///AROGANSI DI DUNIA KERJA

AROGANSI DI DUNIA KERJA

Sama seperti rasa rendah diri atau minder, kesombongan juga memiliki efek sama merusaknya bagi kehidupan. Kesombongan berasal dari perasaan tinggi hati yang matikan. Sikap sombong menuntun orang pada hilangnya keinginan untuk belajar dan ketidakmampuan untuk berubah.
Kesombongan adalah sebuah halangan yang begitu besar bagi keberhasilan dan perkembangan kehidupan seseorang, untuk itu hal ini sangat penting untuk diwaspadai. Seringkali kesombongan mulai tumbuh tanpa kita sadari, dia seperti racun yang dikemas dalam tampilan yang sangat lezat. Ketika memakannya, sepertinya efek racun itu tidak begitu terasa, hingga suatu saat, tanpa disadari kesombongan sudah menghancurkan hidupnya.
Kejatuhan Lucifer menjadi Iblis dimulai dari perasaan “sombong”. Keinginan untuk bebas, terpisah dari lingkaran kasih ilahi. Salah satu kelakuan umat manusia di akhir zaman adalah “kesombongan” seperti yang tertulis didalam 2 Timotius 3:2, “Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama.”

Sudah barang tentu, tidak ada dari kita yang suka bergaul dengan orang sombong, kecuali jika kita memiliki sifat yang sama. Berikut ini adalah beberapa sikap kesombongan yang sering muncul pada orang-orang di dunia kerja atau dunia usaha:

1. SAYA BISA & SAYA TIDAK PERLU TUHAN

 

Kesombongan yang dimaksud ialah kesombongan diri sendiri yang merasa tidak memerlukan bantuan Tuhan dalam meraih apa yang kita inginkan. Banyak program pengembangan diri atau sukses yang mengajarkan kita cara menetapkan tujuan, membuat rencana, dan mengeksekusi rencana, namun mereka lupa melibatkan Allah. Saat kita lupa melibatkan Tuhan, ini adalah bentuk kesombongan kita. Kita merasa tidak memerlukan Allah, padahal tidak ada yang bisa terjadi jika Tuhan tidak menginginkannya. Semua yang terjadi di alam ini, termasuk jatuhnya selembar daun dari sebuah pohon adalah kehendak Allah.

2. SAYA SUDAH PINTAR & TIDAK PERLU BELAJAR LAGI

Ketika kita merasa sudah tahu segala-galanya, disitulah titik awal kita jatuh kedalam kegagalan. Padahal dunia berputar terus, teknologi berubah terus, persaingan dunia kerja semakin keras, lingkungan dimana kita hidup berubah sangat cepat. Contohnya 15 tahun yang lalu, kita tidak mengenal apa yang disebut internet, tetapi hari ini, internet menjadi kebutuhan pokok setiap orang di dunia ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita “dipaksa” harus belajar memakai internet untuk memudahkan pekerjaan kita, termasuk kita juga harus belajar terus menerus berbagai hal untuk menunjang bisnis atau karir.

Sebuah perusahaan yang berisikan para pemimpin yang merasa sudah pintar, lambat laun akan mengalami kejatuhan, akibat lambat didalam meresponi perubahan lingkungan dunia bisnis. Banyak contoh kasus tentang aspek ini. Misalnya Samsung kini menjadi raksasa produk elektronik dunia, meninggalkan Sony yang bertahun-tahun menjadi juara dibidang elektronik. Adapun produk Korea lainnya, Hyundai, kini menjadi produsen mobil keempat terbesar di dunia. Bayangkan, tujuh tahun silam siapa yang memandang Hyundai? Namun, kini produk raksasa ini menyusup jauh ke pedalaman raksasa-raksasa ekonomi dunia. Suka tidak suka, harus diakui, Hyundai sukses menerobos panggung elite otomotif dunia. Mereka unggul atas produsen mobil Italia, Inggris, Swedia, dan Perancis.

3. MENGABAIKAN TANDA-TANDA “KEJATUHAN”
Berakhirnya atau runtuhnya suatu bisnis, biasanya tidak terjadi seketika, pada umumnya ada gejala-gejala yang menyertainya. Seorang ahli manajemen kelas dunia, Jim Collins melalui bukunya yang berjudul How The Mighty Fall, menjelaskan bahwa ada lima tahapan kehancuran perusahaan yaitu : Sikap sombong baik para direksi maupun para manajernya yang sudah menutupi akal sehat pemimpin perusahaan itu.
Akibat kesombongan itu, pemimpin usaha tersebut menjadi tidak disiplin dalam mengambil kebijakan yang tepat dalam membesarkan perusahaannya. Lalai mencermati perubahan lingkungan yang terjadi, lengah didalam mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai arus perubahan yang deras
Ketidakdisiplinan ini berlanjut ke tahap berikutnya yakni pengabaian resiko dan tanda-tanda bahaya yang ditunjukan oleh berbagai data-data laporan perusahaan, angka rasio-rasio analisa keuangan, dsb, dan bahkan masih yakin sekali, bahwa data negatif itu, hanya bersifat sementara (sikap “dont worry & be happy”). Tidak jarang si pemimpin juga mulai menyalahkan pihak lain, perusahaan lain, dan kondisi di luar perusahaan atas kondisi buruk akibat kebijakannya sendiri. Diskusi dengan tim kerja juga mulai berkurang bahkan menghilang di tahap ini, bahkan digantikan keputusan pemimpin yang merasa paling hebat. Akibat akumulasi berbagai hal ini, perusahaan mulai melangkah dan mengambil resiko yang besar, bahkan termasuk resiko yang berbahaya bagi masa depan perusahaan.
Akibat dari pengambilan resiko yang terlampau besar dan tidak terukur, kinerja perusahaan mulai tampak terjun bebas. Kebijakan saat perusahaan terjun bebas inilah, kehancuran atau kebangkitan perusahaan ditentukan. Kejadian inilah yang terjadi pada berbagai merk terkenal dimasa lalu dimana sudah tidak terdengar lagi, seperti Kodak, Fuji Film, Blaupunkt, dsb

4. PRODUK SAYA TERBAIK & TIDAK PERLU INOVASI LAGI

Pada tahun 2008, blackberry, adalah sebuah perusahaan yang sangat mahal sekali, dengan berbagai macam hal yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. BlackBerry memiliki harga yang sangat tinggi untuk dijual. Perusahaan tersebut bernilai seharga sebesar US$84 miliar. Namun keterpurukan yang dialami oleh perusahaan yang memiliki basis di Canada tersebut sekarang telah jatuh dari masa keemasan. Harga jual dari perusahaan tersebut saat ini hanya 4,7 miliar dollar US saja.
Apa penyebabnya? Di tahun 2007, kedatangan iPhone memang seperti tidak memiliki arti dan memberi sedikit persaingan pada perusahaan yang masih bernama Research in Motion tersebut. Bahkan CEO dan co CEO dari BlackBerry menganggap iPhone adalah sebuah ponsel yang tidak bisa berbuat banyak. Selain kelemahan pada baterai yang tidak bertahan lama pada ponsel itu, iPhone juga dianggap sebagai ponsel dengan layar sentuh yang sulit sekali untuk digunakan.
Pada masa itu, memang kebanyakan orang tetap memilih menggunakan BlackBerry. Namun sayangnya BlackBerry dari tahun ke tahun tetap saja sama dan tidak mengembangkan apa yang telah mereka dapatkan. Hal ini berbeda sekali dengan Google ataupun Apple, meski belum begitu meledak pada saat itu, perusahaan tersebut memiliki misi yang sama yaitu akan membuat ponsel sebagai salah satu benda yang memiliki banyak kegunaaan termasuk juga untuk kegunaan hiburan. BlackBerry yang hanya mengandalkan fitur BBM sebagai salah satu alat komunikasi yang paling banyak digunakan saat itu tidak berubah, sementara Google yang membuka kesempatan kepada setiap developer untuk bergabung terus maju dan membuat banyak perubahan. Blackberry merasa produknya yang terbaik, dan tidak bisa digusur oleh siapapun, dan kesombongan ini yang menyeretnya jauh tertinggal oleh para pesaing.

5 MERASA BISA MELAKUKAN SEMUANYA SENDIRI

Kesalahan terbesar yang dibuat oleh para pemimpin atau pengusaha adalah percaya bahwa mereka dapat melakukan segala hal sendiri. Sikap seperti ini memberikan sinyal bahwa orang lain tidak sepandai dia. Ia tidak butuh pendapat atau saran orang lain. Ialah satu-satunya yang punya solusi dan kapasitas untuk melakukan semuanya.
Seorang CEO dari perusahaan Fortune 100 mengatakan, “Success can lead to arrogance. When we are arrogant, we quit listening. When we quit listening, we stop changing. In today’s rapidly moving world, if we quit changing, we will ultimately fail.” (Sukses bisa membuat kita jadi arogan (sombong). Saat kita arogan, kita berhenti mendengarkan. Ketika kita berhenti mendengarkan, kita berhenti berubah. Dan di dunia yang terus berubah dengan begitu cepatnya seperti sekarang, kalau kita berhenti berubah, maka kita akan gagal).
Itulah sisi negatif dari kesuksesan, yakni arogansi. Arogansi muncul saat seseorang merasa diri paling hebat, paling luar biasa, dan paling baik dibandingkan dengan yang lainnya. Penyakit mental ini bisa menjangkiti apa dan siapa saja, mulai dari organisasi, produk, pemimpin, sampai orang biasa. Pengusaha besar Eka Tjipta Widjaja, pernah mengatakan “Engkau ingin berbisnis tetapi sombong?… sudah, pulang tidur saja, engkau tidak berbakat bisnis”. Eka, pendiri sekaligus generasi pertama Grup Sinar Mas, menyadari betul bahwa seorang usahawan memang harus punya sikap, jujur, dan reputasi tinggi. Namun, prinsip bisnis yang paling terutama adalah pengusaha dilarang sombong. Untuk memberi gambaran nyata, ia menyatakan, sombong, apalagi sok tahu, hanya akan mencelakakan si pengusaha.

6. TIDAK SENANG DIKRITIK & DIBERI MASUKAN
Salah satu sikap arogansi pemimpin adalah menginginkan orang lain harus setuju dengan keputusannya, harus setuju dengan kebijakannya dan harus setuju dengan cara berpikirnya. Pemimpin seperti ini alergi dalam menerima ide, saran atau masukan dari anak buahnya.
Liew Kee Sin, CEO SP Setia, perusahaan properti asal Malaysia menegaskan, “Kesalahan banyak orang adalah mempekerjakan terlalu banyak ‘yes man’.” Lebih suka mempekerjakan karyawan dengan mentalitas ‘asal bapak senang’. Kata kunci yang harus dipegang, kata Kee Sin, “Saya memiliki tim yang kuat yang mendukung bisnis saya”. Staf seharusnya juga berani untuk bisa mengatakan: “Pak, Anda salah. Keputusan ini akan berdampak negatif.” Karena seorang pemimpin bukan seorang “superman” yang tahu segala-galanya.

KItab Yesaya 2:11 menuliskan, “Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu”.
Firman Tuhan selalu mengingatkan kita, agar waspada terhadap kesombongan diri. Sudah banyak contoh orang-orang yang jatuh didalam dunia kerja akibat sikap kesombongan dirinya.

2019-10-11T13:06:03+07:00