dalam 6 Hari sesuai Kejadian 1-2.

Pembahasan yang mempertanyakan paham evolusi ternyata sama sekali tidak diizinkan. Mengapa? Karena ilmuwan-ilmuwan ateis itu ingin melenyapkan kepercayaan tentang ekistensi Allah dan kebenaran Injil sehingga apapun yang bertentangan dengan misi mereka akan dilawan dengan kuat. Bukti-bukti ilmiah yang berlawanan dengan Darwinisme dan paham evolusi tak diizinkan dikemukakan di muka umum. Dr. Reiss sendiri pun dimaki-maki oleh kawan-kawan ilmuwan dan kawan-kawan anggota The Royal Society karena usulannya bahwa topik paham evolusi boleh dibahas dan boleh diperdebatkan. Bukankah hal ini aneh? Bukankah pendidikan bertujuan mengajar siswa/i untuk menyelidiki dan membahas dalam mencari suatu jawaban atau kesimpulan? Ternyata tidak. Kaum ilmuwan penganut evolusi telah menolak prinsip uji-coba dan penyelidikan semua bukti. Mereka lebih suka proses cuci otak karena kebencian mereka terhadap Allah, Firman-Nya, Injil dan kebenaran bahwa setiap manusia bertanggung-jawab kepada Allah. Ini persis sama seperti yang dinubuatkan Rasul Petrus, 2Petrus 3:3-5: “Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.” Mereka sengaja tidak mau tahu…”
Kaum ilmuwan ateis mendukung paham evolusi, seperti Profesor Richard Dawkins, dan mereka menuduh ilmuwan-ilmuwan Kristen malakukan ‘pelecehan anak-anak’ karena mengajarkan bahwa ada Allah yang merupakan Pencipta segala sesuatu dan di akhir hidup semua manusia akan masuk sorga atau neraka. “Dosa” Dr. Reiss adalah menolak pandangan Prof. Richard Dawkins. Dr. Reiss menjawab tuduhan dengan pernyataannya: “Penggunaan istilah ‘pelecehan anak-anak’ merupakan penghinaan dan tuduhan yang tidak tepat. Semua orang yang pernah bekerja dengan anak-anak yang dilecehkan secara seksual atau secara fisik, sebagaimana bidang pekerjaan saya selama bertahun-tahun, akan mengetahui bahwa tuduhan itu adalah salah.” (James Randerson, Teachers should tackle creationism, says science education expert, Guardian, 11 Sept. 2008, http://www.guardian.co.uk/science/2008/sep/11/creationism.education.)

Selanjutnya, sebagai seorang ateis yang paling terkenal, Professor Richard Dawkins dari Universitas Oxford, Inggris., merupakan tokoh yang paling sering dan paling kasar melawan siapapun yang mempertanyakan paham evolusi dengan menyebutnya “goblok, bodoh atau gila.” (Aislinn Simpson and Richard Grey, Creationism should be taught in science classes says expert, Telegraph.co.uk, 12 Sept 2008, http://www.telegraph.co.uk/news/newstopics/politics/education/2798162/
Creationism-should-be-taught-in-science-classes-says-expert.html
). Dawkins tidak suka dianggap salah. Dalam acara ilmiah unggulan BBC yang berjudul Panorama, Dawkins lagi menunjukkan kebenciannya terhadap siapapun yang tidak sefaham dengannya tentang evolusi dengan lagi menyebut mereka “goblok, bodoh atau gila.” Ada banyak ilmuwan lainnya yang juga meragukan paham Darwinisme. Mereka juga sudah mempelajari biologi, kimia, fisika, geologi, paleontologi dll. Ada banyak ilmuwan Kristen yang meraih kerhormatan tanda-tanda jasa belajar tertinggi (1st class honours) dan memperoleh nilai tertinggi di dalam bidang ilmiahnya. Tentunya sulit mencapai prestasi demikian jika memang seseorang itu “goblok, bodoh atau gila”. Namun. menurut kriteria Dawkins yang tidak ilmiah itu, mereka adalah gila karena percaya ada Allah, ada Pendesain yang maha cerdas yang menciptakan segala sesuatu sesuai maksud abadi-Nya.

Lebih dari 700 Ilmuwan Ph.D Menolak Paham Evolusi Darwin
Sejak tahun 2001, lebih dari 700 ilmuwan setingkat Ph.D. telah menanda-tangani surat pernyataan ‘Ketidaksepakatan dengan Darwinisme’ (A Scientific Dissent From Darwinism, http://www.DissentFromDarwin.org). Dan daftar ini adalah terbatas pada mereka yang merasa cukup aman untuk mengumumkan penolakan mereka akan paham evolusi. Ribuan orang lain berdiam diri karena takut akan dipecat dari pekerjaannya. Bukan hanya itu, selain ribuan ilmuwan di sekeliling dunia yang menolak Darwinisme, ada juga ribuan ilmuwan yang secara aktif mendukung kebenaran PENCIPTAAN oleh Sang Pencipta, Tuhan yang Mahabesar! Lihat daftar beberapa ilmuwan dalam daftar internet di situs CMI – http://creation.com/scientists-alive-today-who-accept-the-biblical-account-of-creation.

Perang Terus Berlanjut
Pada bulan Juli 2014, terjadi penganiayaan lagi terhadap seorang ilmuwan yang berpengalaman selama 30 tahun lebih, Profesor Mark Armitage, seorang ahli mikroskopis. Mengapa? Dia dipecat oleh Universitas California (California State University Northridge – CSNU) karena dalam riset ilmiahnya, ia menemukan daging (soft tissue) dinosaurus triceratops, yang menunjukkan bahwa dinosaurus tersebut masih hidup di bumi hanya ribuan tahun lalu dan tidak punah 65 juta tahun seperti biasa diajarkan oleh ilmuwan kaum ateis pendukung paham evolusi! Dr. Armitage telah menerbikan hasil temuan itu di dalam majalah ilmiah yang terkenal, yaitu, Acta Histochemica Journal, supaya hasilnya boleh diuji oleh semua ilmuwan.
Masalah yang sebenarnya adalah, bukti ilmiah yang mendukung Alkitab memang dilawan mati-matian oleh kaum ateis. Apa saja yang mendukung kebenaran Alkitab dan yang mendukung adanya Tuhan sebagai Pencipta akan menjadi medan perang. Kita sebagai orang percaya harus membuka mata kita terhadap serangan-serangan yang tidak ilmiah dan tidak masuk akal yang digunakan untuk menghancurkan kepercayaan kepada Allah. Lihat artikel “University Fires Christian Scientist for Discovery Proving Creationism”, di http://www.charismanews.com/us/44820-university-fires-christian-scientist-for-discovery-proving-creationism 29 Juli 2014, dan “University Fires Scientist After Discovery Challenges Dinosaur Theory”, David Bohon, di http://www.thenewamerican.com/tech/item/18805-university-fires-scientist-after-discovery-challenges-dinosaur-theory.

Bohon telah melaporkan, “Sementara di penggalian formasi Hell Creek di Montana, ilmuwan, Prof. Mark Armitage, menemukan tanduk triceratops terbesar yang ditemukan di tempat penggalian itu. Ketika menyelidiki tanduk itu di bawah mikroskop tenaga-tinggi di CSUN, Armitage tertarik karena melihat adanya daging mentah (soft tissue). Penemuan itu telah mengejutkan anggota-anggota komunitas ilmiah karena menunjukkan bahwa dinosaurus-dinosaurus telah berkeliaran di bumi hanya ribuan tahun lalu dan bukan menjadi punah 65 juta tahun lalu, sebagaimana yang disepakati oleh ilmuwan-ilmuwan.”
Sekarang pemecatan Prof. Armitage sedang dipermasalahkan di Pengadilan Negeri. Menurut dokumen-dokumen di pengadilan, sesaat saja setelah penemuan daging mentah (soft tissue), seorang pejabat universitasnya, Profesor Ernest Kwok, menantang motivasi Prof. Armitage dengan berteriak padanya, “Kami tidak akan mentolirir agamamu di departemen ini!”

Pengakuan Beberapa Ilmuwan Pendukung paham Evolusi
“Para ahli biologi sebenarnya adalah naif waktu membicarakan eksperimen-eksperimen yang didesain untuk menguji coba teori evolusi. Evolusi adalah tak teruji. Mereka mungkin akan menemukan beberapa fakta yang bertentangan dengan hasil yang diinginkan. Fakta-fakta itu tentu akan diabaikannya dan mereka yang menemukannya akan menutupinya karena akan kehilangan donasi-donasi untuk melanjutkan risetnya.” Prof. Max Whitten (Profesor Genetika, 1976-1981, University of Melbourne, Australia)

“Salah satu sebabnya saya mulai mengambil pandangan anti-evolusi ini, adalah karena saya tiba-tiba menyadari bahwa saya sudah bekerja di bidang ini selama dua puluh tahun dan sesungguhnya tak ada satu hal yang dapat saya ketahui dengan pasti. Sangat mengejutkan bahwa seorang bisa disesatkan begitu lama. Jadi selama beberapa minggu belakangan ini saya mempertanyakan pertanyaan sederhana kepada beberapa orang dan beberapa kelompok. Pertanyaannya adalah: Apa Anda dapat memberitahukan saya sesuatu yang Anda ketahui dengan pasti tentang evolusi, satu hal yang pasti benar? Saya sudah uji-coba pertanyaan itu dengan staf geologis di Field Museum of Natural History dan satu-satunya jawaban yang saya terima adalah keheningan! Saya juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada para peserta Evolutionary Morphology Seminar in the University of Chicago, suatu badan ilmuwan evolusioner yang sangat bermartabat tinggi, dan jawaban yang saya terima adalah keheningan panjang sampai ada satu orang yang berkata, “saya tahu satu hal – teori evolusi seharusnya tidak diajarkan di tingkat sekolah menengah!” (Dr. Colin Patterson, Senior Paleontologist, 1981-1998,  British Museum of Natural History, London. Pembicara utama di American Museum of Natural History, New York City).

“Para ilmuwan yang mengajarkan bahwa evolusi adalah fakta kehidupan sesungguhnya adalah para penipu, dan ceritera yang mereka edarkan mungkin merupakan tipuan (hoax) terbesar selama-lamanya!  Dalam penjelasan evolusi kita tidak memiliki bukti sedikitpun.” (Dr. Newton Tahmisian, Atomic Energy Commission, USA.)

“Saya sendiri sudah yakin bahwa teori evolusi, sejauh yang sudah diterapkan, akan menjadi salah satu lelucon terbesar dalam buku-buku sejarah masa depan. Sejarah akan heran bahwa suatu teori yang begitu lemah pembuktiannya dan suatu hipotesa yang sangat diragukan dapat diterima dengan kredibilitas yang dimilikinya.” (Malcom Muggeridge, 1903-1990, seorang cendekiawan Kristen dalam Pascal Lectures, Ontario Canada, University of Waterloo).

“Kita tidaklah sedang berevolusi secara perlahan-lahan, karena dari segala sudut praktis sesungguhnya kita tidaklah sedang berevolusi sama sekali. Tidak ada alasan untuk kita berbikir bahwa kita akan mendapat otak-otak yang lebih besar atau jari kaki yang lebih kecil atau apa saja – kita ada sebagaimana kita ada.” (Stephen Jay Gould, 1941-2002, Professor of Geology and Paleontology, Harvard University)

“Sembilan per sepuluh dari semua pembahasan kaum ilmuwan evolusioner adalah omong kosong semata-mata, tidak berdasarkan pengamatan dan sama sekali tidak didukung oleh fakta-fakta. Museum ini penuh dengan bukti-bukti kepalsuan pandangan evolusi itu. Di seluruh museum hebat ini, tidak ada sesuatu butir pun bukti tentang transmutasi spesies (perubahan spesies dari satu jenis kepada jenis yang lain).” (Dr. Etheridge, Ahli Paleontologi Senior British Museum of Natural History, dikutip dalam The Collapse of Evolution, yang ditulis Dr. Scott Huse)

“Evolusi adalah tak dibuktikan dan tak terbukti. Kita mempercayainya karena satu-satunya alternatif adalah penciptaan khusus, dan hal itu tak dapat kami pikirkan.” (Sir Arthur Keith, seorang ahli Antropologi yang militan anti-Kristen)

Akhirnya semua menjadi nyata. Masalahnya adalah kaum ilmuwan ateis bermusuhan dengan kebenaran Alkitab dan itulah sebabnya kita memerlukan generasi muda untuk memahami kebenaran Firman Tuhan supaya jangan tertipu dengan filsafat dunia. Jika Anda berbakat dalam bidang-bidang ilmiah, jangan takut untuk mempelajarinya dan jadi ahli-ahli di Indonesia yang akan menjadi penyelamat-penyelamat bagi generasi muda Indonesia, bahkan bangsa-bangsa lainnya.

2019-10-11T12:57:38+00:00