///Bagaimana Kabarnya?

Bagaimana Kabarnya?

Bagi kalangan Tionghoa di Indonesia secara umum, tentu sudah menjadi tradisi bahwa ketika hari raya Imlek tiba, keluarga-keluarga berkumpul dan kerabat saling mengunjungi, terutama menuju kediaman pihak-pihak yang dituakan dalam keluarga besar. Tahun ini, perayaan Imlek baru saja lewat di bulan Februari lalu. Sejak malam sebelum hari-H Imlek, banyak keluarga makan malam bersama, lalu keesokan harinya saat tepat hari-H Imlek mereka saling mengucapkan salam dan doa untuk tahun baru yang penuh kelimpahan dan kesejahteraan. Seperti saat hari-hari raya lainnya, dalam keriaan perayaan Imlek banyak kerabat dan anggota keluarga yang sehari-harinya jarang saling bertemu menjadi saling bertemu. Mereka saling bertegur sapa, memberikan ucapan selamat, memberikan angpao sebagai ungkapan kasih dan memberkati, serta saling bertukar cerita.

Pertanyaan yang sering muncul ketika kita bertemu dengan orang yang sudah lama tidak bertemu adalah, “Bagaimana kabarnya?” Pertanyaan ini umumnya dijawab dengan “kabar baik” atau “biasa saja”. Rasanya, jarang ada orang yang memberikan jawaban “tidak baik” atau semacamnya, karena mereka biasanya secara otomatis ingin memberikan respons positif atas pertanyaan itu.

 

Sebagai anak Tuhan, tentu kita pun menerima pertanyaan yang sama. Lalu, bagaimana sebenarnya kita harus menjawabnya? Apakah kita jawab saja baik-baik meskipun kondisi kita sedang tidak baik, atau malah kita katakan saja blak-blakan bahwa kondisi kita sedang tidak baik jika memang kenyataannya sedang tidak baik? Apakah kita harus selalu berkata baik-baik saja meskipun “berbohong”, atau bolehkah kita “melemahkan” orang lain dengan berkata kita tidak baik-baik saja?

Kebenaran Firman Tuhan sebenarnya berkata bahwa apa pun kondisi dan keadaannya, kita harus bersorak-sorai, karena Tuhan. Menurut Firman Tuhan, kondisi kita tidak ditentukan oleh keadaan manusiawi kita, tetapi aman karena hidup kita ada dalam perkenan dan kasih Bapa. Kondisi dan keadaan apa pun sesungguhnya tidak akan mengubah posisi kita sebagai anak yang diperkenan Bapa dan dikasihi-Nya.

 

Nah, bagaimana jika kondisi kehidupan kita memang sedang dilanda masalah, dan kita merasa tidak baik-baik saja? Memang, perasaan dan jiwa kita bisa bergejolak karena situasi yang tidak selalu ideal atau sesuai dengan keinginan kita. Selama hidup sebagai manusia di dunia, kita masing-masing tidak terlepas dari masalah dalam keluarga, masalah dengan anak, masalah keuangan, masalah pekerjaan, masalah bisnis, masalah kesehatan, atau masalah apa pun lainnya. Namun, Roh Allah yang sempurna itu tinggal di dalam kita dan akan meneguhkan kita bahwa kita adalah anak Bapa. Ini berarti Dia mengingatkan kepada kita bahwa kita diperkenan dan dikasihi oleh Allah Bapa sendiri. Inilah yang layak menjadi pegangan hidup dan iman kita, yang terus kita percaya sebagai anak Tuhan, sehingga kita tahu kita akan tetap baik-baik saja karena Bapa menjaga kita untuk tidak celaka atau binasa. Di tengah-tengah masalah-masalah yang sedang dialami, kita bisa memiliki respons yang sesuai dengan kebenaran ini. Semua masalah yang dialami tidak akan membahayakan kita, karena Tuhan terlebih besar dari segala masalah yang kita hadapi. Bersatu jalan para musuh itu datang menyerang, tetapi bertujuh jalan mereka akan lari dari hadapan kita. Artinya, semua masalah itu akan meninggalkan hidup kita dan hilang pada waktunya.

Firman Tuhan di Habakuk 3:17-18 juga meneguhkan kita, “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.”

 

Menurut penanggalan bulan, yang digunakan oleh kalangan Tionghoa, tahun baru Imlek ini membawa kita memasuki tahun naga kayu. Banyak orang berharap di tahun naga kayu ini kehidupan akan menjadi lebih mudah, lebih baik, dan lebih semuanya. Selain itu, kita pun akan lebih kuat dalam mengarungi perjalanan hidup ke depan. Semua harapan itu baik, tetapi seharusnya bagi kita anak Tuhan, apa pun tahunnya, apa pun kondisi dan keadaannya, kita berpegang teguh dalam iman akan kasih Bapa yang tidak tergoyahkan itu. Kita bisa dan layak untuk tetap bersorak-sorai. Secara pribadi, saya sendiri makin mantap untuk menjawab setiap pertanyaan “bagaimana kabarnya?” dengan “saya baik-baik dan selalu bersukacita, karena Bapa berkenan atas hidup saya”.

 

Setelah merenungkan kembali kasih Bapa, saya makin diteguhkan dalam pengertian bahwa kemenangan yang sesungguhnya adalah berdasarkan kasih dan kemurahan Bapa saja, bukan dari kemampuan dan kekuatan saya sendiri, apalagi dari kondisi dan keadaan di sekitar. Bahkan dalam kondisi dan keadaan yang tersulit sekalipun, saya tahu senantiasa ada keindahan dan kemenangan dari Bapa yang siap dinyatakan.

“ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.” – Habakuk 3:19

2024-02-27T15:06:05+07:00