//Ayo Mulai!

Ayo Mulai!

Hari ini Sabtu, dan seperti biasa, sebelum pukul 6 sore aku dan teman-teman sudah duduk berkumpul dalam komsel. Komunitas sel. Inilah kelompok kami, yang bertemu seminggu sekali di hari Sabtu dan saling berbagi hidup setiap waktu. Jujur saja, sebagai pemimpin komsel aku sangat senang melihat anggota komselku datang tepat waktu, apalagi kali ini kami kedatangan satu teman baru. Meski belum tepat pukul 6, kami sudah memulai perkenalan.

 

“Oke, kita kenalan dulu, yuk. Perkenalkan nama, umur, hobi, dan pelayanan kalian kalau ada! Aku duluan, ya… Halo, namaku Terre, umur 17 tahun, hobi main piano dan nyanyi di kamar mandi, hahaha… Aku melayani di tim Praise and Worship sebagai keyboardist.”

“Hai! Kenalin, namaku Jeje, umur 17 tahun, hobi nonton film dan ngemil… Aku melayani di tim Media, ngedit-ngedit video gitu.”

“Halo!! Aku Bella, umur 16 tahun, hobiku dance Tiktok dan dengerin musik, dan pastinya aku melayani di tim Dance, hehehe…”

“Perkenalkan, gua Theo, umur 17, hobi foto-foto, isengin orang, sama main drum. Pelayanan gua di tim Praise and Worship juga, jadi drummer, dan di tim Dokumentasi.”

Setelah semua anggota komsel memperkenalkan diri, aku mengajak si teman baru untuk berkenalan.

“Oh, iya, salam kenal, semuanya… Aku Clara, umur 16 tahun, hobiku… Em, apa ya… Ngobrol kali, ya. Aku belum pelayanan, nih. Sejujurnya bingung mau pelayanan apa, aku gak punya bakat kayak kalian, hehehe…” kata Clara memperkenalkan diri.

“Mungkin kamu belum temuin dengan spesifik aja, Clar. Tuhan gak mungkin ciptain manusia tanpa bakat,” sahut Jeje.

“Iya sih… Aku kepengen kayak kalian, punya skill khusus gitu. Sayang, aku belum nemu, nih,” Clara menjawab lagi.

“Tenang aja, pelan-pelan kamu pasti bisa berfungsi sesuai karuniamu, kok! Kami juga bakalan bantu kamu buat temuin itu. Nah, kenapa pas perkenalan aku minta buat sebutin hobi dan pelayanan kalian, karena hari ini kita akan bahas hal itu!” kataku dengan penuh semangat untuk segera memulai sharing Firman hari ini.

Memang, hari ini aku ingin membahas karunia. Aku sendiri juga belajar dari beberapa khotbah yang kudengar akhir-akhir ini, bahwa penting sekali untuk setiap anggota komunitas jemaat berfungsi sesuai karunianya masing-masing. Bukan cuma di dalam kegiatan dan perkumpulan gereja, tetapi juga di luar dalam kegiatan kita masing-masing bersama semua orang.

Guys, salah satu kunci pertumbuhan gereja itu sebenarnya melayani dengan karunia masing-masing, lho! Kita ini ‘kan anggota Tubuh Kristus. Komunitas kita, gereja kita, adalah Tubuh Kristus, dan anggotanya memang berbeda-beda fungsi. Kalau semua anggota Tubuh Kristus mau bergerak bersama dan melayani sesuai fungsinya masing-masing, seluruh gereja akan bertumbuh menjadi semakin berkualitas. Kalian pasti sadar, setiap orang punya bakat dan karunia yang berbeda-beda. Ada yang jago di bidang musik, ada yang berbakat dance, pintar ber-acting, ahli fotografi, dan macam-macam lainnya. Gak kebetulan lho setiap orang punya karunia yang berlainan; Tuhan gak iseng ciptain manusia yang asal unik, tetapi Dia punya maksud dan rencana di dalam keberagaman itu. Coba bayangin kalau semua orang di dunia ini cuma jago nyanyi… siapa yang main musik, siapa yang nyiapin acara, siapa yang ngefoto? Nah… karena itulah masing-masing orang diberi karunia yang berbeda-beda, supaya bisa saling melengkapi dan bekerja sama,” kataku menjelaskan.

Hmm… tapi kelihatannya pelayanan di ibadah gak ada yang cocok sama aku. Semuanya butuh skill khusus di bidangnya, gimana, dong?” Clara kelihatan bingung sambil bertanya.

“Eits, jangan salah! Karunia gak hanya bisa diaplikasikan dengan melayani secara teknis di ibadah. Kemampuan memimpin, mengajar, menasihati, itu juga bisa dilakukan di kehidupan sehari-hari. Kita juga udah lakukan ini di komsel. Kalau ada anggota yang jatuh dalam dosa atau melakukan kesalahan, kita bisa saling menasihati dan mengingatkan. Atau, ada juga karunia doa, dan kita lakukan dengan mendoakan sesama teman di komsel atau orang lain yang belum percaya Tuhan kalau dia mau didoakan. Aku sebagai pemimpin komsel juga sedang melayani dengan karuniaku. Oh ya, ide-ide yang kamu punya juga termasuk karunia! Misalnya kamu punya ide bikin macam-macam permainan untuk acara 17 Agustus di sekolahmu atau kegiatan tukar kado saat acara Natal… Kalau di gereja ini berarti kamu bisa bergabung ke tim Creative Ministry atau tim Content Creator. Atau… kalau kamu suka menulis, kamu bisa jadi berkat lewat tulisanmu, menulis untuk media di sekolahmu atau media umum, atau majalah gereja…” aku melanjutkan penjelasanku.

“Wah, ternyata melakukan karunia tuh bisa macam-macam bentuknya, ya… Gak harus di acara ibadah gereja aja!” sahut Clara yang mulai tampak bersemangat.

“1 Korintus 14:12 berkata, ‘Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun jemaat.’ Setiap karunia yang kita miliki harus kita pergunakan untuk membangun orang lain, alias melayani, pertama-tama di dalam jemaat, alias di gereja. Kalau tadi Clara bilang hobinya ngobrol, mungkin aja Clara sebenarnya bisa jadi MC, atau tim yang bertugas menyambut dan ngobrol-ngobrol sama sahabat baru. Banyak banget caranya dan kesempatannya. Dengan melayani juga, kita bisa saling membangun dan memaksimalkan diri untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Terus, selain di gereja, yang sama pentingnya juga ditulis di Matius 5:13-16, ‘Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.’ Sudah jelas, karunia digunakan untuk membangun orang lain, termasuk untuk menerangi dan menggarami dunia. Memberkati orang-orang yang belum percaya Kristus di sekitar kita. Kamu gak harus jadi pemimpin komsel atau pengkhotbah untuk bisa melayani, gak perlu menjadi ketua tim pelayanan untuk menggunakan karunia yang kamu punya. Percayalah, lakukan aja hal-hal sederhana yang jadi kekuatanmu dan minatmu, untuk tujuan memberkati orang lain… Itu artinya kamu sudah belajar jadi terang dan garam!” kuselesaikan penjelasanku dengan mengutip dua bagian penting dalam Alkitab.

Jeje, yang sejak tadi sambil ngemil rupanya memperhatikan ekspresi Clara saat mendengarkan penjelasanku, menambahkan dorongan semangat. Selain jago mengedit video, Jeje memang rajin menyemangati orang. Itu salah satu karunianya; orang-orang biasanya jadi bersemangat untuk melakukan sesuatu yang baik setelah mendengar ucapan Jeje.

“Setuju banget! Maka dari itu, penting banget untuk menemukan apa yang menjadi karunia kita masing-masing… termasuk kamu, Clara! Kalau belum menemukan karunia, kamu bisa minta bantuan teman-teman komsel untuk memperhatikan dan memberi tahu kamu sambil kita belajar dan tumbuh bersama di komsel. Kamu juga bisa mulai mencoba hal-hal baru yang bisa kamu lakukan. Kalau karuniamu itu sudah ketemu, melakukannya juga pasti jadi sukacita di hatimu. Aku juga sudah mengalaminya, kok. Aku paling suka ngemil dan nonton film, dan aku juga suka menyemangati orang. Kalau aku ngedit video untuk gereja sambil ngemil, apalagi videonya bercerita soal inspirasi atau kesaksian keren tentang pekerjaan Tuhan mengubah kehidupan orang, aku jadi berlipat-lipat semangatnya! Hahaha… Kamu juga bisa, Clara. Kamu coba aja banyak melakukan hobi ngobrol itu, pasti deh pelan-pelan kamu jadi bisa maksimal melayani dan membangun orang lain lewat obrolanmu, di gereja maupun di sekolah dan di rumahmu! Kamu ‘kan juga garam dan terang dunia, Tuhan pasti akan bekerja lewat karuniamu. Oh ya, gak ada karunia yang lebih dibutuhkan atau karunia yang kurang dibutuhkan, lho… Gak ada yang lebih penting atau keren daripada yang lain. Semua karunia nilainya sama dan harus saling melengkapi. Ayo mulai, Clara!” Jeje terus berbicara tanpa berhenti mengunyah cemilannya.

 

Yes, Terre dan Jeje benar. Hidup berfungsi sesuai karunia adalah kebenaran Firman Tuhan yang perlu kita lakukan, karena Tuhan memang ingin kita saling membangun sekaligus menjadi terang dan garam bagi dunia. Hari Sabtu ini, Clara jadi mengerti nilai dirinya dan hal-hal baik yang bisa dia lakukan untuk memberkati orang lain. Bagaimana dengan kamu? Ayo mulai!

2023-08-30T09:58:07+07:00