///Apakah boleh BER-PACAR-AN ?

Apakah boleh BER-PACAR-AN ?

Satu-satunya cara adalah dengan memeriksa diri apakah keinginan untuk berpacaran adalah keinginan pacaran seperti salah satu atau lebih dari gejala pacaran di bawah ini .
1. Pacaran yang menyingkirkan makna persahabatan dalam suatu hubungan
C.S. Lewis menjelaskan bahwa persahabatan adalah seperti dua orang yang berjalan berdampingan menuju suatu sasaran yang sama. Kepentingan yang sama membuat mereka bersama-sama. Pacaran seperti ini memiliki dasar pemikiran dalam bangun hubungan “saya tertarik kepadamu; oleh sebab itu, mari kita lebih saling mengenal”. Sebaliknya, dasar pemikiran persahabatan adalah, “Kita memiliki minat yang sama; jadi marilah kita menikmati kesamaan minat kita bersama-sama.” Jika daya tarik romantis terbentuk setelah mengembangkan suatu persahabatan, itu adalah bonus tambahan.
Keintiman tanpa komitmen adalah sesuatu yang memperdayakan. Komitmen terbentuk proses persahabatan. Keintiman tanpa persahabatan adalah sesuatu yang dangkal.
Suatu hubungan yang hanya didasarkan pada daya tarik fisik dan perasaan romantis hanya akan bertahan selama perasaan itu ada.

2. Pacaran yang cenderung menyamakan arti cinta dengan sentuhan fisik
Pacaran jenis ini menjadi korban arus budaya saat ini yang menganggap bahwa “LOVE = SEX”. Inilah tahapan pacaran jenis ini sebagai bukti dari pengaruh budaya tersebut.
Pacaran yang dilakukan bukan dengan tujuan untuk saling berkomitmen ( HTS = Hubungan Tanpa Status & TTM = Teman Tapi Mesra ) biasanya dimulai dengan daya tarik fisik atau non fisik (baik, perhatian, peduli dan sejenisnya). Sikap yang mendasari hubungan pacaran ini berasal dari penampilannya.
Selanjutnya, hubungan ini seringkali mengarah pada keintiman ( mis: saling curhat ). Karena pacaran jenis ini tidak menuntut komitmen, maka kedua insan ini terlihat membiarkan kebutuhan-kebutuhan dan gairah-gairah yang muncul di saat itu mengambil peran utama. Pasangan ini tidak saling memandang satu dengan yang lain sebagai calon pasangan hidup atau mempertimbangkan tanggung jawab untuk menikah. Sebaliknya, mereka memfokuskan diri pada tuntutan pada gairah yang muncul saat itu. Dan cara berpikir seperti itu, hubungan fisik pasangan ini dengan mudah akan jadi tujuan utama.
Keintiman fisik seolah-olah bisa membuat dua insan merasa dekat. Padahal sesungguhnya kedekatan mereka hanyalah karena menemukan adanya kesamaan kebutuhan yang mereka miliki saat itu, yaitu hawa nafsu, dan itu adalah DOSA.

3. Pacaran yang cenderung mengisolasi pasangan dari hubungan penting lainnya
Pacaran jenis ini mendorong dua insan saling memfokuskan diri satu dengan yang lain dan orang-orang lain di dalam dunia hanyalah sekedar latar belakang saja, padahal Amsal 15:22 jelas menuliskan “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.” Menjadikan orang-orang lain hanya sekedar latar belakang artinya ruang untuk penasihat sudah ditutup. Jika kita membuat komitmen mengenai kehidupan hanya berdasarkan pengaruh dari satu hubungan, sangat besar kemungkinan kita akan membuat penilaian yang keliru.
Ketidakpedulian untuk mendefinisikan komitmen dalam hubungan pacaran akan langsung menyemplungkan diri ke dalam situasi yang bahaya.
Dalam Passion and Purity Elisabeth Elliot menyatakan, “Jika seorang pria tidak siap meminta seorang wanita untuk menjadi istrinya, apa haknya untuk menuntut perhatian khusus dari wanita itu ? Jika seorang wanita tidak diminta untuk menjadi istri seorang pria, mengapa wanita yang berpikiran sehat mau menjanjikan perhatian khusus kepada pria itu ?” Hiii…ngeri kan, kalau saat kita bubar-an dengan doi, eh..,ternyata kita baru sadar bahwa hubungan kita dengan teman-teman yang lain jadi rusak selama ini.

4. Pacaran yang cenderung mengalihkan perhatian dari tanggung jawab utama untuk mempersiapkan masa depan
Perhatian yang begitu besar dari pacaran jenis ini terhadap ‘CINTA’ (kenikmatan dalam keintiman) biasanya membuat kedua insan dengan mudahnya mengabaikan kewajiban-kewajiban di masa kini baik dalam hal pekerjaan maupun dalam tanggung jawab di keluarga dan pelayanan. Berbagai teguran, nasihat bahkan cemoohan baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi biasanya membayangi hubungan pacaran jenis ini karena hilangnya keteladanan yang selama ini telah dibangunnya.

5. Pacaran yang mengurangi rasa syukur dengan masa single yang dijalani
Allah memberikan kepada kita masa single – satu masa yang tak tertandingi di dalam kehidupan kita dalam banyak kesempatan untuk bertumbuh, belajar, dan melayani – dan seringkali dipandang sebagai suatu kesempatan untuk berhenti dari semuanya itu demi menemukan dan memelihara hubungan dengan pacar-pacar kita. Keindahan yang sesungguhnya dari masa single tidak dapat kita dapatkan dengan cara mengejar kisah cinta dengan orang yang kita inginkan. Kita menemukan keindahan sesungguhnya dengan cara menggunakan kebebasan kita untuk melayani Allah dengan bebas.
Pacaran jenis ini tidak akan membuat orang menikmati masa single yang indah, melainkan justru menyebabkan orang memfokuskan diri pada apa yang tidak mereka miliki.

6. Pacaran yang membuat tidak dapat menilai pasangan dengan wajar
Single yang sungguh-sungguh ingin mencari tahu apakah si doi adalah calon pasangan hidup yang tepat, harus kudu hati-hati deh dengan pacaran yang jenis ini, soalnya pasti rencana jadi gagal. Mengapa ? Sebab secara disadari atau tidak pacaran jenis ini akan menciptakan suatu dunia mimpi bagi dua insan yang sedang bermadu kasih. Akibatnya tentu yang dinilai dari si doi adalah sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasaan yang bukan sebenarnya.

7. Pacaran yang menjadi tujuan dari semua hubungan yang dibangun
Ini adalah alasan dari pacaran jenis ini yang akan menjadi titik akhir dari hubungan yang dibangun selama ini. Karena rasa bahagia karena keintiman yang dibangun itu disebabkan oleh pengaruh hormon neutrophin dan hormon ini jumlahnya hanya terbatas. Seharusnya setelah hormone ini habis digantikan dengan hormon lain yang diproduksi seiring dengan komitmen yang dibangun dalam pernikahan.
Pacaran jenis ini hanya bertujuan menikmati sampai puas rasa bahagia dari hormon neutrophin, akibatnya jika hormon ini sudah habis padahal tidak ada rencana untuk komitmen masuk dalam pernikahan. Maka akan berakhirlah hubungan pacaran ini karena sudah tidak ada chemistry-nya lagi.

Tapi bagaimana caranya supaya bisa berpacaran dengan benar ?
Sabar..cing..nantikan artikel lanjutannya dalam BUILD edisi Mei 2013!

(disadur dari buku “I Kissed Dating Goodbye”, Joshua Harris, Immanuel 2006)

2013-03-27T08:49:39+07:00