//Ayo Pergi!

Ayo Pergi!

“Waaahhh… bagus banget ya, khotbah tadi!”
“Iya! Baru kali ini aku bisa fokus dengerin khotbah. Untung onsite… Biasanya kalau ibadah online, aku suka ngantuk, hahaha…” “Sama banget, banyak gangguan gitu kalau di rumah. Iya yah bener, untung gereja kita udah bisa ibadah onsite!”
“… … …”

 

Hari ini, untuk pertama kalinya aku dan kedua sahabatku menghadiri pertemuan ibadah Minggu secara onsite di gereja kembali selama pandemi Covid-19. Setelah ibadah selesai, Christy dan Klara terus mengobrol seru sambil menuruni anak-anak tangga. Sementara itu, aku hanya melamun dan termenung.

“Oi, Fi! Kok ngelamun gitu? Kenapa?” tanya Klara kepadaku. Klara memang benar, aku sedang sibuk dengan sesuatu di pikiranku… Setelah menghela napas, kuputuskan di dalam hati untuk bercerita kepada Klara dan Christy tentang sesuatu itu.

 

Sejujurnya, selama mendengar khotbah tadi, hatiku sangat gelisah. Kakak pembicara tadi mengatakan bahwa orang yang beriman kepada Kristus harus mengerjakan visi-Nya di dunia ini untuk menuai jiwa, dan ucapannya itu membuat hatiku langsung tertusuk. Dia juga bilang, menuai adalah hal yang urgent untuk dilakukan sekarang, apalagi jika ada banyak orang di sekitar kita yang belum mengenal Kristus. Saat itu, aku langsung teringat pada kedua orang tuaku di rumah. Mama sih, sudah percaya Kristus… tetapi hidupnya masih sangat perlu dipulihkan. Papa… hmm, masih belum percaya sungguh-sungguh kepada Kristus. Bahkan kalau kupikir-pikir lagi, banyak sekali orang lain di sekitarku yang belum mengenal kebenaran, belum punya Kristus, dan hidupnya perlu dipulihkan. Pokoknya, perkataan Firman di khotbah hari ini ngena banget, deh! Hatiku bergejolak dengan rasa yang sulit kujelaskan. Aku ingin hidup mereka semua dipulihkan; aku ingin mereka segera mengenal kebenaran Kristus. Namun masalahnya, aku sendiri juga masih perlu dipulihkan. Aku masih suka dendam, masih terikat dosa, masih suka menikmati berbagai kesenangan dunia… Mana sanggup aku menuai jiwa? Rasanya sungguh tak mungkin!

 

Perasaan dan pemikiran Fiona ini sebenarnya bukan pengalaman Fiona saja. Kita semua pasti pernah atau akan mengalami yang sama. Apa kata Tuhan tentang hal itu?

Matius 9:37 menunjukkan perkataan Yesus, “Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: ‘Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.’” Lihat deh, ada dua “peran” di sini: tuaian, dan pekerja. Yang menjadi pertanyaan pentingnya, kita ini tuaian atau pekerja? Kalau kita masih suka menaruh dendam, bermain-main sama dosa, tidak taat kepada Firman Tuhan, ini berarti kita masih menjadi tuaian, yaitu orang-orang yang belum mengenal Kristus dan belum hidup mengikut Kristus. Padahal, kita yang sudah mengenal Kristus sudah seharusnya hidup mengikut Kristus. Kita bukan lagi tuaian! Kita sudah dimenangkan dari semua cara hidup yang lama oleh darah Kristus saat Dia menjadi korban bagi kita sampai mati di salib, lalu pengenalan akan Kristus bekerja mengubah kita. Perhatikan saja, bukankah ada perubahan-perubahan baik yang kita alami sejak kita mengikut Kristus? Nah, kita yang sedang terus diubahkan Kristus ini sekarang dipanggil untuk menjadi pekerja Allah dalam menuai jiwa. Tuaiannya banyak, meski pekerjanya sedikit, dan kitalah sebagian dari pekerja-pekerja itu.

 

Kita semua tahu, tuaian di luar sana memang sangat banyak dan kondisinya “urgent” untuk dituai. Banyak orang jelas sekali mementingkan ego sendiri, sulit untuk mengampuni, tak mampu mengasihi, rajin memfitnah, suka menyakiti atau memanfaatkan sesama, tidak peduli akan keberadaan Tuhan, dan rakus dalam bermain dengan rupa-rupa dosa. Sebagai pekerja, kita harus mulai dari hati kita sendiri dulu. Pastikan isi hati Allah dalam perkataan Yesus itu, yang tak tahan soal pentingnya dan urgent-nya orang-orang itu untuk dituai, menjadi isi hati kita juga. Gali kembali kepedulian dan belas kasihan yang tulus kepada orang-orang itu. Kita ini adalah anak-anak Allah yang dikasihi-Nya, maka kita sudah pasti punya kasih yang sanggup mengasihi orang lain. Plus, kita ditunjuk dan dipercaya untuk menjadi pekerja-pekerja Allah yang menuai. Mengasihi adalah sebuah tindakan, yaitu kita pergi menjangkau orang-orang itu karena kita tidak mau mereka terus berada di dalam kondisi mereka; kita ingin mereka juga menikmati kasih dan kondisi hidup yang baru oleh Kristus.

 

Lalu, bagaimana caranya menuai jiwa?

Sesungguhnya, ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menuai. Prinsipnya, menuai berarti membawa kasih, kebenaran, dan kuasa Allah kepada orang yang membutuhkan semua itu hingga dia jadi mengikut Kristus. Singkatnya, menjadi berkat. Kalau kamu sudah menemukan orang-orang yang termasuk calon tuaian itu, lakukan saja berbagai hal sederhana yang memberkati mereka sesuai kebutuhan mereka, dan ajari mereka melakukan kebenaran yang sudah kamu terima dari Kristus. Pekalah terhadap kebutuhan mereka sekaligus terhadap tuntunan Roh Kudus di dalam hatimu. Kamu bisa mendengarkan keluh kesah atau permasalahan mereka, menemaninya dalam masa mereka sendirian dan kesepian, mendoakan mereka, memberi kepada mereka apa yang mereka sedang butuhkan sesuai dengan kapasitasmu, menemani mereka belajar untuk ujian sambil menyemangati mereka untuk tidak mencontek, mengajaknya mengikuti ibadah atau pertemuan lainnya bersama komunitas seiman, hingga memuridkan mereka. Segala tindakan kasih dan berkat yang kita tunjukkan kepada orang lain bisa membawanya menuju pemulihan, lho! So, sebetulnya tidak ada alasan untuk kita tidak menuai. Setiap murid Kristus pasti punya ladang tuaian di sekelilingnya dan punya modal serta cara untuk menuai, asalkan kita tetap menjaga relasi pribadi yang kuat dengan Dia. Makin kuat relasi kita dengan Kristus, makin kita mengenal pribadi-Nya sebagai Allah itu, makin mirip isi hati kita dengan isi hati-Nya, dan makin mudah kita meneladani apa yang telah Dia lakukan dan kerjakan selama di dunia. Alhasil, kita jadi mampu menunjukkan kasih Allah kepada orang lain dengan berbagai cara kreatif dan sambil bersukacita, bahkan tindakan kasih kita itu menjadi efektif berbuah-buah, yaitu orang itu turut merasakan kasih yang tanpa syarat tersebut dan jadi mengenal Kristus.

 

Nah… Tuaian sudah jelas melimpah, dan cara serta kesanggupan untuk menuai pun telah disediakan bagi kita. Selanjutnya, kapan sih kita harus mulai menuai? Sekali lagi, menuai adalah urusan “sekarang” dan “urgent“. Yohanes 4:35 berkata, “Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.” Apa maksudnya? Ungkapan “empat bulan” di sini sebenarnya menunjukkan sikap para petani yang cenderung santai karena masa menuai masih empat bulan lagi. Namun, Tuhan mengingatkan para murid-Nya bahwa di sekeliling sudah banyak ladang yang menguning dan siap untuk dituai. Tidak perlu menunggu “musim” menuai itu datang “empat bulan lagi”, misalnya kalau ada masa atau program penjangkauan di gereja atau kalau si calon tuaian meminta pertolongan kita; menuailah sekarang juga! Mana ladang tuaianmu dan siapa calon tuaianmu? Mungkin saja, yang harus kita itu adalah keluarga kita sendiri, atau mungkin sahabat, teman, saudara, supir, nenek-kakek, atau bahkan barista di kedai kopi kekinian favorit kita… Yang jelas, setiap orang pasti memiliki ladang tuaiannya masing-masing dan harus mulai menuai sekarang juga. Ini bukanlah masa untuk bersantai-santai, melainkan masa untuk para pekerja sudah harus siap menuai. Percayalah bahwa setiap pribadi calon tuaian itu, bukan sebuah kebetulan bahwa mereka ditempatkan di dalam kehidupan kita. Jika sekarang ini mereka belum mengenal Kristus, sebenarnya di dalam roh mereka ada kebutuhan besar akan Kristus, yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita masing-masing. Kitalah yang harus menjadi penuai, memperkenalkan dan membawa mereka pada kasih dan kebenaran yang sejati di dalam Kristus.

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28:19-20)

 

Menuai jiwa adalah tugas kita sebagai orang beriman dan sebagai murid Kristus, yang harus kita lakukan sekarang juga. Jangan takut bingung atau tak mampu, karena Yesus menyertai kita senantiasa sampai zaman ini berakhir dan menyediakan upah di surga bagi kita. Yuk, siap pergi dan menuai sekarang juga!

2022-01-26T09:20:21+07:00