//ANTUSIAS ATAU OVER ANTUSIAS?

ANTUSIAS ATAU OVER ANTUSIAS?

Suatu Sabtu di pertengahan bulan lalu, saya harus bertemu dengan seseorang, tepat jam 12 siang di suatu restoran di daerah Jakarta Utara. Ya! Jadwal ini sudah saya masukkan ke agenda sejak jauh-jauh hari. Entah karena hari itu cuaca mendung, atau karena alarm tak sengaja dimatikan (gerakan tanpa sadar akibat mengantuk), atau tidur terlalu malam, atau badan memang terlalu lelah akibat seminggu bekerja membanting tulang, yang jelas rasanya malaaaaas sekali untuk sekedar menyibakkan selimut, turun dari ranjang dan kemudian mandi. Aaahhhhh nanti duluuu ahhh..
(1 jam kemudian)
Walahh… tiba-tiba sudah jam 11.30. Dengan tubuh yang setengah sadar dan (tetap) tak bergairah, mandilah saya sambil terburu-buru. Singkat cerita, akibat kemalasan tersebut kepala saya pusing berat, saya terlambat, menyusahkan orang lain, dan jadwal seharian itu jadi berantakan. Olalaaa..


Kasus 2

Siang itu ketika jam makan siang kantor, waktu rehat bagi para karyawan, seperti biasanya saya mulai membuka-buka situs favorit saya, sebuah situs belanja online yang menjual berbagai macam voucher makanan atau produk dengan harga yang promosi. Dan siang itu, mata saya langsung terbelalak melihat penawaran sebuah produk minuman yang paling saya suka. “Aaaaaaa yeayy mauuuuuuu”. Langsung saya lakukan pembelian 2 voucher atau setara dengan 8 gelas minuman, saking antusiasnya. Lumayan… Murah meriah dan bisa digunakan sampai akhir Juli mendatang.
Malam harinya, saya membuka dompet sambil merapikan beberapa struk-struk yang berkerumunan di dompet, termasuk si bukti pembayaran orderan tadi siang. Daaan……. OH NO!!!!!! Kenapa voucher ini saya order untuk daerah Jakarta Selatan.. Padahal kan seharusnya saya bisa order untuk daerah terdekat rumah saya di Jakarta Utara. Karena” over excited” dan “lebay”, saya jadi tidak mencermati orderan saya, tidak berpikir jernih dan akhirnya salah order….. 🙁


Beberapa tahun yang lalu..

“Apakah Anda ANTUSIAS..?” seru saya dengan bersemangat di depan jemaat gereja kecil di daerah Jawa. Nampak tak satu pun dari orang-orang yang berkerumun itu menanggapi. Hmmm.. Pantang menyerah, saya pun dengan lebih semangat bertanya lagi kepada mereka, “Apakah Anda ANTUSIASSSS??” Mereka tetap tak bergeming, hanya tersenyum kecil. Segera, salah satu teman pun membantu mengambil alih suasana.
“Saudara, apakah Anda senang hari ini?”
“Senaaaaang…….” serempak jemaat berespon.
“Apakah Anda antusias?”
*hening sambil senyum-senyum*
“Apakah Anda mengerti arti antusias?”
“Tidaaaaaaak….” *serempak mereka geleng-geleng kepala sambil tersenyum”
Alamakkkkk…
Peristiwa ketika melayani Ministry Trip di daerah Jawa Tengah itu lucu dan cukup membuat malu. Namun dari kejadian sederhana tersebut, saya tergelitik untuk berpikir lebih, apakah sesungguhnya saya sendiri mengerti makna dari ANTUSIAS?

Masih ingat dengan kisah di kasus 1 & 2? Kejadian yang sungguh bertolak belakang. Saya pernah ada di posisi tidak antusias sama sekali, namun saya juga pernah ada di posisi terlalu antusias. Di kedua kasus itu, apakah semuanya berjalan dengan baik? Nampaknya tidak. Apa yang salah?

Antusiasme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti suatu kegairahan, gelora semangat, enerjik, berapi-api atau minat besar terhadap sesuatu. Ini sejalan dengan makna dari bahasa aslinya, Bahasa Yunani: “en” dan “theos”, yang artinya “di dalam Tuhan”. Maksudnya, antusiasme adalah kegairahan yang timbul karena kita hidup di dalam Tuhan. Sudah barang tentu setiap kita harus memiliki sikap antusias. Roma 12:11 dengan jelas berkata: “Janganlah kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.”

Untuk membuat sebuah lilin menyala tidaklah sulit. Hanya dibutuhkan sebatang korek api kecil, atau pemantik api yang siap pakai. Mungkin hanya dengan kurang dari 5 detik, si lilin dapat menyala. Namun untuk mempertahankan lilin itu tetap menyala, sekaligus agar nyala apinya tetap konstan and tidak terlalu besar, memerlukan usaha. Apalagi bila si lilin ditempatkan di lingkungan yang banyak terkena angin. Ini sama halnya dengan hidup dan pengenalan kita kepadaNya. Alangkah mudah dan cepatnya kita menerima pertobatan atau hal-hal lainnya, menerima “sambaran api antusiasme” dalam berbagai bentuk, namun alangkah sulitnya mempertahankan antusiasme untuk tetap mengalami pertobatan dan pengenalan akan Allah setiap harinya. Apakah kita masih antusias untuk mencapai setiap panggilan hidup, mimpi dan cita-cita kita atau juga bahkan untuk melakukan disiplin-disiplin dalam hidup (misalnya: bangun pagi, membaca Firman, dan lain-lain)? Lalu bagaimana bila saya sudah antusias? Bagaimana supaya saya tidak “terlalu antusias”? Karena, antusiasme yang berlebihan juga tidak baik. Tidak jarang, situasi-situasi di mana kita terlalu antusias membuat kita malah tidak bisa berpikir cermat, melupakan hal-hal yang sebenarnya penting, atau bahkan menjadi “batu sandungan” alias membuat sesama kita tersinggung/terluka.

Hati-hati.. Tanpa sadar, lawan dari ANTUSIAS bukan saja cuek, tapi juga TAMAK alias RAKUS. Antusias yang berlebihan/ekstrim biasanya muncul sebagai efek dari membiarkan semua hal berpusat ke diri kita sendiri. Jangan salah, kelihatannya seringkali memang “rohani”, tapi motivasi-motivasi tertentu perlu direnungkan lebih dalam dengan jujur, jangan-jangan ini semua berpusat kepada diri sendiri. Contohnya: saya ingin kelihatan lebih berapi-api dalam melayani Tuhan, saya ingin lebih berprestasi di dunia pelayanan, saya ingin berhasil puasa tanpa bolong selama 40 hari, dsb. Ingat, antusiasme yang benar adalah karena kita hidup di dalam Tuhan, yang artinya apapun yang ada dalam hidup kita, fokusnya adalah Tuhan. Ketika fokusnya ada pada saya, inilah yang membuat kita lepas kontrol, sehingga tanpa sadar menjadi serakah dalam melakukan berbagai hal (yang, sekali lagi, kadang terlihat baik atau “rohani”). Inilah yang disebut sebagai KETAMAKAN. Tuhan tahu semua ini, dan Ia peringatkan kita di Lukas 12:15: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan…”

Yuk, mulai sekarang belajar melatih diri untuk antusias dengan konstan dan benar. Antusiaslah karena hidup kita adalah di dalam Dia dan milikNya, dan setiap kali antusiasme itu mulai menjadi hambar atau bergeser fokus kepada diri sendiri, renungkan kembali tentang Dia yang adalah pusat dari segala-galanya itu. Karena, antusiasme seperti inilah yang akan menghasilkan buah-buah pekerjaan yang memuliakan namaNya.

2019-10-06T05:05:00+07:00