///Apa yang utama?

Apa yang utama?

Dalam sebuah kesempatan, saya pergi mengunjungi lokasi bekas gedung bermenara kembar WTC New York di AS. Sejak tragedi 911 tahun 2001, dua gedung tersebut hancur karena serangan teroris, yang juga menelan korban jiwa sampai ribuan orang. Kemudian untuk mengenang para korban yang meninggal, pemerintah AS membangun sebuah monumen berupa kubah besar persis di atas salah satu menara WTC yang runtuh. Monumen ini mengambil lahan seluas salah satu menara WTC. Sementara di bekas lokasi menara lainnya, mereka membangun kembali sebuah menara yang berdiri megah. Kini pemerintah AS tidak punya lagi menara kembar WTC yang bisa dibanggakan, tetapi mereka memiliki sebuah menara WTC dan sebuah monumen berupa kubah besar.

Melihat hal ini, saya berpikir bahwa apa yang dilakukan pemerintah AS sebenarnya adalah memilih apa yang utama. Area di sekitar WTC dikenal sebagai area keuangan (financial district) yang nilai lokasinya sangat mahal. Salah satu jalan terkenal di area ini adalah Wall Street, yang dikenal sebagai area kesibukan pasar modal AS yang menjadi acuan pergerakan ekonomi di seluruh dunia. Kalau area bekas reruntuhan menara WTC itu dibangun kembali, pasti mereka akan menghasilkan uang dalam jumlah yang besar dibandingkan hanya dijadikan monumen berupa kubah. Namun, bukan itu yang dipilih oleh pemerintah AS, karena bagi mereka bukan itulah yang utama. Korban jiwa yang meninggal akibat tragedi 911 itu harus dihormati dan dikenang. Menghormati dan mengenang para korban jiwa itu adalah hal yang utama daripada segalanya. Karena itulah mereka rela mendedikasikan lokasi yang sangat prima dan mahal untuk diserahkan dan dijadikan monumen.

Sahabat terkasih, di pertengahan tahun 2018 ini kita mungkin sedang menikmati liburan bersama keluarga, banyak sudah kebaikan Tuhan yang kita rasakan dan nikmati. Kini, mari kita mengambil waktu untuk merenungkan apakah kita sudah melakukan yang paling utama dalam hidup kita? Apa yang utama bagi kita, anak-anak Tuhan, murid-murid Kristus? Kalau pemerintah AS memandang bahwa jiwa-jiwa yang menjadi korban tragedi 911 adalah yang utama, bagaimana dengan kita? Apakah kita memandang jiwa-jiwa yang menjadi korban keangkuhan dunia menjadi yang utama?

Kita perlu melihat di sekeliling kita; banyak jiwa yang haus akan kebenaran. Mereka butuh kita untuk menyatakan kebenaran yang sudah kita terima. Mereka butuh kasih karunia Tuhan yang sudah kita terima. Berapa banyak jiwa yang sudah kita bawa datang kepada Tuhan selama setengah tahun ini. Ini adalah sebuah refleksi bagi kita; apakah memang jiwa-jiwa itu adalah hal yang utama? Ingat, kita bukan saja diselamatkan, tetapi kita juga dipanggil untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Tuhan Yesus lakukan dulu di dunia, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari itu.

Waktu terus bergerak cepat, mari kita kembali fokuskan perhatian kita pada hal yang utama. Rela menyerahkan yang penting dalam hidup kita demi yang utama itu. Mulailah dengan menyerahkan waktu kita. Gunakan waktu yang ada dengan bijak untuk hal yang paling utama, yaitu menjawab panggilan Tuhan dalam hidup kita masing-masing, supaya makin banyak jiwa-jiwa diselamatkan dan mengerti kebenaran. Kiranya Tuhan menyertai kita semua ketika kita hidup di dalam hal yang utama!

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” (Ef. 5:15)

2019-10-11T11:27:33+07:00